Bab 5 DAPATKAH QUSAYY MENIPU?

http://prophetofdoom.net/Prophet_of_Doo … Scam.Islam

“Qusayy memperoleh hak sbg juru kunci Ka’abah lewat sekerat anggur dan sebuah kecapi.”

Terisolir adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan tanah Arab jauh sebelum kelahiran sang nabi. Walaupun peradaban Mesopotamia (Irak sekarang) dibagian timur dan peradaban Yahudi dibagian barat Arab tumbuh dengan suburnya, selama 35 abad peradaban2 itu gagal berakar di padang gurun Arab.

Image
http://upload.wikimedia.org/wikipedia/c … rnamap.png

Di kota-kota Mesopotamia yang legendarislah ditemukan penemuan terbesar manusia, yakni bahasa tertulis. Saat tibanya abad 7 M, bangsa Sumeria, Babilonia dan Assiria sudah selama 5000 tahun menggunakan huruf paku untuk memproklamirkan berbagai penemuan mereka di bidang sains, matematika, astronomi, hukum, kedokteran, pertanian, arsitektur, seni dan religi.

Image
http://knp.prs.heacademy.ac.uk/essentia … ormscript/

TAPIII dikala itu, tanah Arab tetap terisolasi dan mandek – wadah budaya yang cocok untuk penyebaran Islam. Dekatnya daerah miskin dengan budaya-budaya besar ternyata menciptakan masyarakat yang gampang menipu dan ditipu.

Walau peradaban kita saat ini dibangun oleh budaya Babilonia, Assiria dan Sumeria, kita sampai saat ini masih dihantui oleh agama-agama mereka. Dua doktrin religius bernada politis berkembang dari warisan budaya ini – agama Katolik Abad Pertengahan dan Islam fundamentalis. Selama 1000 tahun kekuatan yang paling berpengaruh bukanlah negara tetapi agama. Ritual kedua doktrin tersebut dipraktekkan pertama kali di kuil-kuil Babilonia. Banyak simbol-simbol, festival serta doktrin Katolik berakar pada kebiasaan masyarakat ini. Natal, Paskah, perayaan jelang Paskah, kependetaan, pengakuan iman, dan pemujaan Bunda Maria adalah contoh-contoh tata cara saat ini yang dipinjam dari kaum pagan di masa lampau. Demikian pula dalam Islam. Allah adalah Sin, dewa bulan dari Ur. Juga surga dan neraka Qur’an diimpor dari sumber yang sama.

Kenyataan ini tertera pada goresan huruf paku (cuneiform) di keping tanah liat yang kemudian menjadi hieroglyph di sepanjang sungai Nil dan alfabet di pantai timur Mediterania. Melalui tulisan di kuil Karnak diketahui bahwa dewa-dewa pagan seperti Bulan Sabit Subur yang berkembang di Mesir, di kemudian hari muncul lagi di Yunani, lalu Romawi. Adapun Kanaan mempunyai kisah berbeda. Tuhan mereka tidak seperti tuhan lain. Dipandang dari sisi kebendaan, Ia adalah Roh. Dilihat dari sisi jumlah, Ia satu. Dibanding kepercayaan dewa-dewi masa lampau yang menggunakan simbol astronomi, Ia bersifat personal, dekat, dikenal. Namanya Yahweh. Umatnya adalah Israel. Bersama-sama mereka mendokumentasikan kisah-kisah sejarah dan hubungan mereka. Dalam hal penyampaian kisah-kisah yang banyak beredar ini, masyarakat Yahudi yang berdiam di gerbang barat tanah Arab memainkan peranan penting.

Percabangan jalur kisah dimulai ketika seorang pemuda bernama Abram meninggalkan pemujaan pada dewa Sin. Dalam perjalanan yang penuh bahaya, ia, istrinya yang cantik Sarai, ayahnya Terah, serta keponakannya Lot, meninggalkan tanah Ur-Kasdim menuju baratlaut. Melintas semenanjung Arab, menelusur sungai Efrat hingga tiba di kota Haran. Disana, saat ayah Abram meninggal, dewa sesembahan ayahnya, Sin, dewa bulan dari Ur, masih dipuja. Tetapi selanjutnya, lewat perintah oleh suatu Sumber yang bahkan lebih tinggi dari bulan dan dewanya, Abram, Sarai dan Lot meninggalkan kenyamanan hidup di sungai besar itu menunju tanah Kanaan – Tanah Perjanjian.

Dalam kisah termashur yang pernah diceritakan, Abram menjadi Abraham, bapak segala bangsa. Pada usia 90, ia menjadi ayah Ismael lewat budak istrinya yang berasal dari Mesir dan dengan demikian Abraham melahirkan benih Islam. Sepuluh tahun kemudian pada usia 100 tahun ia menyaksikan kelahiran ajaib Ishak yang dijanjikan pada Sarai, namanya berubah menjadi Sarah. Ishak menjadi anak perjanjian yang melalui keturunannya akan lahir para nabi dan pemimpin: Yakub, Yosua, Musa, Salomo, Esau, Daniel, Yeremia, dan 2000 tahun kemudian, Yahshua, yang dikenal sebagai Yesus dari Nazareth. Kisah Bible ini ditakdirkan berperan penting dalam percaturan sejarah, di tanah paling diperebutkan di muka bumi, tepat di titik persimpangan benua.

Kisah drama besar yang menggambarkan bangkitnya peradaban dan kepercayaan ini tentunya mengusik masyarakat Arab. Jejak budaya, sains, bahasa, religi, hukum dan seni bagi mereka terbawa angin gurun. Sejarah orang Kasdim, Assiria, Babilonia, Persia, Mesir, Yunani dan Romawi semuanya terjalin dengan keturunan Abraham melalui Ishak, bukan Ismail. Seakan masyarakat Arab berada di sebuah pulau terpencil, terdampar waktu. Begitulah keadaan Islam, sebuah agama yang begitu steril (hampa) yang hanya bisa berkembang pada pikiran dan tempat yang sama steril-nya.

Masyarakat Arab buta huruf selama ribuan tahun, itulah sebabnya sedikit yang kita ketahui tentang mereka. Itulah juga sebabnya begitu sedikit yang mereka ketahui tentang dunia sekitar mereka. Bahasa mereka berasal dari bahasa Aramaik, bahasa dominan di paruh awal milenium sejarah. Arab tidak menggunakan alat tulis atau pena selama seratus generasi. Hingga era Muhammad, kurang dari satu diantara seratus orang Arab dapat menulis. Bahasa Arab klasik yang kelak digunakan Qur’an pada saat itu baru berkembang di Syria/Siria/Suriah.

Kaum Badui di padang rumput Siria hidup sbg nomad (berpindah2) karena tanah mereka terlalu miskin untuk membangun kota. Arab (berasal dari kata arid/kering) terdiri atas suku-suku yang tak memiliki peradaban dominan. Banyak upaya penaklukan semenanjung Arab gagal karena lingkungan yang keras, kondisi yang justru meningkatkan keingin-tahuan pihak luar akan masyarakat ini. Selama 3000 tahun mereka tidak ditaklukkan, tidak pula menjadi penakluk, karena menundukkan kaum Badui macam ini sama dengan menjinakkan kucing. Kaum Babilonia, Assiria, Mesir, Persia, Yunani dan Romawi semua gagal. Bukan karena Arab biadab tetapi karena mereka mendambakan kebebasan dan menghargai kedamaian. Selama 3000 tahun catatan awal sejarah, masyarakat Arab termasuk masyarakat yang paling damai dan mandiri. Hanya di 1400 tahun terakhir ini mereka menjadi teroris. Garis pemisahnya adalah Islam. Muhammad telah merusak mereka. :snakeman:

Ilmuwan Islam menggambarkan periode pra-Islam, yang disebut Jaman Jahilliah/Jahiliyyah atau Periode Kegelapan/Kebodohan dengan sangat buruk. Mereka menjelekkan masyarakat2 Arab sebelum Islam, untuk membuat masyarakat Islam yang lahir berikutnya-–yang tak diragukan paling bodoh dan brutal dalam sejarah-–tampak baik. Tapi bukti yang ada mengenai cara hidup dan budaya masyarakat sebelum Islam ini, menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak bodoh. Dan malah masyarakat Arab (pra-Islam) sendiri di abad 7, tidak seperti keturunan mereka di abad 21 ini, adalah orang-orang yang bebas, cinta damai yang menghargai nilai-nilai kekeluargaan dan keterikatan antar suku.

Bergantung pada mata air, sebagian besar suku Badui hidup dengan menanam pohon korma, menggembalakan ternak, menyamak kulit atau berdagang dng karavan/kafilah. Tanah kering mereka dikenal dengan unta-unta dan ruang terbuka yang luas. Terhalangnya awan hujan oleh pegunungan di Syria, Israel, Yordan dan bagian barat Arab, seakan mengolok tanah kelahiran Muhammad.

Kondisi alam inilah yang membuatnya sulit ditembus. Jalan-jalan yang memungkinkan tentara Babel, Asyur, Persia, Mesir, Yunani, dan Romawi menaklukkan dan mengendalikan sebagian besar wilayah dunia sulit untuk dibangun dan mustahil untuk dipertahankan. Tak ada gunanya. Secara kasat mata, tanah tandus ini tak bernilai. Hanya berfungsi sbg laut kering yang beguna untuk melintasi barang-barang dari produsen ke konsumen. Tapi karena Semenanjung Arab dikelilingi laut, mengitarinya jauh lebih mudah daripada melintasi gurun. Tanah dambaan Muhammad adalah gurun tandus, tempat yang dilupakan waktu.

Sedikit demi sedikit masyarakat Arab tahu ttg kejadian dunia sekitar mereka. Dari waktu ke waktu mereka mendengar tentang dewa-dewa Nimrod dan Babilonia. Dewa-dewa serupa berkembang di Mesir, Yunani dan kawasan2 Romawi. Mereka mencampur rupa manusia dan hewan, menjelmakannya menjadi objek pemujaan yang menaikkan derajat penguasa menjadi dewa. Mereka yang dianggap rasul2 Tuhan merangkai skema2 yang didesain
agar rakyat tunduk, membayar (pajak) dan patuh.

Di abad ke-7, masyarakat Arab juga mendengar tentang dua agama monoteis besar. Kisah2 kaum Yahudi, bapak mereka Abraham, dan Tuhan mereka Yahweh, lazim terdengar. Musa dikenal sebagai pembebas terbesar, Daud dan Salomo sebagai raja. Setelah pengasingan mereka ke Babilonia, banyak kaum Yahudi menetap di tanah Arab, khususnya di kota oasis, Yathrib. Mereka bilang kepada kaum Badui bahwa mereka berasal dari keluarga yang sama. Taurat mengakui Arab dan Yahudi sebagai keturunan Abraham. Arab ditelusuri garis keturunannya lewat Ismael. Pengakuan lugu akan kenyataan bahwa pewaris sah dari anak perjanjian Yahweh adalah Ishak, putra Sarah, dan BUKAN Ismael—anak haram seorang gadis budak—-kelak terbukti jadi ancaman besar.

Kaum nomad Arab juga tahu tentang agama Kristen, yang walau bersifat damai tapi merupakan kekuatan paling berpengaruh di dunia beradab di abad ke-6. Sementara ajaran Kristen memenangkan banyak pengikut di Mesir, Romawi, Yunani dan Persia, justru di Arab orang Kristen mengalami penganiayaan luarbiasa – bukan oleh Arab, tapi justru oleh Yahudi bernama Dhu Nuwas yang memegang tampuk kekuasaan di Yaman. Akibat dibayangi ketakutan, agama Kristen hanya tinggal menjadi bisik-bisik samar dibanding ajaran Yahudi. Terlebih lagi ajaran “tampar pipi kanan, kasih pipi kiri” tidak cocok untuk masyarakat yang mengutamakan balas dendam demi ketertiban. Demikianlah masyarakat Arab terjebak antara monoteisme Yahudi/Kristen di barat dan berbagai kepercayaan dewa-dewi Mesopotamia di timur.

Keterikatan pada suku dan keluarga membuat kaum nomaden ini tetap membumi. Karena terlalu sedikit yang diatur, maka tidak diperlukan penegak hukum dan undang-undang. Pertikaian antar suku kerap terjadi, namun terselesaikan dengan cara qisas – kambing ganti kambing. Mereka benci pengkhianatan dan kebohongan. Dalam pertempuran, kehormatan lebih penting dari kemenangan. Tak terpikir untuk menaklukkan suku lain. Mereka tidak pasif tapi juga tidak agresif. Untuk bertahan hidup di gurun pasir sudah merupakan sebuah pertempuran tersendiri.

Hukum Hammurabi yang ditulis 2500 sebelumnya, dipraktekkan secara mentah/literal. Pembunuhan dibalas dgn pembunuhan, pencurian dengan pencurian, hinaan dengan hinaan. Untuk mendukung perdagangan dibentuklah aliansi antar suku oleh tokoh pedagang besar yang punya kapasitas politis. Mereka lebih militan dari para kepala suku. Kadangkala mereka mengobarkan pertempuran demi mendapat harta jarahan dan kekuasaan. Persis nabi Islam, mereka mendapatkan pengaruh lewat ujung pedang.Sir John Glubb, yang mempelajari Islam dan menghabiskan hidupnya di tanah Arab berkata, “Sifat-sifat macam ini penting bagi karir Muhammad. Sang nabi menjadi orang yang punya otoritas militer dan politik, sehingga suku Badui tak begitu melihatnya sebagai utusan allah tapi lebih sebagai kepala pedagang besar.” Para kepala suku terpikat menggabungkan klan mereka dengan gerakan Muhammad karena di-imingi harta gemulai aduhai yang melimpah.

Orang Arab cenderung menyukai tahyul dewa-dewi dan kecanduan akan puisi – faktor yang penting dalam pembentukan Islam. Puisi yang dikembangkan kaum Hanif menjadi bahan utama agama Muhammad. Kaum Hanif yang monoteis percaya bahwa mereka mewarisi ajaran Abraham. Awalnya, Muhammad mengikut mereka, menyebut agamanya Hanifisme. TAPIii begitu ia ingin merebut kekuasaan, Muhammad mengganti nama agamanya menjadi “tauhid” dan mengobarkan perang kata, lalu perang pedang untuk menyerang orang-orang yang telah menginspirasinya.

Menarik bahwa semua nilai-nilai positif yang nampak pada tuhan Ar-Rahman di ke-40 surat awal al Qur’an merupakan bagian dari nilai-nilai Badui dan kepercayaan Hanif yang mempromosikan perlindungan pada pihak yang lemah, amal, serta perbuatan baik. Sayangnya, kebanyakan ayat damai ini kemudian dibatalkan, sesuai keinginan Muhammad. Allahnya menjadi pendendam, paranoid, penipu, sangat mesum dan kasar. Allah menjadi alter ego Muhammad – menyatu dan tak terpisahkan.

Sewaktu bangsa Arab masih menyembah banyak dewa, tidak terjadi penganiayaan atas nama agama, dan monoteisme menyebar dengan cepat diantara para pemuja polytheisme. Sejumlah besar Yahudi, bagian keturunan dari masa pembuangan Babel 20 abad sebelumnya, tinggal dengan aman di kota yang telah mereka bantu pembangunannya, masyarakat pertanian subur Yathrib, yang sekarang disebut Medinah. Jumlahnya mereka sekitar 30ribu-an – jumlah yang cukup besar mengingat keringnya tanah yang mereka tempati.

200 mil selatan Yathrib, terletak Mekah, di lembah berbatu yang sempit dan kering dengan lebar 1/4 mil dan panjang 1 1/2 mil. Gunung di kedua sisinya berbatu kasar dan kering kerontang. Tak seperti Yathrib, Mekah tandus. Tidak ada cukup air untuk memulai pertanian. Tak ada pohon dan
rumput untuk peternakan sangat minim. Perkampungan terdiri dari pondok-pondok yang dibangun dari tanah lumpur. Tak ada batu cetak atau batu bata, bahkan bata buatan tangan yang sering ditemukan di berbagai belahan dunia tak ada disini. Dalam hal ini Mekah tertinggal selama 3000 tahun.

Atap rumah tak ada karena tak ada kayu. Karena tak ada kayu, maka tidak ada tukang kayu. Kaya atau miskin semua merasakan tiupan pasir dan angin panas yang menyengat. Tiap pondok merasakan udara gurun yang panas menyengat disiang hari dan dingin menusuk di malam hari. Ekspose pada panas dingin ini beanr2 menusuk badan dan memang tidak ada tempat yang lebih buruk daripada tempat ini. Bila Yerusalem dan Israel diumpamakan jantung dan pembuluh aorta dunia, Mekah dan Arab adalah debu diantara jari kakinya. Bukan bermaksud meremehkan tetapi ini memang gambaran kekontrasan antar kedua tempat tersebut.

Bangunan paling menonjol di Mekah adalah Ka’abah, sejenis kuil dimana Allah, si dewa bulan, berbagi tempat dengan berhala seperti Hubal. “Rumah” mereka berupa kubus dengan empat dinding kasar, terbuka tanpa atap di abad ke-6, yang hampir saja roboh akibat gravitasi dan banjir. Bahan bangunannya dan berhala-berhala yang tersimpan didalamnya sama bentuknya, keduanya berupa batu kasar dan tidak di-olah. Dewa Hubal hanyalah sebentuk batu. Sulit membedakan mana yang dewa dan mana yang batu bangunan.

Glubb berkata, “Menarik bahwa sebagian besar berhala Arab tidak mengambil bentuk manusia sebagaimana dewa-dewi Yunani dan Romawi…. Para penyembah berhala dari abad manapun akan menyangkal bahwa mereka menyembah patung, melainkan kata mereka, mereka berdoa pada roh yang berdiam didalamnya. Bahasa Arab memiliki suatu kata untuk batu yang diyakini sebagai tempat tinggal dewa. Banyak orang Arab percaya bahwa mencium dan mengusap batu seperti itu akan membawa berkat.” Dan seperti kita semua ketahui, mencium dan mengusap Batu Hitam Allah (hajar aswad), adalah sebuah ritual yang dilakukan Muhammad secara teratur dan dengan penuh hormat.

Terlepas dari Ka’abah, Mekah bukanlah apa-apa. Terisolir, kota kecil yang dihuni sekita 5000 jiwa yang tak menghasilkan atau menumbuhkan apapun. Jarak tempuh ke daerah Mediterania yang beradab sangat jauh dan keras. Kapal-kapal melintas ke barat, karavan-karavan ke timur. Mekah dikuasai suatu klan suku yang licik, Quraysh, klannya Muhammad. Yang kita ketahui ttg mereka semata-mata berdasar Tradisi lisan Islam, pelaporan dari mulut ke mulut.

Sejarah Quraysh yang paling dipercayai diperoleh dari kitab suci Islam adalah sbb: suku Khuza’a dari selatan mengusir klan Jurhum dari tenda-tenda perkemahan yang disebut Mekah sekitar 400AD. Tabari mencantumkan: “Kaum Jurhum berlaku buruk, mencuri persembahan yang disajikan di Ka’aba.” Mereka bertindak ‘sewenang-wenang.” Ishaq sepakat: “Kaum Jurhum sering bertindak dgn kekerasan, melanggar tabu, bertindak seolah Ka’aba milik mereka. Pertempuranpun terjadi dan suku Khuza mengusir klan Jurhum dari Mekah.” Warisan Jurhum adalah: “dua rusa Ka’aba dan sebuah batu pondasi yang mereka kubur di sumur Zamzam. Mereka mundur ke Yemen dengan rasa pahit karena kehilangan kontrol atas Ka’aba.

Mengapa kehilangan kontrol atas sebuah kuil bobrok yang didedikasikan untuk dewa-dewa berbentuk batu tsb sampai begitu mendukakan mereka? Jawabannya memiliki dampak jangka panjang, yang bahkan dirasakan di sisi lain dunia, 14 abad kemudian dengan runtuhnya dua menara besar di New York (911).

Dari sisi keuntungan, Ka’aba, Mekah dan Quraysh berada di jejeran tempat yang paling tidak penting di muka bumi, disebuah dunia yang penuh dengan pemuja berhala buta huruf, pondok lumpur dan kuil batu. Tetapi, berkat kecerdikan Qusayy dan keberanian Muhammad, Mekah, Ka’aba dan Batu Hitamnya menjadi raison d’etre (justifikasi keberadaan) Islam, yang pada akhirnya menjadi musuh paling bengis dunia beradab.

Kalaupun kitab suci Islam sebagian akurat, Allah dan Ka’aba mendahului Muhammad sebanyak lima generasi. Bukan Muhammad yang menciptakan mereka. Juga bukan dia yang membuat ritual pagan, perayaan, bulan suci, puasa, sholat, zakat dan ibadah haji yang menguntungkan secara finansial. Di bab sebelumnya, kita membaca bagaimana Bible dirubah (Muhammad) untuk membungkus Allah, Ka’aba, Mekah dan ritual-ritual pagan Islam jadi suatu agama. Tetapi jauh lebih penting adalah ‘mengapa’. Untuk memahami apa itu Islam, pertama-tama kita harus memahami motivasi Muhammad membuat suatu doktrin monoteistik baru dari sekumpulan ajaran pemuja berhala kuno. Kita harus mengetahui mengapa ia memasukkan ritual-ritual kasar tsb dalam agama barunya. Karena wahyu yang diklaimnya hanyalah idenya sendiri, pastilah ada sesuatu yang menginspirasinya untuk memulai bisnis promosi batu.

Ya, Muhammad dan para penduduk Mekah menyembah batu. Tak ada pengrajin, seniman dan peralatan, sehingga mereka tidak mampu membuat patung-patung elegan seperti berhala-berhala lain. Batu-batu yang dianggap paling menarik dijadikan dewa-dewa. Batu yang paling besar menjadi dewa Ka’aba, yakni Allah. Berbentuk oval, berwarna coklat-kemerahan gelap. Tetapi Allah adalah dewa yang retak. Se-iring berlalunya waktu serta perlakuan yang kurang baik, Allah terpecah menjadi tujuh keping yang dirangkai bersama. Pecahan-pecahan yang mendapat pemujaan luar biasa tersebut hanyalah berupa potongan-potongan kecil yang bila digabungkan hanya berukuran 11 x 15 inci. Saat ini, pecahan-pecahan tsb diletakkan di sudut tenggara Ka’aba, empat kaki dari permukaan tanah. Tapi Allah bukanlah kumpulan mineral biasa. Sama halnya dgn dewa Islam lain, yi. Ar-Rahman, Allah memiliki masa lalu pra-Islam. [….]

Kultus thp batu bukan sesuatu yang tak lazim dan tak berbudaya. Bahkan orang Yunani punya kebiasaan memuja batu. Apollo pernah diyakini sbg meteorit di Delphi. Tempat pemujaannya dianggap pusat bumi. Robert Charroux , dalam buku ‘Masters of the World’ menjelaskan, “Helenius, putra Priam dan seorang peramal kenamaan Yunani, bisa meramalkan masa depan menggunakan batu yang diberikan padanya oleh Apollo. Untuk mengetahui putusan para dewa, ia menggerak-gerakkan batu di atas kepalanya sembari membaca mantra-mantra. Batu tsb lantas berbicara dengan suara samar yang aneh memberitahukan ttg masa depan…,” Dan 1000 tahun kemudian, Muhammad juga mengindahkan panggilan batu serupa.

Tapi Batu Hitam ini dan Rumahnya sama sekali tidak istimewa. Ada banyak kuil pemujaan semacam itu yg disebut tawaghits yang tersebar di seluruh tanah Arab. Pengikut mempersembahkan korban dsb kpd batu pilihan mereka sambil bersujud, berdoa dan berthawaf mengelilingi kuil2. Hal lazim dilakukan saat haji dan umrah pada bulan suci. Bagi yang mencari berkat dari Batu tsb biasanya mengusap diri mereka pada batu tsb dan menciumnya dengan takzim.

Kitab Islam membenarkannya: Ishaq:38 “Setiap rumah memiliki patung yang mereka sembah. Mereka akan mengusap batu tsb untuk keberuntungan. Ketika Allah mengutus Muhammad dengan ajaran monoteisme. Kaum Quraysh berkata: ‘Apakah ia menggabungkan banyak dewa menjadi satu dewa? Ini aneh.” Sayangnya bagi Islam, gabungan banyak dewa palsu tidak menjadi jaminan satu tuhan yang sejati.

Ishaq:38 “Bersamaan dengan Ka’aba, orang Arab mengadopsi Tawaghits, yi kuil-kuil yang dipuja seperti Ka’aba. Juga ada juru kuncinya masing-masing. Mereka biasa thawaf mengelilingi kuil-kuil tsb.” Menurut kitab Islam, Allah adalah salah satu dari sekian banyak batu berhala, Ka’aba adalah salah satu dari sekian kuil batu pagan. Thawaf adalah salah satu dari sekian upacara pagan. Ishaq:38 “Al-Lat berada di kuil Tawaghit di Fa’if yang dipuja seperti halnya Ka’aba.” Ishaq:38 “Luhayy meletakkan Al-Uzza di Tawaghit Nakhla. Setelah mereka menyelesaikan Ka’aba untuk Haji, lalu mereka mengelilingi Al-Uzza. Kaum Quraysh menyembahnya. Manat disembah oleh kaum Aus dan Khazraj di Yathrib.” Orang-orang yang berdoa pada Al-Uzza dan Manat, Ishaq:39 “mencukur kepalanya dan menyelesaikan semua ritual terkait ibadah haji.” Mereka adalah kaum pagan. Bagaimana ritual ini menjadi bagian dari Islam dan mengapa?

Umat Islam menjalankan ritual yang sama. Batu Hitam, Rumahnya, bersujud, mencium, thawaf, bercukur, ibadah haji, umrah, dan bulan-bulan suci entah bagaimana bermigrasi dari kepercayaan berhala ke Islam ortodoks dengan cara mengkorupsi kitab Yahudi. Kisah yang paling sering diceritakan yi. Muhammad dan Allah mengklaim bahwa Abraham menghancurkan semua berhala yang lebih rendah sehingga kaumnya akan beralih ke SATU berhala yg paling besar.

Sebuah berhala dari batu kwarsa disembah di Tabhalah, kota oasis yang berjarak tujuh hari perjalanan dari Mekah. Sad adalah dewa batu di wilayah Juddah sepanjang Laut Merah, barat Mekah. Ishaq:39 “Banyak orang Arab menyembah berhala bernama Dhu’l-Khalasa. Kaum Himyar memiliki kuil yg disebut Ri’am. Ruda adalah kuil Banu Rabi’a. Dhu’l-Ka’abat milik Banu Bakr. Bahira adalah anak kuda (sesembahan) kaum Sa’iba. Hami adalah nama kuda jantannya. Wasila adalah domba betina. Muhammad berkata, ‘Allah tidak membuat Bahira, Wasila atau Hami. Dan mereka yang tidak setuju, kemudian menciptakan kebohongan.”

Kita diberitahu bahwa kaum Azds dan Nabatean bersujud pada “Dhu’l-al-Shara dalam kuil suci di Petra.” Ia adalah dewa gagah diatas sebuah batu persegi besar, serasi dengan kuilnya yang elegan. Sama seperti Allah, Dhu’l-al-Shara adalah sebuah batu coklat kemerahan. Pemujaan sejenis dewa bulan dapat ditemukan di Marib, Hureidha, dan Tayma. Il Umquh adalah dewa bulan kaum Sabean di Marib. Di Hureidha, dewanya adalah Sin, dinamai sesuai nama dewa bulan kaum Chaldean di Ur. Raja Babilonia terakhir, Nabonidus, membangun sebuah tawaghit di Tayma untuk dewa bulannya selama pengasingan. Dewa bulan Mekah, Allah, bisa dikatakan, berada di jantung negeri para pemuja dewa bulan.

Bukhari: V6B60N374 “Kami berada dalam rombongan Nabi di pertengahan bulan purnama. Dia memandang bulan dan berkata, “Kalian akan melihat Tuhanmu sebagaimana kamu melihat bulan ini.’” Penghormatan pada bulan ini tidak mengada-ada sama sekali. Di Pasal 8 Hakim-hakim (dalam Injil), tercantum referensi berumur 3000 tahun: “Kaum Ishmael menggantungkan ornamen bulan sabit pada leher unta-unta mereka.” Jadi, kalau sekarang kau melihat bulan sabit mendekorasi mesjid dan bendera, kau mengetahui bahwa kecintaan Arab pada bulan telah berlangsung selama tiga puluh abad.

Namun Islam memiliki saingan. Dewa matahari Manaf disembah kaum Quraysh, juga Hubal, berhala tampan yg dibentuk menyerupai pria. Anak2 perempuan Allah, Al-Uzza, Al-Lat, dan Manat sangat mirip orangtuanya, berupa batu-batu. Manat disimbolkan dengan bulan yang menggelap, yang benar2 mengingatkan kita akan keadaan Islam saat ini. Ia adalah dewi takdir yang memerintahkan umatnya untuk mencukur kepala mereka bila mendekatinya. Sebagai penyembah berhala yang soleh, saat Muhammad menunaikan ibadah umrahnya di Mekah, ia mencukur kepalanya sesaat menghadap Manat. Praktek kaum pagan ini diberi selera ‘monotheis’ saat Muhammad bersikeras bahwa Abraham telah melakukan hal serupa. Di kemudian hari, Muhammad menyatakan hormatnya pada dewi pagan Manat dengan memasukkan ajaran takdir dalam Islam dan juga menggunakan lambang bulan menggelap (sabit) sebagai logo agama baru-nya.

Tak mau kalah, Al-Lat juga memiliki kuilnya sendiri di Ta’if, dekat Mekah. Al-Lat berbentuk batu kubus yang diletakkan diatas bubur gandum. Kuilnya terletak dikiri bawah menara mesjid saat masa awal Islam di Ta’if. Adiknya, dewi Al-Uzza, jauh lebih muda darinya dan hidup di lembah Hurad. Sebagai berhala favorit Quraysh, ia menerima hadiah dan persembahan yang paling mewah. Muhammad melihatnya sebagai wanita berkulit hitam tanpa busana. Di saat posisinya lemah, Muhammad mengakui ketiga dewi itu sebagai perantara kepada Allah. Tapi kecenderungan monoteistik agamanya kemudian menolak pemujaan berhala (kalau memuja satu berhala sih tidak apa, yang penting SATU—MONO!) dan mau tidak mau sang nabi kemudian mengaku bahwa ia mendapat inspirasi Iblis.

Ψ † с ბ

BERAPA TUHANNYA ISLAM DAN SIAPA NAMANYA?? Ar Rahim, Ar Rahman atau Allah atau ketiga-tiganya?? :finga:

Muhammad dipuji karena memperkenalkan monoteisme pada bangsa Arab, padahal sebenarnya Qur’an sendiri memuja TIGA tuhan yang jelas berbeda. Di periode awal Mekah, tuhannya tak bernama. Ia hanya dipanggil dengan kata ‘Lord’ (Tuhan). Tuhan ini menjiplak tuhannya Zayd (Siapa Zayd? Lihat dibawah nanti), hal yang tidak mengherankan karena puisi-puisi kaum Hanif di Mekahlah yang menjadi dasar ayat-ayat pertama Muhammad. Kaum Hanif sendiri menggunakan kata ‘Lord’ dan mendasarkan agama mereka pada agama kaum Yahudi—kaum yang memanggil Tuhan mereka dengan panggilan ‘Lord’ karena takut mengucapkan NamaNya. Jika mereka memanggil nama Yahweh secara tidak benar, mereka akan dituduh menghujat, dengan resiko dirajam. Meskipun kitab suci mereka mengandung 7000 pengulangan NamaNya, para Rabbi selalu membaca dan memanggilnya ‘Lord’. Nah, karena mereka buta huruf, penduduk Mekah tidak mengetahui perbedaan antara gelar (Lord) dan nama sebenarnya Tuhan yg dipuja Yahudi (Yahweh).

Tapi gelar saja tidak cukup. Pencipta semesta perlu nama. Semua tuhan punya nama sendiri-sendiri. Lantas, di periode kedua Mekah, Muhammad memberi nama tuhannya “Ar-Rahman.” Inskripsi-inskripsi abad ke-5 mengungkapkan bahwa Ar-Rahman disembah di Yemen/Yaman oleh kelompok Hanif lain. Kita tahu hal ini karena Dhu Nuwas, raja Yaman berdarah Yahudi, adalah seorang Hanif. Tindakan yang dia lakukan tercantum di catatan sejarah Yunani, Syria dan Aramaik. Ketika ia menyerang umat Kristen Abyssinia di Arab Selatan awal abad ke-6, ia bersumpah atas nama Ar-Rahman, ‘Maha Pengasih/Pemurah,’ dan Ar-Rahim, ‘Maha Penyayang.’ Nama2 ini selanjutnya dipakai mendahului semua ayat Qur’an, kecuali di surah ke-9.

Transisi penggunaan kata ‘Lord’/Tuhan menjadi Ar-Rahman oleh Muhammad terlihat pada surah 56, 68, 78, 89 dan setengah bagian akhir surah 93. Tak satupun menggunakan kata Allah, hanya Ar-Rahman dan Tuhan yang digunakan bergantian dan berdampingan.

Baca http://quranterjemah.com/index.php?mod= … aya_056001

Nama-nama Ar-Rahman dan Ar-Rahim digunakan 51 kali di periode Mekah dan dua kali di surah awal Medinah. Kemudian mereka menghilang, diganti kata
Allah. Hal ini penting, karena ia berada diantara lautan pemuja berhala sehingga yang sebenarnya dilakukan Muhammad hanya mengurangi (berhala) dari
segi jumlah. Lihat saja Q 21:36 (Dan apabila orang-orang kafir itu melihat kamu, mereka hanya membuat kamu menjadi olok-olok. Mereka mengatakan: ‘Apakah ini orang yang menyebut (nama-nama) tuhan-tuhan-mu?’, mereka menolak semua penyebutan Ar-Rahman —atau terjemahan Quran lain menyebut ‘Allah Yang Maha Pemurah’)

Ini adalah persoalan JUMLAH. Qur’an berkata bahwa Muhammad diejek karena ia ‘menyebut-nyebut nama tuhan-tuhan orang Mekah.’ Mengapa? Allah adalah dewa orang Mekah. Dan jika Islam mengaku monoteis, mengapa ‘tuhan’nya jamak? Terlebih lagi, dgn menyebut orang-orang Mekah telah ‘menolak penyebutan Ar-Rahman,’ dua hal menjadi jelas: tuhannya Muhammad adalah Ar-Rahman, sementara bagi orang Mekah bukan.

Menarik bahwa tuhannya Islam kelihatannya tidak mengetahui namanya sendiri atau apakah ia berjumlah satu (Aku di surah 37) atau jamak
(Kami di surah 35), ia sosok yang sama, yang rajin memberi tanda-tanda azab dan ancaman api neraka.

Q21:37 “Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku [Ar-Rahman] perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku; maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera! Andaikata orang-orang kafir itu mengetahui, waktu ketika mereka itu tidak mampu mengelakkan api neraka dari muka dan dari punggung mereka.)

Q21:35 “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.

Ar-Rahman si ‘Maha Pengasih/Pemurah’ dan Ar-Rahim si ‘Maha Penyayang.’

Permainan ‘Siapa Nama Saya’ berlanjut di Q21:41-43 “ Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul
sebelum kamu maka turunlah kepada orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu azab yang selalu mereka perolok-olokkan. Katakanlah [Muhammad]: ‘Siapakah yang dapat memelihara kamu di waktu malam dan siang hari dari (azab Allah) Yang Maha Pemurah [Ar-Rahman]?’ Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang berpaling dari mengingati Tuhan mereka. Atau adakah mereka mempunyai tuhan-tuhan yang dapat memelihara mereka dari (azab) Kami?

Yah jelas penduduk Mekah berpaling karena mereka hanya kenal Allah, bukan Ar-Rahman. :supz:

Surah 25 menjabarkan ketidakjelasan mengenai SIAPA sebenarnya tuhannya Islam. Ayat ke-59 memuat ‘Ia yang Maha Penyayang’ yang berbunyi [i](Q25:59): “Ia adalah Ar-Rahman.” Lalu, ayat ke-60 dimulai dengan: Dan apabila
dikatakan kepada mereka: “Sujudlah kamu sekalian kepada yang Maha Penyayang [Ar-Rahim]”, mereka menjawab:”Siapakah yang Maha Penyayang [Ar-Rahim] itu? Apakah kami akan sujud kepada Tuhan Yang kamu perintahkan kami (bersujud kepada-Nya)?”, dan (perintah sujud itu) menambah mereka jauh (dari iman).

Muhammad juga meminta penduduk Mekah untuk sujud pada dewa bernama Ar-Rahim, selain Ar-Rahman. Mereka, bagaimanapun memberontak dan bertanya, “Nah, siapa lagi nih si Ar-Rahim?” Mereka kenal Allah, dewa utama Ka’abah, tapi tak seorangpun tahu Ar-Rahim, karena memang tidak termasuk salah satu berhala batu Mekah. BINGUNG DEH TUH! \:D/

Karena jelas menggunakan beberapa nama dewa, Islam tidak monoteis. Dan karena tak satupun diantaranya menggunakan nama Yahweh, maka mereka bukanlah tuhan yang sama dengan Tuhan dalam Injil. Oleh sebab itu nabi-nabi dan tokoh-tokoh Bible seharusnya tidak digunakan untuk menjustifikasi upacara dan ritual umat Islam.

Q25:63 mengkonfirmasi lagi bahwa umat Islam adalah: Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati) .

[Penerjemah: Kedengaran ayat ini memang manis, tapi dlm bahasa inggrisnya yang langsung diterjemahkan dari bhs Arab, sebenarnya berbunyi “Slaves of Ar-Rahman who walked in submission [Islam].” Terjemahannya dlm bhs Indonesia mestinya: BUDAK BUDAK Ar Rahman yang berjalan dalam keadaan tunduk!] Terjemahan Indonesianya ternyata diperhalus![/color]

Q13:30 berkata: Kami wahyukan kepadamu, tapi mereka kafir kepada Tuhan Yang Maha Pemurah [Ar-Rahman]. Katakanlah: ‘Dia-lah Tuhanku tidak ada Tuhan selain Dia; hanya kepada-Nya aku bertawakkal.'[/color]

Tak dapat dibantah, Ar-Rahman bukan sinonim dari tuhannya Muhammad, Ar-Rahman itu sebenarnya adalah NAMA tuhannya. Sementara Allah bukanlah siapa-siapa.

Tapi kemudian terjadi perubahan. Allah tiba2 muncul di akhir Surah ke-17. Agar peristiwa besar ini tidak keluar konteks, mari kita simak dengan teliti latar belakangnya:

Ini adalah surah yang mencoba menerangkan mengapa Qur’an diturunkan sebagian-sebagian secara bertahap: Q17:106 Dan Al Qur’an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dengan pertimbangan. Itulah sebabnya kami menurunkannya bagian demi bagian.

Sebenarnya, surah-surah khusus ‘diwahyukan’ sbg respon langsung thp berbagai kebutuhan dalam kehidupan Muhammad. Saat ia ingin merampok, turun wahyu utk menyetujui rampasan. Saat ia ingin membunuh, tuhannya memberi persetujuan pembunuhan. Saat ia mendambakan anak mungil, hasratnya terpenuhi dengan mulus. Saat ia menginginkan istri lebih dari yg diizinkan Islam, Qur’an memberikan dispensasi khusus. Dan sewaktu ia ingin menghabisi kaum Yahudi, tuhannya juga mengakomodasi. dst.

Q17:107 Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud dan mereka berkata: “Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.

Surah ini memang TUKANG TIPU! Orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya mengacu pada pengikut Taurat dan Injil, yakni umat Kristiani
dan Yahudi. Mereka tidak pernah bersujud saat Qur’an dibacakan pada mereka. Lagipula, mana mungkin Qur’an dibacakan bila saat
itu belum tertulis, dan kalaupun diperdengarkan, mereka tidak akan bersujud tapi justru tertawa terbahak2 karena konyolnya, persis seperti yang saat ini kita lakukan. :rofl:

Q17:110 Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik)

Yupp… trims ya Allah atau Ar-Rahman, atau apapun juga namamu, karena telah menunjukkan dengan jelas. Baik Allah maupun Ar-Rahman bukanlah kata-kata yang berarti ‘tuhan,’ Ar Rahman dan Ar Rahim juga tidak berarti ‘sifat’ tuhan, melainkan NAMA-NAMA dewa-dewa. Kata Arab yang memiliki makna ‘Tuhan’ adalah ‘Ilah’ dan digunakan di seluruh Qur’an.

Kita hanya dapat berasumsi Muhammad belajar mengenai kaum Hanif dan tuhan mereka, Ar-Rahman, saat menjadi bagian dari kafilah pedagang (milik
Khadijah) yang sering mengunjungi Yaman. Maslamah dan Zayd, keduanya sejaman dengan Muhammad, membawakan doktrin Hanif. Maslamah, bisa jadi seperti nabi kembarannya Muhammad. Ia mengajarkan kode moral ketat yang melarang bermabukan dan percabulan. Ia melaksanakan puasa dan doa ritual resmi tiga kali sehari. Maslamah percaya akan hari kiamat dan menganjurkan ibadah haji. Ia berkhotbah dalam prosa berirama seperti Qur’annya Muhammad, dan bahkan menyebut dirinya ‘Utusan Tuhan,’ dan wahyunya berasal dari Ar-Rahman. Apapun kekurangan Maslamah tertutupi oleh Zayd. Baris-baris puisi Zayd tercantum secara literal dalam Qur’an.

Walau umat Islam meremehkan Maslamah dan mengatainya sebagai ‘penipu’ dan ‘nabi palsu,’ namun gaya dan substansinya tidak berbeda dengan Muhammad. Akademisi Islam Amerika terkemuka, F.E. Peters, berkata, “Sulit membayangkan Maslamah ‘meminjam’ ide Ar-Rahman dari Muhammad…. Lebih masuk akal kalau Muhammadlah yang telah mengambil ide Ar-Rahman dari tata cara pemujaan asli Yaman yang telah lama ada sebelumnya.

Akhirnya, pecah perang yang menentukan siapa yang berhak menyandang gelar nabi. Dalam ‘War of Compulsion’ atau pertempuran Aqrabah, pengikut
Muhammad dan pengikut Maslamah bentrok keras. Pasukan Ar-Rahman menang saat pertempuran pertama, tapi di serangan kedua, Islam membagi pasukannya menjadi dua untuk membuktikan siapa yang paling berani mati. 700 pengikut Muhammad mati hari itu, dan sedemikian banyak juga hilangnya surah-surah Qur’an yang tersimpan dalam ingatan para pejuang tsb. Prajurit paling beriman sekarat dan meninggal di hutan pepohonan tua kecil yg dikenal dengan nama ‘Garden of Death.’ Sementara Qur’an menderita serius dengan tewasnya para penghafal ayat, pasukan Allah meraih kemenangan dengan
membantai 7000 orang Arab. Dengan kematian lawan mereka, berakhirlah oposisi terhadap Islam di tanah Arab. Ar-Rahman-pun dilupakan untuk selamanya. :toimonster:

Ψ † с ბ

Kita kembali ke Mekah di jaman pra-Islam di akhir abad 5. Suku Khuza’a berhasil menggulingkan klan Jurhum. Selanjutnya, Luhayy (pemimpin kaum Khuza) menggariskan ritual-ritual dan hak-hak istimewa atas Ka’abah. Tapi ia jatuh sakit, demikian dikatakan dalam ‘Book of Idols’, karya ilmuwan Islam, Ibn al-Kalbi; “Luhayy pergi ke sumber mata air panas di Syria untuk berobat. Selama masa penyembuhan itu, ia memperhatikan para penduduk setempat menyembah berhala-berhala. ‘Apakah benda-benda ini?’ tanyanya. Mereka menjawab, ‘Kami berdoa memohon hujan dan kemenangan atas musuh pada mereka.’ Luhayy meminta beberapa batu sesembahan. Mereka setuju, lalu ia membawanya ke Mekah dan mendirikannya di sekitar Ka’abah.”

Semua anggota sukunya Luhayy terlibat dalam kegiatan penyembahan batu-batu, mengkultuskannya, bersujud dalam doa, serta mengelilingi batu-batu tersebut. Ibn al-Kalbi berkata, “Kaum Arab terbiasa memberikan persembahan kepada berhala-berhala batu ini. Meskipun demikian, mereka menyadari kelebihan dan keunggulan Ka’abah sebagai tempat kunjungan ibadah.”

Tapi, Muhammad tidak menaruh respek pada Luhayy, orang Arab pertama yang punya kaitan dengan Ka’abah. Katanya: Ishaq:35 “Aku melihat Luhayy menyeret ususnya di Neraka. Kutanyakan padanya ttg orang-orang yang hidup di masa antara dia dan aku, dan ia berkata bahwa mereka semua telah binasa.” Muhammad meneruskan, “Penduduk Mekah tergiring untuk menyembah batu-batu. Generasi demi generasi berlalu, mereka melupakan kepercayaan lama dan mengadopsi agama lain, menggantikan agama Abraham dan Ismael. Mereka berdoa pada berhala-berhala tsb serta melakukan kesalahan yang sama dengan pendahulunya. Namun mereka tetap memegang teguh ibadah mengelilingi Ka’abah, ibadah haji besar dan kecil, tempat mereka berdiri dan berseru ‘Kupenuhi panggilanMu, ya Allah, kupenuhi panggilanMu.” … Labaik allahumma labaik …

Nah, sampailah kita pada pokok masalah. Umat Islam yang mengucapkan pernyataan ini mengatakan bahwa ritual-ritual tsb merupakan gambaran inti ajaran
Islam. Namun, Muhammad, si pendiri Islam, tak mengerti sedikitpun ttg ritual-ritual keagamaan ini. Setiap doktrin dan ritual Islam sudah ada sebelum Qur’an, Muhammad, ataupun orang Islam pertama manapun. Seperti yang dijelaskan secara tepat oleh Ibn Ishaq, ritual-ritual Islam telah dipraktekkan sebelum sang nabi lahir. JADI para pelaku ritual tsb semuanya kaum pagan dan semua ritual tsb terkait dengan penipuan berkedok agama—skema untuk menghasilkan keuntungan finansial. A Scam! A Qussay Scam! Itulah sebabnya, menurut Muhammad, mereka semua dikutuk menyeret usus mereka di neraka.

Di halaman-halaman selanjutnya akan kau temukan bagaimana moyangnya Muhammad, Qusayy, mengambil keuntungan dari pekerjaan Luhayy, waktu ia membawa semua ‘berhala dan batu’ ke kuil di Mekah. Qusayy, seorang penyembah berhala yang oportunis dan sangat kreatif melihat celah untuk mendapatkan kekuasaan dan keuntungan materi dari setiap ritual dan doktrin penting agama Arab. Qusayy-lah yang memulai penipuan berkedok agama yang digunakan kembali oleh Muhammad dan menyebutnya Islam.

BISNIS KABAH!

Semua pengetahuan ttg Qusayy dan penduduk awal Mekah datang dari Hadis. Qur’an dan Hadis menyatakan dengan jelas bahwa setiap ritual Islam telah
dipraktekkan kaum pagan di masa hidup Muhammad. […] Dan bagi Muhammad untuk diakui sebagai nabi yang ada hubungannya dengan Alkitab, ia harus mencari hubungan ke nabi Ibrahim/Abraham. Dan akhirnya, seluruh penciptaan Islam akhirnya ditujukan bagi satu hal saja: bisnis Ka’abah!

Ishaq:38 “Kaum Quraysh memiliki sebuah sumur di Ka’abah dan sebuah berhala yang disebut Hubal. Mereka mengadopsi kisah Asaf dan Naila di Zamzam, dan memberikan pengorbanan disampingnya. Meraka adalah pria dan wanita dari suku Jurhum—Asaf ibn Baghy dan Na’ila bint Dik—yang berdosa karena melakukan hubungan seks di Ka’abah, sehingga Allah mengubah mereka menjadi dua patung batu. Aisha berkata, ‘Kami selalu mendengar ttg Asaf dan Naila yang berhubungan intim di Ka’abah sehingga dikutuk Allah menjadi batu.”

Image
rafat-amari-islam-ditinjau-dr-pengamatan-sejarah-selesai-t42161/page80.html

Ishaq berkata bahwa kaum Khuza-nya Luhayy akhirnya mengizinkan kaum Quraysh-nya Kinana kembali ke Ka’abah. Suku Quraysh, sebagaimana yg umat Islam ingin kita percayai, adalah keturunan Abraham lewat Ismael. F.E. Peters dalam bukunya, ‘Muhammad and the Origins of Islam,’ menerangkan, “Sebutan kesukuan/marga Kinana mewakili 15 generasi dalam garis keturunan setelah Ismael, dan Qusayy, si aktor utama kejadian berikutnya, adalah generasi ke-8 setelah Kinana. Jadi, menurut perhitungan Islam, keturunan Ismael kembali ke kota asal mereka sekitar 7 abad setelah Ishmael dan Abraham membangun Ka’abah di Mekah. Dimasa antaranya, kaum Ishmael, yang sekarang disebut Quraysh hidup terpencar-pencar.”

Ismael——–15 generasi———–Kinana———-8 generasi———Qusayy!

FE Peters orang yang cerdas dan penelitianya tak bercela, tapi pernyataan diatasnya ini omong kosong. Itulah kalau orang cerdas mempercayai telak sumber-sumber Islam. Sumber2 Islam sendiri mengaku bahwa Ismael adalah bapak bangsa mereka, padahal mereka tak bisa jelaskan siapa itu suku Quraysh atau darimana datangnya. Tapi dalam hasrat buta untuk mendapatkan legitimasi, mereka cenderung mengada-ada. Ibraham hidup sekitar 2000 SM. Rentang 700 tahun akan membawa kita ke abad 14SM, bukan ke abad 5M. Jejak kaum Ismael dapat ditelusur ke gurun Sinai, bukan tanah Arab. Islam perlu justifikasi dalam mempromosikan Allah dan Ka’abah-nya, dengan mengatakan Ibraham, bapak bangsa Yahudi yang membangunnya, dan Muhammad adalah keturunan
Ishmael. Tak satupun benar. Berdasar tradisi Islam sendiri, dikatakan bahwa Ka’abah diresmikan untuk pertama kalinya dengan batu2 yang dibawa Luhayy dari sumber mata air panas di Syria. Keinginan berobat dgn cara berendam di sumur air panas Syria (spa ala Syria) akhirnya berujung pada lahirnya sebuah agama.

Sirah Ibn Ishaq dibuka dengan suatu bagian berjudul: “Muhammad keturunan murni Adam.” Ishaq:3 “Inilah buku Biografi Rasul Allah. Muhammad adalah anak Abdullah, bin Abdul Muttalib, bin Hashim, bin Abd Manaf, bin Qusayy,” dst, total ada 13 generasi hingga Kinana. Ishaq juga mendaftar 15 generasi lain hingga ke Abraham dan Ismael. Penghitungan dari Abraham hingga Nuh dan akhirnya Adam, tercatat di Kitab Kejadian, dan sedikit banyak kita semua adalah keturunan Adam dan Nuh.

Akan tetapi, saya ingin menerapkan matematika sederhana pada silsilah terakhir untuk menunjukkan betapa lugunya umat Islam awal. Qusayy (pendiri kebohongan yang kemudian jadi agama Islam) mendahului Muhammad sekitar 80 tahun. Dan Luhayy (pendiri Ka’abah) mendahului Qusayy dengan jarak yang sama. Juga Kinana, tak mungkin melebihi seratus tahun jaraknya dari Luhayy, sehingga kita sampai ke awal abad ke-4M.

Luhayy———80 tahun—————–Qusayy (abad 5M)—–80 thn———-Muhammad (lahir thn 570M, abad 6M)
Luhayy——–100 tahun—————–Kinana (abad 4M)

Untuk menjadikan garis keturunan Muhammad ‘murni,’ 15 generasi harus direntangkan sepanjang 2300 tahun. Katakanlah misalnya, kaum Yahudi, yang memiliki catatan rinci di Bait mereka untuk mengantisipasi kedatangan sang Mesiah, mendaftarkan ada 41 generasi dari Ibraham hingga Kristus. Perlu 15 generasi lagi untuk sampai ke masa Kinana, dengan total 56 generasi -– hampir 4 kali jumlah yang disodorkan umat Islam.

Ibrahim (lahir 2000SM)——41 generasi—–Kristus (lahir 1M)—–15 generasi ——Kinana.

Image
rafat-amari-islam-ditinjau-dr-pengamatan-sejarah-selesai-t42161/page60.html

Keberadaan Islam tergantung sepenuhnya pada hubungan antara Abraham dengan ritual kaum pagan di sekitar Ka’abah. Bukti bahwa kronologi mereka salah 400%, bukanlah pertanda baik untuk teori2 mereka lainnya.

Catatan mengenai Mekah paling dini, walau hanya mengandung sedikit kebenaran, adalah tentang kaum Jurhum. Mereka diduga berkemah secara periodik di lembah yang dikemudian hari menjadi Mekah. Tabari, sejarawan Islam paling awal, meyakinkan bahwa kaum Jurhum mempraktekkan ritual pagan yang identik dengan ritual Islam masa kini, di abad 5 dan 6M. Bila ini menjadi bukti ‘sejarah’ pertama yg mengindikasikan adanya Mekah, penduduknya serta kuilnya, maka umat Islam memiliki vakum sejarah selama 2500 tahun (dari Ibrahim/Ismael ke kaum Jurhum). Ismael lahir sekitar 2000 SM. Dan tidak ada bukti nyata
yang menghubungkan titik-titik diantara karakter Alkitab dengan Mekah, terlebih lagi dengan Muhammad, Allah dan Ka’abah. 25 abad kebisuan sejarah adalah waktu yang amat panjang—khususnya bagi masyarakat buta huruf.

Ditengah2 ketidakjelasan kacau balau inilah Qusayy merumuskan bisnis keluarga serta menjadikan dirinya mentor Muhammad. Qusayy, bapak bangsa tak
resmi Islam ini lahir di akhir abad ke-5M. Tabari VI:20 “Qusayy bertanya pada ibunya dari suku mana ia berasal. Ibunya
menjawab, ‘Kau anak Kilab ibn Murra ibn Ka’b ibn Luhayy ibn Ghalib ibn Fihr ibn Malik ibn al-Nadr ibn Kinana al-Qurashi. Sukumu tinggal di Mekah dekat Ka’abah…. Pernyataan ini membangunkan hasrat kuat dalam diri Qusayy untuk kembali ke Mekah dan bergabung dengan kaumnya, Quraysh.”

Saat itu Mekah sama sekali bukan tempat yg menyenangkan. Tak ada rumah permanen, hanya tenda-tenda. Banjir musiman selalu jadi ancaman dan panas di
musim kering sungguh tak tertahankan, terlebih dengan tidak adanya pelindung. Orang-orang hanya melintas, tak ada yang berdiam di Mekah.

Sang ibu berkata pada anaknya: “Tunggu hingga bulan suci tiba dan berangkatlah dengan para peziarah.’ Qusayy-pun menunggu hingga tiba bulan suci dan ibadah haji dimulai. Setibanya di Mekah dan setelah menyelesaikan ibadah hajinya, Qusayy tetap tinggal disana.”

Salah satu dari lima pilar/rukun Islam adalah menjalankan ibadah haji ke Mekah di bulan suci. Hadis ini membuktikan bahwa ritual penyembahan berhala tsb sudah ada 5 generasi sebelum Muhammad datang menamainya ibadah Islam. Bahkan penamaan ibadah ‘haji dan umrah,’ diambil dari para pagan di masa lalu.

Si penyembah berhala, Qusayy, tiba di perkampungan tenda-tenda, yang dikemudian hari jadi contoh yang wajib diikuti umat Islam. Tapi bukan hanya itu yg dilakukannya untuk menginspirasi nabi masa depan Islam. Tabari mengutip: Ishaq:48 “Pada saat itu, Hulayl bertanggung jawab atas Ka’abah dan berkuasa di Mekah. Qusayy kemudian melamar putri Hulayl, Hubba.” Ia adalah wanita terkaya dan berpengaruh saat itu. Dan sebagaimana tradisi keluarga mereka, lima generasi kemudian, Muhammad yang miskin dan terabaikan juga menikahi Khadijah, wanita terkaya di Mekah.

:supz:

Pengantin baru ini kemudian memiliki empat anak, dua diantaranya diberi nama dewa batu setempat. “Hubba melahirkan baginya Abd al-Dar, Abd Manaf, Abd al-Uzza dan Abd. Keturunannya bertambah, kekayaannya meningkat dan ia jadi sangat dihormati.”

Kalau Qusayy bukan ASLI penyembah berhala, ia akan menamakan anak2nya Helena, Astari, Lennon dan Otong. TAPIIII ia memberi nama-nama berhala BATU pada anak-anaknya. (Kasih nama batu kpd anak2 boleh saja, asal bagus. Kayak ini misalnya: Jade, Rubina, Safira atau Ovalia . Tapi kok nama batu2 arab jelek amat??? … ali5196)

Qusayy memang lihai, penuh perhitungan. Dia tahu dimana ada angpao, disitulah ia pergi! Oleh karena itu ia beribadah haji ke Mekah di bulan suci,
tinggal bersama raja yang juga juru kunci Ka’abah dan … menikahi putrinya. ” /> Mereka menamakan anak pertama mereka ‘Pelayan Rumah Ibadah [Abd al-Dar]’—benda terpenting dan sumber kekuasaan dan kekayaan dlm hidup mereka. Lalu mereka memberikan penghormatan pada dewa-dewa mereka dengan memberikan nama dewa tsb ke dua anak mereka berikutnya. Dan amatlah menarik bahwa Allah bahkan belum/tidak dianggap sbg sebutan terhormat. Mengapa? Karena ternyata Allah cuma salah satu dari sekian banyak dewa. SO, pemujaan atas ‘rumah’ para berhala ini membuktikan bahwa ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan agama monoteis manapun.

Sebuah hadis memberitahukan sekilas ttg apa yang terjadi: Ishaq:49 “Qusayy beranggapan ia lebih berhak atas Ka’abah dan berkuasa atas Mekah daripada suku Khuza’a karena Quraysh adalah keturunan Ismael yg paling murni dan bermartabat.” Muhammad juga beranggapan ia lebih berhak atas Ka’abah dan berkuasa atas Mekah dibanding anggota keluarga lainnya.

Para penulis tradisi ini di Bagdad selusin generasi setelah kematian Qusayy pastilah mengira bahwa pembaca mereka adalah orang bodoh selalu! Pertama, Qusayy yang berasal dari masyarakat yg buta huruf, bagaimana ia tahu ia adalah keturunan langsung Ismael? Ismael
sudah tiada selama 2500 tahun. Tanpa adanya bukti prasasti atau bukti apapun, mustahil menetapkan alur silsilah sampai 60 generasi yang lalu. Bahasa Arab tertulis saja belum diciptakan. Ngarang mulu nih yeee! CAPE DE!

Kedua, bagaimana mereka bisa mengetahui apa yang dipikirkan Qusayy? Tak ada catatan tertulis yang menghubungkan dia serta pemikirannya, dengan saat dimana Hadis-hadis tsb ditulis—empat abad kemudian. Karena skenario ini mustahil, satu-satunya alasan mengapa para sarjana Islam terpaksa melegitimasi ‘hak atas Ka’abah dan kekuasaan atas Mekah’ pada diri Qusayy, yi. hanyalah untuk menjustifikasi klaim yang dibuat cucu cicitnya, Muhammad.

Tabari VI:20 “Ia menyerukan pada sukunya, Quraysh, untuk mengusir suku Khuza’a dan merebut Mekah untuk diri mereka sendiri. Mereka menerima usulannya serta bersumpah setia kepadanya.”

LUAR BIASA MEMANG! Disatu pihak kita tercengang dunia sampai sekarang belum juga berhasil mengekspose tipuan Islamiyah ini, dilain pihak kita bersyukur bahwa kitab Islam sendiri yang membongkar tipuan ini. :partyman:

Tabari, bersandar pada Tradisi yang dikumpulkan Ishaq, melaporkan: “Orang Arab, menyadari kewajiban agama mereka, dan bergabung dengan Qusayy. Sambil berbaris menuju Ka’abah mereka berkata, ‘Kami lebih berhak atas Ka’abah dibanding kamu.’ Mereka berhadapan satu sama lain dan mulai berkelahi. Pertempuran sengit pecah, dan hasilnya….Qusayy merebut hak-hak dari tangan mereka dan mengusir mereka.”

Dan tradisi Islam yang selalu ‘merasa paling berhak atas harta benda orang lain’ (dan kalau tuntutan mereka tidak dipenuhi mereka akan teriak2 merasa dizolimi) inilah yang menghantui kita hingga sekarang.

DAN YANG LEBIH HEBAT LAGI … ini nih!!!

Tabari VI:21 “Qusayy memperoleh hak sbg juru kunci Ka’abah lewat sekerat anggur dan sebuah kecapi.”
Okay, paling tidak Qusayy tidak mendapatkan kunci Kaabah lewat kekerasan, TAPIIIII mendapatkan kunci Ka’abah Islamiyah dengan bayaran musik dan minuman keras—-betapa ironisnya! :rolling:

Ishaq paling tidak menawarkan alternatif yang lebih Islamiyah. Alternatif yang dipakai sebagai pembenaran para teroris Islam saat ini untuk menggunakan senjata biologis, “Saya telah mendengar, dan Allah Maha Tahu, bahwa kaum Khuza’a telah dikutuk menderita wabah isul yang hampir memusnahkan mereka. Mereka meninggalkan Mekah.”

Selanjutnya, untuk menutupi semua celah, Ishaq juga memberikan alternatif keempat. Ini untuk memuaskan para pecinta damai, yang menggunakan ‘cara damai’ untuk mencuri apa yang mereka inginkan. Ishaq:52 “Kedua belah pihak menyerukan perdamaian dan menunjuk salah seorang Arab sebagai penengah mereka.” Ini jelas model Jimmy Carter yg sedang mengejar hadiah Nobel Perdamaian. Semua rampasan jadi milik umat Islam. Orang-orang kafir memberikan tanah dan uang mereka dan tak mendapat ganti apapun. “Keputusannya, Qusayy [baca ‘Arab atau Islam’] lebih berhak atas Ka’abah [baca ‘Bait Suci’] dan memerintah Mekah [baca ‘Yerusalem’] dibanding Khuza’a [baca ‘Yahudi’]. Semua korban darah yang ditumpahkan Qusayy [baca ‘pelaku bom bunuh diri’ atau ‘tentara Arab’] di pihak Khuza’a [baca ‘orang Yahudi’] dihapus dan diabaikan [baca ‘dilupakan, dimaafkan, atau dibenarkan’], sementara semua korban yang disebabkan Khuza’a [‘Yahudi’] di pihak Quraysh [baca ‘Islam atau Arab’] harus dikompensasi oleh uang darah [baca ‘Carter meminta Amerika membayar Arab yang kalah dalam Perang Enam Hari $2 milyar setahun, untuk seterusnya’]. Ia menambahkan bahwa Qusayy diberi kebebasan untuk mengontrol Ka’aba dan Mekah.”

:axe:

NAH, anda bisa lihat sendiri! Tak ada yang berubah. Diplomasi dengan tiran-tiran Islam tetap tak berimbang dan sia-sia saja.

Tak jadi soal, apakah Qusayy menang dengan kekerasan, suap, perdamaian, atau wabah penyakit, yang jelas ia memperoleh hak mengontrol perkampungan tenda dan kuil batu yang telah didiami nenek moyangnya, Luhayy. Ibn Ishaq mencatat rentetan kejadian penting itu dengan gaya khas Islam: Ishaq:52 “Qusayy mendapatkan otoritas atas Ka’abah dan kekuasaan atas penduduk Mekah. Ia berperilaku seperti seorang raja atas sukunya, sehingga mereka mengangkatnya sebagai raja.” Qusayy, telah membangun contoh bagi Muhammad, bagaimana menjalankan bisnis keluarga. Mari simak bagaimana kejadiannya: Ishaq:53 “Qusayy memiliki kontrol dan kekuasaan. Ia dipatuhi. Ia memegang kunci kuil, menjadi juru kunci Ka’abah. Ia memegang hak atas air sumur Zamzam bagi para peziarah juga atas makanan mereka. Ia memimpin majelis dan memegang hak untuk menyebarkan umbul-umbul perang. Ditangannya terletak semua martabat Mekah, semua diambil untuk dirinya sendiri.”

Inilah esensi Islam. Muhammad akan menyuarakan hal serupa saat ia menaklukkan Mekah.

Selanjutnya Qusayy menjadi model yang ditiru Muhammad di Yathrib (Medinah) saat ia mengusir orang Yahudi dari kediaman mereka dengan kekerasan, dan menghadiahi para pengikutnya dengan membagikan rampasan harta milik Yahudi. “Ia juga membagikan rampasan harta di Mekah pada para pengikutnya, menetapkan tempat kediaman bagi masing-masing klan Quraysh. Tak ada masalah publik atau pernyataan perang yang diputuskan tanpa izin Qusayy.”

Puluhan tahun kemudian, Muhammad juga menggunakan kekuatan untuk mendapatkan kontrol atas Medinah, Mekah, Ka’abah, dewanya, sumurnya, tempat tinggal, peziarah, majelis, dan bahkan hak menyatakan perang. Ia berlaku selayaknya raja, memaksakan kehendak pada sukunya, membunuh siapapun yg menghalangi jalannya. Meskipun hadis-hadis ini membuktikan Muhammad kurang kreatif, ia harus dipuji karena kemampuannya mengendus mana rencana yang akan berhasil, serta kemampuannya melaksanakan rencana tsb. Si pagan Qusayy adalah seorang penipu yang berhasil memberi nilai tambah atas semua
aspek penting dalam Islam, jauh sebelum Muhammad lahir. Dan mirip dng cicitnya, Muhammad, ia juga melakukannya karena hasratnya akan seks, kekuasaan dan uang.

Tradisi tsb diakhiri dengan kata-kata semacam ramalan yang menakutkan. Tabari VI:24/Ishaq:53 “Otoritas Qusayy atas kaum Quraysh sepanjang hidupnya dan setelah kematiannya bak sebuah agama yang wajib diikuti dan tak boleh dilanggar pengikutnya; mereka bertindak sesuai aturan-aturannya. Mereka menganggapnya seakan penuh dengan pertanda baik dan mengakui superioritasnya dan kebangsawanannya.….Ia mengambil rumah pertemuan dekat mesjid (tempat solat) Ka’abah.”

Muhammad melakukan hal yg sama di Medinah. Ia menempati rumah pertemuan dekat mesjid, tempat segala sesuatu berkaitan dengan Islam diputuskan. Dan seperti Qusayy, Muhammad sendiri yang menyebarkan umbul-umbul perang sebelum melancarkan ke-75 serangan teroris yang direncanakannya sendiri. “Disaat mereka hendak menyerang suku lain, umbul-umbul diikat dirumahnya [Qusayy] saja dan salah seorang putranya kemudian membagi2kan umbul2 tsb.”

Ishaq paham akan konsekuensi yang ia ungkapkan. Jika ini benar, berarti seorang penyembah berhala-lah yang mendirikan penipuan berkedok agama yang dibentuk Muhammad jadi Islam. Ia juga tahu bahwa ketergantungan Muhammad pada karakter-karakter Alkitab untuk melegitimasi ritual-ritual dan pilar-pilar Islam sangat lemah karena tak masuk akal. Keturunan murni Ismael yang ditulisnya adalah kemustahilan genealogis yg begitu jelas. Dengan runtuhnya teori hubungan genealogis dgn Yahudi tsb, portret tidak sedap ttg Qusayy —kesemuanya melenyapkan kredibilitas Arab dan Mekah. Lantas Ishaq mencari pendukung untuk menguatkan ceritanya dan pilihannya jatuh pada Kalif kedua. Ishaq:53 “Umar menegaskan kisah Qusayy, bagaimana Qusayy mendapatkan kekuasaan atas Ka’abah dan segala urusan Mekah.”

Hadis ini justru memberatkan dan membongkar seluk beluk Islam. Lebih dari 100 tahun sebelum wahyu pertama Qur’an keluar dari mulut Muhammad, rukun2
Islam SUDAH ditetapkan seorang pengusaha pagan. Ka’abah adalah pusat agama berhala yang baru; penipuan yg dirancang untuk memperkaya satu-satunya raja yg absolut—pria yg menggunakan ‘agama’ untuk tujuan politik dan kepentingan pribadi. Menggunakan metode yg persis sama dengan Muhammad, Qusayy mengambil alih kendali melalui jihad dan perjanjian politik. Ia mengaku punya darah bangsawan dan superioritas sewaktu mendirikan doktrin religiusnya; ia adalah ‘utusan’ yang harus ‘dipatuhi’.

Ritual-ritual solat sudah ditetapkan, juga tempat ibadahnya—mesjid. Tata ibadah haji hingga pada perinciannya telah diabadikan. Bahkan ada bulan suci. Yang perlu sekarang adalah penerapan pajak agama dan mempromosikan Allah diantara berhala-berhala batu lain agar rukun Islam menjadi lengkap. […] Islam bukanlah agama Abraham atau doktrin nabi Muhammad. Islam adalah agamanya Qusayy.

Ψ † с ბ

[…] Setelah merampas apa yang bukan haknya, pendiri Islam—Qusayy–sekarang berbisnis, satu-satunya bisnis yang punya prospek di cikal bakal kota Mekah. Ia prototipe seorang politikus. Bangunan terbesar di kota, tempat pertemuan, dijadikannya sbg tempat tinggal dan ia mulailah berkuasa seperti juga Muhammad. Qusayy menghubungkan rumahnya dengan Ka’abah, sumber keuangannya. Ia-lah yang menetapkan waktu-waktu solat di mesjid dan sebagian besar ritual keagamaan, seperti ritual yang masih dipraktekkan di abad 21 ini: ritual pemujaan dewa bulan.

Tabari, seperti juga Ishaq, ingin agar pembaca melihat bahwa ia tidak bertanggung jawab atas kisah2 yang begitu memojokkan Islam. Di tengah komentarnya, ia sisipkan sebuah Hadis serupa dengan Ishaq. Hadis ini didedikasikan kepada “Khabbab, penulis al Maqsurah.” Katanya, “Saya mendengar seseorang berkata kepada Umar bin al-Khatab, sewaktu ia menjadi Kalif, kisah ini mengenai Qusayy, dan bagaimana ia mengumpulkan kaum sesukunya, mengusir suku-suku lain dari Mekah, dan memperoleh hak mengontrol Ka’abah. Umar tidak menolak ataupun mengingkarinya.”

Hadis tsb menjelaskan bagaimana ritual Islam sesungguhnya dibuat 5 generasi sebelum Qur’an dan Muhammad: Ishaq:49 “Para peziarah berkumpul di Mekah, pergi ke mawqif, menyelesaikan ibadah haji kemudian pergi ke Mina….Diantara ritual tsb, yang masih dijalankan adalah upacara penyebaran di Mina.” Mawqif adalah dataran tinggi di Arafat, sekitar 10 mil di timur Mekah. Berdiri disana, di antara tengah hari dan matahari terbenam, adalah bagian penting ritual haji. Diikuti ifadah, atau penyebaran.

“Di hari penyebaran/Ifadah, mereka pergi melempar jimar dan seseorang dari Sufah biasanya melempar kerikil bagi para peziarah. Tak seorangpun melempar sebelum ia melempar.” Ritual pemujaan berhala ini juga memiliki nuansa Islam. Muhammad, yang meminjamnya dari kaum pagan di masa lalu, menginstruksikan umat Islam untuk melakukan jimar juga. Kerikil-kerikil tsb dilempar ke arah tiga tumpukan batu yang melambangkan setan.

Segera kita temukan penemuan lain Qusayy yang ditiru Muhammad. Tabari VI:31 “Qusayy melembagakan penyalaan api di al-Muzdalifah saat wuquf berlangsung agar orang-orang yang jauh dari Arafat dapat melihatnya. Penyalaan api ini masih terus dilakukan dari jaman Jahilliyah. Api ini juga menyala di masa Rasul, Abu Bakar, Umar dan Usman.” Al-Muzdalifah terletak antara Arafat dan Mina. Berdiri disana adalah bagian dari ritual haji, juga apinya. Abu Bakar, Umar, dan Usman adalah tiga kalif pertama setelah Muhammad.

Kemampuan Qusayy mempengaruhi penduduk Mekah melaksanakan ritual-ritual semacam inilah yang kelak mendukung kebesaran Muhammad. Di masa sang nabi, hal ini sudah mendarah-daging di kalangan Quraysh, sehingga tanpa disadari mereka menganggap Qur’an hanya meneruskan tata cara pagan yang sudah ada. Mereka menjadi bagian dari dogma Islam akibat Hadis-hadis semacam ini.

Tradisi berikut, menunjukkan betapa Muhammad bergantung pada Qusayy untuk mengembangkan ‘doktrin religius Allah’ Tabari VI:25 “Kaum sesuku Qusayy sangat menghormati dan menghargainya. Tak seorangpun menentang kekuasaannya dengan cara apapun. Perintah-perintahnya tak pernah diabaikan dan tak ada yang menentang tindakannya. Berkaitan dengan haji, ia menegaskan hak orang Arab untuk meneruskan tata cara sebelumnya. Hal ini disebabkan ia menganggapnya sbg kewajiban religius yang tak perlu diubah.” Qusayy mendirikan landasan hukum Islam: “tunduk dan taat.” Kata-kata ini diulang-ulang dalam Qur’an secara terus menerus. Pengabdian adalah tugas, solat adalah kewajiban dan ritual adalah mutlak. Dalam Islam tak ada pilihan.

Selanjutnya Hadis juga melaporkan: “Qusayy membangun sebuah rumah pertemuan di Mekah, tempat Qusayy memutuskan segala perkara.” Di hari-hari kedatangan Muhammad di Medinah, ia juga memerintahkan untuk membangun rumah dan area pertemuannya. Selanjutnya ia mengukir ‘kesepakatan’ yang menjadikan dirinya sbg satu-satunya pengambil keputusan atas segala hal. Semua ini membuktikan bahwa Islam bukanlah wahyu dari Allah pada Muhammad, tapi implementasi harfiah agama Qusayy.

Dari diktator ia beranjak ke kapitalis! Dan tokoh oportunis ini segera memanfaatkan kesempatan dgn cara menyelenggarakan pasar2 di bulan-bulan suci. Sebagai sang godfather, ia mengambil keuntungan dari setiap transaksi. Ishaq:55 “Rifada adalah pajak yang dibayarkan orang Quraish kepada Qusayy di setiap festival.” Pajak ini, seperti juga konsesi Ka’abah, adalah waralaba eksklusif, semacam kartel. Muhammad menamai pajak tersebut zakat. Tapi tak ada bedanya. Itulah rukun Islam keempat.

Qusayy memastikan bahwa hanya keturunan langsung dia yang layak menjalankan bisnis keluarga. Bahkan selanjutnya, keluarganya dilarang terlibat sebelum berusia 40 tahun. Diperkirakan, itulah sebabnya Muhammad, sebagai keturunannya mengklaim Ka’aba saat berusia 40 tahun.

[…]Dengan kondisi geografis dan cuaca yang buruk di Mekah, menjadi penguasa tentu pilihan yang lebih baik daripada bekerja, suatu hal yang dimengerti betul oleh Qusayy, dan mengapa Muhammad juga mendambakannya. Kekayaan diperoleh dengan menyediakan fasilitas bagi peziarah dan memungut berbagai bentuk ongkos dan pajak. Keluarganya mengutip pajak dari barang-barang yang dijual selama festival ‘gencatan senjata para dewa’ di bulan Ramadhan. Dan mereka mengutip biaya dari peziarah untuk memberi persembahan dan membersihkan debu para dewa/berhala di Ka’abah. Bisnis Ka’abah ini memang TOP MARKOTOP dan dengan uang berlimpah, Qusayy dapat membayar preman untuk mengusir siapa saja yang berani mengacau, khususnya para pemilik lama yang mencoba menuntut komisi dari Ka’abah mereka.

Qusayy memberikan warisan yang tidak sama diantara putra-putranya. Ishaq:55 “Abd al-Dar, dengan nama Allah, kubuat kau sama dengan yang lain, meskipun demikian mereka harus memberikan kehormatan atasmu. Tak seorangpun diantara mereka boleh masuk Ka’abah kecuali engkau yg membukanya, tak ada umbul-umbul/pernyataan perang bagi kaum Quraysh kecuali olehmu, tak ada yang boleh minum air di Mekah [dari sumur Zamzam] kecuali yang telah kau siapkan, tak seorangpun yang boleh menyantap makanan selama musim haji kecuali makanan darimu, dan Quraysh tak boleh memutuskan apapun kecuali di rumahmu.” Dengan kata lain Qusayy memberi anaknya warisan bisnis keluarga—Islam. Dan ia bersumpah atas nama dewa utama Islam. Nah, disinlah Allah muncul dan lengkaplah 5 rukun Islam. Di kemudian hari, Muhammad menyebut dirinya Utusan Allah dan merampas otoritas u/ menyelesaikan pertikaian keluarga yg serupa. Awalnya, hak-hak dan keistimewaan diberikan pada pewaris lain. Terdorong rasa iri, Muhammad menyatakan bahwa Allah telah berkata padanya, bahwa ialah pewaris sebenarnya.

Hadis yang memberatkan ini terus mengekspose akar pagan Islam. Setiap detail terkecil adalah bagian dari Islam. Tabari VI:25 “Kemudian Ia [Qusayy] memberi Abd al-Dar rumah dimana kaum Quraysh selalu membuat keputusan, dan memberinya jabatan juru kunci Ka’abah, hak menyatakan perang, memimpin majelis, dan mengumpulkan rifadah, pajak yang dipungut dari kaum Quraysh sesuai kekayaan mereka disetiap musim haji dan diserahkan pada Qusayy. Pajak ini diberlakukan pada kaum Quraysh oleh Qusayy, yang sewaktu memerintahkan hal tsb, berkata ‘Wahai Quraysh, kalian adalah tetangga Allah, umat Ka’abah dan umat tempat suci Masjidil Haram. Para peziarah adalah tamu Allah dan pengunjung RumahNya.’ Demikianlah, setiap tahun mereka mengumpulkan pajak harta mereka dan memberikannya pada Qusayy, yang akan menggunakannya untuk peziarah selama hari-hari Mina. Aturan ini menjadi urusan dalam kaum Quraysh selama masa Jahiliyah hingga Allah membawa Islam, dan menjadi bagian dari Islam, terus sampai saat ini.” Ishaq:57 “Utusan Allah berkata, ‘Kesepakatan apapun di masa Jahiliyah, Islam memperkuatnya.’”

[…]. Penipuan berkedok agama telah dirinci hingga detail terkecil. Muhammad jadi tinggal COPAS DOANG dari Qussay!

Qusayy adalah model nabi tunggal. Dewanya, Allah. Persis rukun pertama Islam. Solat sujud adalah kewajiban yang dilakukan dengan menghadap Ka’aba — rukun kedua. Pajak agama, atau zakat, ditetapkan dan dikumpulkan atas nama Allah —
rukun ketiga. Ibadah haji ditata dan dijalankan secara detil di semua aspek ritualnya – rukun kelima. Dan dalam perjalanan menuju Mekah, Qusayy menerapkan bulan suci Ramadhan serta puasa Tahannuth (menahan hawa nafsu) –
rukun keempat.

————–Syahadat–solat–zakat–puasa–haji——————-

Tapi, seperti yang terlihat, semua rukun Islam tsb, hanya sebatas ganti pajangan etalase. Pondasi doktrin yg mendasarinya adalah ‘tunduk’ – kepatuhan total. Tabari VI:25 “Kaum sesuku Qusayy sangat menghormati dan menghargainya. Tak seorangpun menentang kekuasaannya dengan cara apapun.” “Perintah-perintahnya tak pernah diabaikan dan tak ada yang menentang tindakannya.”

Ishaq:56 “Qusayy tak pernah dibantah, juga tidak pernah ada tindakan yg hendak menggulingkannya.” Agama adalah tamengnya. Tabari VI:24 “Otoritasnya di kalangan Quraysh di sepanjang hidupnya dan setelah kematiannya seperti sebuah agama yang diikuti umatnya; mereka selalu bertindak sesuai ajarannya.”

Image
Makna kepatuhan adalah PEDANG. Itulah yang mendirikan Islam. Muhammad akan menggunakan umbul-umbul perang Qusayy untuk memprakarsai sejumlah besar serangan teroris. Barang-barang jarahan u/ membiayai ‘agama’nya dan ‘menginspirasi’ para pengikut awalnya. Sementara bagi Qusayy, motif sebenarnya adalah uang. Yang mereka miliki bukan berasal dari kejujuran. Kekayaan mereka bukan dari hasil kerja keras, tapi dari jarahan, barang rampasan kepunyaan orang lain. Nyatanya, pembagian harta jarahan termasuk inspirasi pertama rukun Islam. Bukhari: V1B2N50 “Rasul, memerintahkan kami melaksanakan perintah agama agar dapat masuk surga. ‘Nabi bertanya pada mereka, ‘Tahukah kalian apa artinya percaya kepada Allah semata?’ Mereka menjawab, “Allah dan Rasulnya lebih mengetahuinya.’ Nabi berkata, ‘Artinya: 1. Bersaksi bahwa tak ada yang layak disembah kecuali Allah, dan Muhammad adalah Rasul Allah. 2. Melaksanakan sembahyang dengan sempurna. 3. Membayar kewajiban Zakat. 4. Melaksanakan Puasa Ramadhan. 5. Dan memberikan 1/5 dari harta jarahan untuk Allah.’”

Syahadat—solat—zakat—puasa—BARANG JARAHAN!

Patuh pada Allah atau Islam, sesuai ajaran Qusayy, didefinisikan sbb: mengakui Muhammad sebagai otoritas tunggal, menyembah, membayar pajak, melaksanakan ritual pagan dan membagi harta jarahan, hasil dari serangan teroris.

Di bawah pengawasan bapak kaum Islam ini, Mekah berubah dari semacam lubang pasir yg hina dan tercela menjadi suatu penipuan berkedok agama yang luarbiasa. The Ka’aba Inc menjadi bisnis keluarga yg menunggu sentuhan akhir sang promotor paling besar sepanjang masa – cucu cicit Qusayy, yi Muhammad. Dalam jangka waktu seratus tahun saja, sekumpulan pondok lumpur, tumpukan batu bobrok, tumbuh menjadi suatu tour de force (usaha yg mengagumkan). Dan dalam waktu dua ratus tahun, dengan sedikit kelicikan dan plagiarisme, pengikut ‘agama’ ini menaklukkan dunia beradab.

Ψ † с ბ

TAPIIII kekayaan Qusayy justru mengakibatkan pertengkaran keluarga. Abd al-Dar gagal mengemban tugas yang dibebankan padanya. Abd al-Uzza dan Abd merebut kunci kekuasaan. Mereka menjadi pewaris pajak keagamaan. Tak seorangpun, seperti yang kita ketahui, boleh makan, minum, berkelahi, beribadah, atau memutuskan perkara tanpa izin tertulis mereka… Maaf, maksudnya izin verbal. Maklum, mereka buta huruf. \:D/

Tiap putra Qusayy menganggap dirinya lebih layak dari yang lain. Maka terjadilah pertikaian keluarga antara Yang Terpilih (Abd al-Dar) dan Pihak Sekutu (Abd al-Uzza dan Abd). Dengan suatu langkah keputusan yang akan membuat bangga Neville Chamberlain, perdamaian diraih dengan membagi dua warisan. Air untuk peziarah dan pungutan pajak dikontrol klan Abd Manaf. Akses ke Ka’abah dan hak menyatakan perang jatuh pada keluarga Abd al-Dar. Pembagian ini terus berlanjut di Mekah hingga seorang anak yatim dari garis keturunan yg sama merampas semuanya (Muhammad).

Artefak sejarah yang paling menarik dari Arab abad ke-6, menuntun kita langsung pada si anak yatim. Kejadiannya di Tahun Gajah, yang menurut sarjana Islam jatuh di 570 M. Mereka menjadikannya cerita sensasional yang dimasukkan ke dalam catatan sejarah Islam. Tapi, maaf saja, cerita tsb, sama sekali tidak benar. Riset arkeolog membuktikan kejadian sebenarnya terjadi di tahun 552 A.D.

Menurut Islam, peristiwa penting tsb, dibuka dengan cerita yang menghebohkan. Ishaq:4 “Rabi’a dari Yemen mendapat suatu mimpi yang menakutkan. Jadi ia memanggil para peramal, ahli sihir, pelihat dan ahli perbintangan ke kerajaannya.” Para pengikut okultisme ini berkata, mimpi tsb meramalkan ada invasi Iblis dari Afrika, yg akan digagalkan dengan kedatangan seorang ‘nabi sesungguhnya’ (coba tebak siapa?): “Atas nama Naga dari dataran lava, Aku bersumpah, orang-orang Ethiopia akan menyerang….Seorang nabi sesungguhnya yang kepadanya wahyu disingkapkan akan mengakhiri segalanya.” Para penyembah Iblis tsb mengaku, “Seorang Rasul akan datang membawa kebenaran dan keadilan bagi pengikutnya dan juga kebaikan” Kamu takkan mengira kalau Iblislah yang mengungkapkan berita kedatangan sang Rasul.

Para peramal meneruskan ramalannya: Ishaq:5 “Sudah niatnya [nabi] untuk menghancurkan kaum Yahudi di sekitarnya. Dalam ayat puitis mereka memperingatkan: ‘Dalam kemarahan thp dua suku Yahudi yang tinggal di Yathrib yang sangat pantas mendapat penghukuman di hari yang menentukan itu.”

Sekumpulan pemuja Iblis yg meramalkan kaum Yahudi akan dibinasakan sang nabi. Dikatakan, mereka memperoleh kutipan ini dari beberapa rabbi: “Akan datang pasukan yang mencoba menghancurkan kuil di Mekah, karena kita tahu tak ada kuil lain di tanah yang telah dipilih Allah untuk dirinya.. Para rabbi berkata pada Rabi’a untuk melakukan apa yang dilakukan penduduk Mekah: ‘Mengelilingi Ka’aba, meyembah dan dan menghormatinya, mencukur kepala, serta bersujud di tempat sucinya.’ Menyadari kebenaran nasihat ini, raja kemudian memotong tangan dan kaki mereka lalu melanjutkan pergi menuju Mekah.”

Para rabbi itu dikatakan pula telah menarasikankan sebuah puisi cukup panjang dari “buku-buku suci mereka, yang mengutip Taurat.” Beberapa baris diantaranya membenarkan keberadaan Ka’aba dan apa yang akhirnya dilakukan Muhammad atasnya: Ishaq:12 “Sebuah rumah, harta kuno di Mekah. Harta karun yang hendak kurebut.” Kemudian, dikatakan mereka telah menulis ayat ini — salah satu ayat paling memalukan di Qur’an: “Dhu’l-Qamain [Alexander Agung] sebelum saya adalah orang Islam…dengan pengetahuan yang benar. Ia menyaksikan tempat dimana matahari terbenam di kolam lumpur berbau busuk.”

Selain ada bukti cukup bahwa Islam adalah agama Iblis karena punya sejumlah “peramal, tukang sihir, pelihat dan ahli perbintangan” yang meramalkan kedatangan “seorang nabi sesungguhya yang kepadanya wahyu diberikan,” yang lebih mencolok lagi, kitab mereka bahkan menyatakan para penyembah Iblis tsb benar, Inilah yang dikatakan Ibn Ishaq: “Setelah membangun gereja, Abrahah, seorang raja muda dari Abyssinia, memimpin pasukannya ke utara.” Pasukan Abraha dari Afrika memang menyerang dan menundukkan Yemen. (Sbg tindakan menyingkirkan Dhu Nuwas dari Yemen yg menindas dan membunuh kaum Kristiani – anne) [url]http://en.wikipedia.org/wiki/Abraha).[/url]

Catatan sejarah non-Islam tak pernah menyebut tempat yg begitu sepele/tak berarti seperti Mekah (juga inskripsi abraha – anne) http://www.mnh.si.edu/epigraphy/e_pre-islamic/fig04_sabaean.htmsebaliknya tetua Islam yang maha bijak menuduh Abrahah ingin menaklukkan kota metropolitan mereka yg sedang berkembang pesat dengan niat menghancurkan Ka’aba. Mereka berkata bahwa sang raja muda bertekad memikat orang Arab pra-Islam meninggalkan penyembahan berhala mereka dan beralih ke katedral Kristen yang baru. Pastilah ide yang mengejutkan ini telah membuat batu-batu Ka’aba gemetaran.

Abrahah, diceritakan tiba di pinggiran kota dengan sepasukan besar tentara. Tapi yang membuatnya tampak hebat adalah tunggangannya. Sang raja muda menjulang di atas gajah yang maha besar. Sejauh ini, walau terbukti salah waktu dan tempat kejadian, kisah tsb kelihatannya oke saja. Abyssinia, saat ini disebut Ethiopia, jadi boleh-boleh saja raja mudanya menunggangi mamalia terbesar di daratan. Yang membuatnya tak masuk akal, yi, tak ada cukup makanan atau minuman agar gajah bisa bertahan di gurun pasir Arab, setidaknya bagi makhluk yang lebih ditekankan sebagai asset daripada fungsinya.

Singkirkan detail, kisahnya tiba di bagian yg aduhai. Ishaq:26[/i] “Mahmud [si gajah] membungkuk kapan saja ia diminta untuk menghadap Mekah. Kemudian Allah mengerahkan sekawanan burung, yang membawa batu sebesar kacang di paruh dan cakarnya masing-masing. Setiap orang yang terkena batu, tewas.” Tubuh mereka hancur, dagingnya luruh dari tulang. “Jemari Abrahah jatuh satu demi satu.”

Sudah tentu Allah bangga dengan prestasinya, dan dengan bantuan sobatnya, Muhammad, diceritakanlah kemenangan yg menggetarkan tsb dalam Qur’an. [i]Q105:1-5 “Have you not seen how your Lord dealt with the companions of the elephant? Did He not make their treacherous plan go wrong, ending in confusion? He sent against them hordes of flying creatures, pelting them with stones of baked clay. He turned them into stalks of straw devoured.”
“Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?, dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).”

Sebuah Hadist menjelaskan sifat wabah ini: “Siapapun yang terkena kerikil akan mulai menggaruk tubuhnya, merobek dagingnya.”

Sejarah menunjukkan bahwa sebenarnya pasukan Abyssinia menderita karena wabah cacar (di Arab dan sekitarnya.) Bahkan kitab Islam sepakat — dengan akibat dewa mereka dianggap seorang pembohong yg besar mulut. Ishaq:27 “Utba mengatakan padaku bahwa ia diberitahu kalau tahun ini adalah untuk pertama kalinya campak dan cacar air terlihat di tanah Arab.” Tradisi Islam sendiri menegaskan kenyataan yg mengejutkan, bahwa hal tsb sama sekali bukan mukjizat.

60 tahun sebelum orang Islam pertama menapakkan kaki di planet ini, Allah adalah dewa kaum pagan, dan Ka’aba, pusat ibadah umat Islam, adalah kuil pagan, kenyataan sejarah yang secuilpun tak dapat dibanggakan. Dalam keputusasaan u/ membuktikan Allah sosok yang nyata, umat Islam menghubungkan kisah-kisah aneh bin ajaib ke sosok ilahi mereka yang tak berdaya. Usaha yg baik tentunya, karena kisah aneh ini, terbukti merupakan satu-satunya mukjizat Allah.

Ketika Abdul Muthalib, kakek Muhammad, raja Mekah dan jurukunci Ka’aba, mendengar kedatangan pasukan ini, ia berdoa pada Allah dan dewanya bahwa mereka (para berhala) harus berjuang sendirian. [i]Ishaq:24 [/i] “Allah, engkau tahu kami tak ingin berperang karena kami tak punya kemampuan….Seorang pria melindungi rumahnya, jadi Kau lindungilah RumahMu. Jangan biarkan patung mereka menggantikan patungMu nanti…Kalahkan kaum barbar hitam itu.” Tabari menambahkan, “Tapi jika Kau hendak membiarkan dan mengubah kiblat [arah sembahyang pemuja berhala Mekah 75 tahun sebelum Muhammad bersikeras itu keharusan dalam Islam], lakukanlah kehendakMu.”

Sebenarnya yang hendak dikemukakan Muttalib, “Bagiku pribadi, aku lepas tangan deh. Aku paham kok bisnis keluarga ini cuma tipuan. Menyenangkan sih, tapi setiap saat kita bisa membangun tumpukan batu baru lagi kalau musuh sudah pergi.”

Berlawanan dengan para revisionis Islam, orang Arab masa pra-Islam adalah para pecinta (suka puisi, kedamaian), bukan pejuang. Muttalib diduga telah memberitahu kaum Quraysh, “Jika kita tidak memberikan perlawanan, takkan ada pertumpahan darah.” Mengerti akan keadaan mereka sebagai para pedagang yang lemah, bukan militer, penduduk Mekah menanggapi saran Muttalib, pergi ke luar kota menuju perbukitan. Mereka membiarkan dewa-dewa berjuang sendiri.
Sampai disini, kita harusnya berhenti sejenak, karena ini berarti Islamlah yang telah mengubah para pecinta kedamaian ini menjadi para jihadist.

Para penganut Islam mula-mula, dalam usahanya memperingati prestasi Allah yang luarbiasa, mengatakan bahwa Muhammad lahir di Tahun Gajah. Hal ini membuktikan kalau ia adalah seorang nabi. Tapi, itulah masalahnya. Jika Muhammad lahir tahun 552 A.D., tahun dimana bukti sejarah menunjukkan bahwa Abrahah bergerak ke arah utara, pastilah Muhammad telah berusia 70 tahun saat menikahi istri favoritnya, gadis cilik berusia 6 tahun, Aisha. Dan jika umat Islam merasa perlu memalsukan suatu peristiwa agar Muhammad tampak sebagai nabi, apa yang hendak mereka katakan ttg kebenaran agama mereka?

Namun, ada secercah harapan di Mekah. Empat orang Arab menyatakan bahwa sudah waktunya mereka berhenti menyembah batu-batu. Dunia luar sudah lama menganut paham monoteis, terimakasih pada kaum Yahudi dan umat Kristen. Para pemimpin religius ini, disebut kaum Hanif, yg pada dasarnya monoteis. Ishaq:99 “Waraqa Naufal, Ubaydullah Jahsh, Uthman Huwayrith, dan Zayd Amr beranggapan bahwa kaum mereka telah mengkorupsi ajaran Abraham, dan batu-batu yang mereka kelilingi tak ada manfaatnya. ‘Tak dapat mendengar, tak bisa melihat, tak bisa terluka, dan tak bisa menolong.’ Mereka katakan pada kaumnya, “Peluklah suatu agama, yang demi Tuhan, belum kalian miliki.”

Walau hal ini sangat menggembirakan, sebaris kalimat benar-benar menghancurkan kredibilitas Muhammad dan membunuh Allah. Kaum Hanif ini bukan saja menginspirasi surah pertama Qur’an, mereka juga menginspirasi suatu gagasan pada Muhammad bahwa Islam adalah agamanya Abraham. Namun orang-orang ini berkata, “Batu-batu yang mereka kelilingi tak ada manfaatnya. Tak dapat mendengar, tak bisa melihat, tak bisa terluka, dan tak bisa menolong.” Heii…Batu itu adalah Allah. Satu generasi sebelum Rasul Allah mencuri Islam dari pewaris Qusayy, orang-orang Arab di kota mereka telah mengetahuinya. Dewa bulan mereka tak lebih baik dari minuman keras – sumber penghasilan dan harapan palsu, tak lebih.

Menurut Ishaq, Waraqa menjadi umat Kristiani. Kredibilitasnya segera melampaui agenda Muhammad. Ubaydullah memeluk Islam, dan tahun berikutnya menolak ajaran Islam, dan menjadi umat Kristiani. Ustman juga menjadi umat Kristiani, dan menjabat kedudukan tinggi di kekaisaran Byzantium. Tapii….”Zaid tetap tak berubah; ia tidak memeluk Yudaisme atau Kristen. Ia juga membuang agama kaumnya.” Sebagaimana yang akan kita lihat, Zaid membacakan puisi-puisi yang menjadi dasar surah-surah awal Qur’an. Ishaq:99 “Abu Bakr berkata bahwa ia melihat Zayd, sbg seorang pria tua yang bersandar pada Ka’aba, seraya berkata, ‘O Quraysh, atas nama Dia yang tanganNya menggenggam jiwa Zayd, tak seorangpun dari kalian yang mengikuti agama Abraham, kecuali aku. Oh, Tuhan, jika saja aku tahu bagaimana Engkau ingin disembah, aku akan menyembahMu, tapi aku tak tahu.’ Lantas ia menangkupkan muka dengan kedua telapak tangannya.” Hadist ini sangat menghancurkan Islam – khususnya bila kita lihat kesamaan dan keutamaan puisi-puisi Zayd yang terkandung dalam Qur’an. Walaupun puisi-puisi Hanif ini lebih tua dari Qur’an, kau akan lebih menghargainya saat puisi-puisi ini dicantumkan dalam konteks ‘wahyu-wahyu awal Muhammad.’

Orang berkata bahwa materi yang dicuri dari berbagai sumber mengakhiri plagiarisme dan menjadi riset. Jika ini benar, Islam adalah proyek riset Muhammad sewaktu ia mencurinya dari Qusayy, Zayd, dan kaum Yahudi.

Advertisements
This entry was posted in BAB 5 and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Bab 5 DAPATKAH QUSAYY MENIPU?

  1. anda sudah katakan Muhammad itu bodoh tidak mampu membaca, dan menulis secara logic bisakah ia membuat Quran, anak kecil juga bisa jawab, tetapi anda bisa memutar balik fakta yang sudah jelas, seluruh alam bersama isinya dibicarakan dalam quran, mungkinkah buatan muhammad saw, muhammad tidak pernah belajar kepada siapapun baik tentang Taurat, zabur dan Injil, apalagi sama Yahudi, bergaul juga tidak, bahkan nabi Muhammad saw dimusuhi, juga sama orang quraisy aja dimusuhi, pada zamannya, bacalah qurannya yang bener, kalau bisa anda buat, salah satu saja seperti yang ada dalam quran, sampe modar tidak akan mampu anda membuatnya, seperti yang dikeluarkan dari mulut Rasulullah Muhammad saw. biarpun anda seorang propesorpun, tidak ada manusia manapun yang mampu membuat seayatpun kalimah Allah ini, kalau pun anda ajak 1 juta atau lebih propesor macam anda, kembalilah kejalan Allah sebelum anda diqiamatkan (mati) neraka telah menunggu anda, sekarang saja anda sudah dineraka pusing mikirin Nabi Muhammad dianggap, engga bener, kabar gembira buat anda neraka telah menunggu,pasti anda akan cepat dimatikan lebih dahulu oleh Allah swt sebagai bukti saksi dihadapan Allah kelak, terusin aja jadi dajal itu urusan anda, keneraka. bodo amat kali gue pikirin, kok segitu aja repot sih aku ngga emosi dengan urusan anda, rugi kalo emosi tambah dosa, sama penciptaku Allah SWT yang Maha Benar segalanya…………….trimks.

  2. Polri says:

    Situs ini cuma berisi hasutan hasil olahan pecundang dan bertujuan memecah belah antarumat beragama. Kami minta segera hentikan provokasi konyol dan tidak bermanfaat ini.

  3. Rijka Ibon Denleer says:

    jij als maar niet LUCIFER…….kamu sudah seperti iblis,..bukan Muhammad….dasar laknat penghasut…semoga Allah-nya Muhammad membinasakan kamu…

  4. Mudatsir Latif says:

    orang tuli,bisu,buta mereka tidak akan kembali ke jalan yg benar..Tidak Akan Di beri Hidayah oleh Allah Swt..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s