Bab 6 JANTUNG KEGELAPAN

http://prophetofdoom.net/Prophet_of_Doom_06_Heart_of_Darkness.Islam

“Saya khawatir, Iblis telah merasukinya.”

Umat Islam dgn yakin hakulyakin berkata bahwa Islam, tidak seperti Yahudi-Kristen, memiliki catatan sejarah yang jelas. JELAS dari HONGKONG! Bukti justru menunjukkan sebaliknya. Para nabi dan patriarki Injil bisa membaca dan menulis, dan orang-orang yang sejaman dengan mereka juga melek huruf. Gulungan-gulungan tulisan mereka dibaca oleh masyarakat terdidik yang berjarak hanya satu generasi sejak tercatatnya kejadian. Sebaliknya, kitab-kitab Islam, semuanya bersandarkan tradisi lisan yang amat panjang. Tak ada satupun salinan Qur’an yang berusia kurang dari 100 tahun sebelum kematian sang nabi. Manuskrip hadis tertua saja berjarak 200 tahun dari kejadian yang ditulisnya.

Tradisi Islam menyatakan bahwa Qur’an pertama kali terkumpul menjadi sebuah buku dibawah arahan Abu Bakr, mertua Muhammad, selama ‘War of Compulsion’ (perang Ridda, saat Abu Bakr memerangi Muslim yg meninggalkan Islam dan berhenti membayar zakat begitu Muhammad wafat.)

Kalif pertama itu khawatir wahyu-wahyu ilahi Muhammad akan hilang karena sebagian besar penghafal terbaik menjadi jihadi. Menurut sebuah hadis tunggal, Umar, kalif kedua, mendesak Abu Bakr untuk mengambil suatu tindakan. Ingatan para jihadi adalah satu-satunya wadah rekaman ayat-ayat Qur’an, dan mereka sebagian besar sudah tewas di pertempuran. Hilangnya wahyu-wahyu Muhammad sudah diambang mata. Legenda mengatakan bahwa Zaid, penduduk asli Medinah dan salah satu pendukung Muhammad, diberi tugas mengumpulkan ayat-ayat Qur’an. Ia “mengumpulkan semua bagian-bagian Qur’an dari setiap sumber, dari helai daun, tulang, batu dan dari dada manusia.”
Menurut J.M Rodwell, salah seorang penerjemah awal Qur’an, “Zaid dan para pembantunya tidak menyusun semua bahan yang diberikan pada mereka dengan sistem tertentu, tapi hanya dengan menempatkan surah-surah yang panjang dan lebih dikenali terlebih dahulu. Penyusunan berdasarkan urutan kronologis sama sekali diabaikan. Surah-surat terakhir Medina sering diletakkan di depan surah-surah awal Mekah; surah-surah pendek di bagian akhir Qur’an adalah bagian-bagian awalnya; sementara surah-surah Mekal disisipkan di antara surah-surah Medinah, surah-surah Medinah tersebar diantara surah-surah Mekah.” :rolleyes: :rolleyes:

Para ulama Islam tidak menyanggah pernyataan Rodwell, dan hal ini mengkhawatirkan, karena itu berarti tak seorangpun (di masa Zaid) mampu melihat dengan cermat apakah sebuah surah itu wahyu atau bukan. Bahkan tak ada yg tahu kandungan sebuah surah. Semuanya campur aduk, benar-benar tak beraturan. Dan jika saja orang-orang yg sejaman dengam Muhammad segini bingungnya, mana mungkin mereka benar-benar bisa mengigat detail apa yg Muhammad klaim sebagai wahyu yang mahakuasa. :rolling:

Rodwell melanjutkan analisisnya dengan mengatakan, “Tampaknya Zaid menyusun bahan-bahan sesuai urutan yang diterimanya, seringkali mengabaikan kesinambungan subjek dan kesamaan gaya tulis. Jadinya, teks-teks tsb membentuk sebuah karya tambal sulam yg paling tak terbaca dan aneh, dan tidak menyampaikan gagasan apapun ttg perkembangan dan pertumbuhan setiap rencana yang tersimpan di benak para pendiri Islam, ataupun situasi yg mengitari dan mempengaruhi mereka.”

Setelah ‘memuji’ Zaid karena tidak ‘campur tangan sehingga merusak,’ Rodwell menambahkan, “sangat disesalkan karena orang-orang di masa itu tidak menghasilkan referensi sejarah, menyisihkan pasal-pasal yang berkontradiksi, atau mengecualikan pernyataan-pernyataan yg tidak akurat.”

So .. anda bisa melihat sendiri bahwa kompilasi pertama Qur’an adalah sesuatu yang kacau. Karya yang tak beraturan, campur aduk, saling berkontradiksi, dan tidak akurat. Lagipula, pernyataan Zaid yg mengumpulkan Quran dari daun2 dsbnya PUN tidak dapat dipercaya. Tidak ada fragmen (potongan2 benda) atau prasasti yang menjadi bukti kuat bahwa itu adalah ‘wahyu’ dan bahwa ‘wahyu’ itu disusun menjadi buku di bawah arahan Abu Bakr, Umar atau Zaid. Yang ada hanyalah tradisi lisan yang lemah yang menyatakan bahwa ini loh skenario terbaik yang terjadi. Bahkan, tak ada sepucuk surat-pun atau sebuah referensi sejarah dari negara-negara beradab yang ditaklukkan jihadi Islam, yg menyatakan Qur’an itu memang eksis.

Sebaliknya, ada 25.000 perkamen, gulungan, fragmen, dan surat2 Injiil kuno yang membuktikan ketepatan dan akurasi kitab suci Yahudi-Kristen. Bukti arkeologis yang selamat dari Qur’an abad pertama hanyalah sebuah 1) KOIN dan 2) inskripsi yang tertulis di Dome of the Rock di The Temple Mount, Yerusalem. Kedua fragmen inipun berbeda satu sama lain, juga berbeda dengan Qur’an saat ini. :rolleyes:

Empat buku Islam lainnya yang terdiri atas Sunnah: Sirah, Ta’rikh (Sejarah) dan Hadis malah sama sekali tidak didukung dengan bukti perkamen atau gulungan dalam rentang waktu 100 hingga 300 tahun setelah kejadian yg tercantum terjadi. Rodwell mengatakan,

“Biografi pertama Muhammad yang menjadi sumber informasi kita, ditulis Zohri yang meninggal 124 A.H. (736M) ; tapi karya aslinya sendiri, yang dikutip penulis-penulis sesudahnya, sudah tidak ada lagi.” Dengan kata lain, biografi karya Zohri ini MUNGKIN ditulis 100 tahun setelah kejadian, tapi tak seorangpun pernah menemukan salinannya. “Ibn Ishaq, yg wafat 151 A.H. (763M) menyusun sebuah biografi untuk kepentingan sang Kalif. Walau tak ada juga salinan aslinya, sebagian besar isinya disalin kembali oleh Hisham, seorang editor yang dikenal bias/menyimpang. Ia wafat 213 A.H.” Buku ‘Life of Muhammad’ karya Hisham, dimulai dengan suatu pengakuan mengejutkan. Ia berkata bahwa ia telah membuang bagian-bagian yang mendiskreditkan Muhammad dari manuskrip asli Ibn Ishaq. [-X [-X

Tabari tidak mengedit Sirat Ishaq untuk membuat Muhammad tampak lebih baik, tapi ia hanya merujuk ke tulisan yang lebih awal bila terdapat kontradiksi dengan kesaksian lisan miliknya sendiri, atau Hadis-nya. Tabari menyelesaikan ‘History of Prophets and Kings’ tahun 310 A.H. – TIGA RATUS TAHUN setelah kematian sang nabi. ‘Concise Encyclopedia of Islam’ menyatakan, “Karya Tabari menjadi sumber yang definitif (definitive resource ).” Tulisan-tulisan sejarahnya mengenai Islam nenjadi sumber tertua perkataan dan tindakan Muhammad yang tidak diedit dan konteks penurunan pewahyuan Qur’an. Ini juga berarti bahwa ada vakum 300 tahun yang hanya terisi oleh penyampaian lisan bagi satu-satunya koleksi Hadis asli yang sesuai kronologi atau konteks.

Rodwell, dalam kata pengantar terjemahan Qur’an pertamanya, berkata, “Dapat dipastikan bahwa Tradisi [lisan] ttg Muhammad tidak dituliskan setidaknya selama satu abad. Tradisi ini secara keseluruhan diambil dari ingatan orang-orang yg menjadi penutur ulang, yang sudah tentu diwarnai prasangka atau keyakinan mereka masing-masing dan kecenderungan menciptakan mitos dan rekayasa sesuai kepentingan masing2 golongan … Bagi para pembaca Tradisi Islam ini akan jelaslah bahwa baik mukjizat maupun peristiwa sejarah itu diciptakan untuk menjelaskan ayat-ayat [Qur’an] yang gelap dan membingungkan; dan bahwa Tradisi-tradisi yang lebih dini sebagian besar diwarnai unsur mitos.”

Ia melanjutkan, “Para penulis kuno [Ishaq dan Tabari] adalah satu-satunya sumber utama informasi yang (oleh Muslim) dianggap otentik mengenai kehidupan Muhammad. Dan untuk amannya dapat disimpulkan bahwa setelah sekian banyaknya penelitian yg dilakukan dengan tekun oleh para pengumpul Tradisi sahih di abad kedua hijriah, sedikit sekali atau bahkan tak ada lagi yang bisa ditambahkan pada gudang informasi yang terkait dgn detail kehidupan Muhammad ini, dan tidak ada lagi fakta-fakta yang dapat menjelaskan lebih jauh ttg teks Qur’an. Tak ada lagi catatan yang bertanggal lebih dini yang bisa dicakupkan (kedalam tradisi lisan ataupun tertulis ini).”

Para ulama Islam setuju dengan penilaian Rodwell karena masyarakat Arab Tengah di abad ke-6 hingga ke-8 memang buta huruf. Maka, Hadis disampaikan lewat ucapan dari mulut ke mulut selama beberapa generasi, dari ayah ke anak melalui serangkaian penyampaian yg disebut isnad.

Mari lihat masalah ini dari perspektif yg lebih kontemporer. Bayangkan kalau sekarang kita perlu merekonstruksi ulang sejarah Revolusi Amerika semata-mata berdasarkan tradisi lisan selama 9 generasi. Tanpa buku, surat, lukisan, atau gambar, kita tidak mungkin menyusun ulang ucapan-ucapan Cornwallis dan Washington atau menghidupkan kembali peristiwa seperti yang sesungguhnya. Bayangkan kalau sekarang, sejarah revolusi Amerika tsb ditulis di London, ribuan mil dari tempat kejadian sebenarnya—di Inggris, musuh Amerika dulu dan pihak yang kalah dalam perang Kemerdekaan Amerika (200 abad lalu, Inggris mencoba menjajah Amerika) .

Nahhh … bayangkan saja! Hadis pertama dan terbaik, Sunnah dan Sirat disusun di Bagdad, BUKAN Mekah atau Medinah, 2 hingga 3 abad dari peristiwanya. Dan, seperti menyusun kembali detil Revolusi Amerika di Inggris, tiap ulama Persia menulis dalam suasana politik yg kental dengan agenda pribadinya sendiri. Kalau orang Persia menulis sejarah Islam, maka sejarah Islam itu akan berbau Persia dan bukan Arab, karena tempat kelahiran [tulisan] itu adalah Bagdad (yg dijajah Muslim), bukan Mekah.

Okey okey … kalaupun semua ini tidak membuktikan salah atau tidaknya kitab2 Islam, kita tetap harus memikirkan ini: Jika Muhammad benar-benar seorang nabi, jika Allah benar-benar tuhan, dan jika Hadis dan Qur’an benar-benar diwahyukan dan didiktekan Tuhan, ke-akurat-an buku2 ini LUAR BIASA PENTINGYA. Nasib manusia tergantung pada setiap kata-katanya. Tapi, kalau yang digambarkan tulisan2 suci ini secara ‘akurat’ saja sudah menunjukkan Muhammad dan tuhannya sebagai mahluk2 yang lemah pikiran dan terganggu secara emosional, untuk apa lagi diperlukan saksi yang akurat dan terpercaya atas peristiwa tsb?

Tulisan2 sucinya saja menyebut nabinya gelo, terus–untuk apa lagi kita perlu bukti lain?? […]

[Oleh karena itulah timbul kebingungan diantara sesama Muslim. Hadis mana yang sahih dan mana yang lemah? Jelas baik kaum Muslim moderat maupun Muslim fundamentalis, menganggap hal yang mereka suka sebagai hadis kuat dan hal yang mereka tidak suka sebagai hadis lemah (dha’if). TAPI lucunya kedua2nya menganggap diri paling Islamiyah, sementara badan dunia yang mengatur ke-Islaman, spt Universitas Al Azhar di Kairo- saja juga bingung! Belum lagi antara Kairo dan Riyadh sering tidak akur ke-Islamannya. Pusiank deh Muslim. Kafir saja yang tidak pusing karena kafir tahu benar ayat2 mana dan hadis mana yang sudah diterapkan pada mereka (kafir).–ali5196] (*,) ](*,)

Kembali ke Hadis, kita temukan artefak penting terkait penduduk awal Mekah dan Ka’abah mereka. Ia juga tokoh dari Tahun Gajah. Abdul Muttalib, adalah sosok terkemuka di Mekah, penyembah berhala kaya yg lahir dua generasi sebelum Muhammad. Mewarisi garis keturunan Qusayy, ia menjadi juru kunci Ka’abah. Tabari VI:15 “Setelah kematian pamannya, al-Muttalib, Abdul Muttalib mengambil alih hak pembagian air dan konsumsi para peziarah, hak yang sebelumnya berada di tangan putra Abdul Manaf. Ia (Muttalib) sangat dihormati dan orang yang sangat berpengaruh, tak ada yang menyamainya.” Ishaq:62 “Saat tidur di makam Hagar dan Ishmael, suatu penglihatan memerintahkan agar ia menggali sumur Zamzam. ‘Allahu Akbar’ serunya. ‘Ini adalah sumur leluhur kita Ismael.” Tabari VI:15 “Ia mengeluarkan apa yang terkubur disana, yakni, dua rusa emas, pedang-pedang dan baju zirah. Ia meletakkan pedang2 tsb di pintu Ka’abah.” Sangat menarik, bahwa harta karun Ka’abah terdiri atas benda-benda yang akan digunakan Muhammad u/ merampok dunia: pedang dan baju zirah. Pintu ke rumah Allah dan jejak Islam, sama-sama menggunakan pedang.

Kepemilikan atas harta benda tsb ditentukan dengan cara pertaruhan. Panah dilempar ke kaki Hubal, “berhala terbesar.” Ishaq:64 “Muttalib berdoa pada Allah dan para pendeta melemparkan panah2. Pihak Ka’abah yg mendapatkan rusa emas tsb.”
Abdul Muttalib adalah, “orang pertama yang melembagakan kafilah dua tahunan.” Ia menjadi “orang pertama yang memberikan jaminan keselamatan pada Quraysh, yang memungkinkan mereka mengadakan perjalanan jauh dari wilayah/area suci Mekah,” – jaminan yang kelak dilanggar Muhammad.

Alkisah, suatu hari, sengat matahari yang terik menyiksa kota tak berpohon itu, disaat Muttalib berlelah membersihkan sumur Zamzam, Ishaq:66/Tabari VI:2 “Dikatakan, dan Allah Maha Tahu, Abdul Muttalib menghadapi kesulitan saat menggali Zamzam. Ia bersumpah, kalau ia diberi sepuluh anak laki-laki, untuk meringankan pekerjaannya dan untuk melindunginya, ia akan mengorbankan salah satu diantara mereka kepada Allah di Ka’abah.” Tindakan yg gegabah, karena pada akhirnya ia memang mendapatkan 10 anak lelaki. Jadi, sebegitu bodohnya percaya pada batu, ia melemparkan panah ke kaki Hubal untuk memutuskan anak mana yang akan dikorbankan. Ishaq:67 “Mereka terbiasa mengambil keputusan sesuai jatuhnya anak panah.” Anak paling bungsu terpilih. Namanya Abd-Allah, atau Budak Allah.

Mengapa menamai anaknya “Budak Allah” satu generasi sebelum nabi Islam mengklaim Allah sebagai satu2nya tuhan pencipta alam semesta? Jawabannya sama memalukannya dengan catatan sejarah agamanya. Karena yang dilakukan Muhammad sebenarnya adalah mempromosikan berhala Mekah, yi dewa bulan Allah, mengalahkan Hubal, Al-Lat, Manat, Al-Uzza, dan ratusan lainnya. […]

Ilmuwan Islam, Montgomery Watt, salah satu penterjemah Tabari dalam bahasa Inggris, menambahkan sebuah catatan kaki menarik. Katanya, “Nama [bukan kata] Allah secara menyeluruh telah [salah] diterjemahkan sebagai ‘Tuhan.’ Akan tetapi, perlu diperhatikan, bahwa di masa pra-Islam nama tsb tidak bermakna ‘Tuhan’ dalam arti monoteis. Hal ini diketahui melalui Qur’an (29:61 dan 39:38) bahwa orang Arab dimasa pra-Islam percaya kepada Allah sebagai salah seorang dewa yang lebih unggul diantara dewa-dewa lain yg juga mengakuinya.”

Allah adalah sebuah nama, seperti halnya “Yahweh” bagi Yahudi-Kristen. Tapi umat Islam sangat menginginkan dunia melihat sebaliknya. Karena jika Allah adalah nama diri – bukan kata – agama mereka adalah penipuan. Pencipta alam semesta tidak mungkin memiliki nama dewa.

BEGINI YAHHH … (Pelarajan bahasa)…

Bahasa Arab, seperti halnya bahasa Ibrani, termasuk bahasa Semitik. Dalam bahasa Ibrani, kata ‘el’ berarti tuhan – huruf ‘t’ kecil – seperti untuk nama
berhala/dewa. Elohiym (ELohiym) berarti Tuhan, dengan huruf ‘T’ besar.

Dalam bahasa Arab, ‘el’ menjadi ‘il.’ dan dalam perkembangan waktu il menjadi ‘illah.’ Dan ‘al’ adalah kata Arab untuk ‘the.’ Umat Islam ingin kita percaya bahwa ‘Allah’ adalah gabungan dari ‘al’ dan ‘illah’ yang artinya: Tuhan dgn huruf ‘T’ besar, spt Elohiym.
TAPI, rukun pertama Islam (syahadah) bertentangan dengan ini!

Syahadat berbunyi: “La illaha illAllah” atau: Tiada ilah selain Allah yg sebenarnya berarti: Tiada dewa selain Allah.

Jika ‘Allah’ memang berarti Tuhan/Elohiym, maka seharusnya syahadat akan berbunyi, “La allaha illAllah” atau: Tidak ada allah kecuali Allah” yang berarti: Tiada tuhan selain Allah.

Terlebih lagi, Qur’an sendiri menggunakan ‘Illah’ waktu Allah mengklaim sebagai “Tuhan [nya] Abraham/illahul Ibrahim” (Q2:132).

JADIIII satu-satunya cara umat Islam dapat mengklaim Allah, bukan Illah/dewa sbg ‘Tuhan/Elohiym’ adalah dengan cara menyatakan Qur’an telah menyimpang atau menyatakan penulisnya (Allah atau Muhammad) sbg bodoh atau penipu. Lebih jauh lagi, ada ratusan bahkan ribuan hadis yang menegaskan
bahwa Allah adalah nama dewa pagan terkenal (setidaknya di Mekah). Kitab-kitab mereka sendiri mengakui bahwa Allah punya peran sebagai salah satu berhala batu, ratusan tahun sebelum akhirnya berubah peran dari tuhan [god] menjadi Tuhan [God], dari ilah menjadi Allah. Semua ini menghancurkan mitos paling mendasar Islam, “Kita semua menyembah Tuhan yang sama.” :rock:

Okay … anda belum bingung? :finga:

Kembali ke Mekah: Ishaq:67 “Ketika ke-sepuluh putra Abdul Muttalib tumbuh dewasa dan ia tahu bahwa mereka akan melindunginya, ia mengatakan pada mereka ttg sumpahnya, serta meminta agar mereka tetap percaya teguh pada Allah dalam hal ini. Mereka menunjukkan kepatuhanmya, dan bertanya apa yang harus mereka lakukan. Ia menjawab, “Baiklah masing-masing kalian mengambil sebuah anak panah, tulis nama kalian disitu, dan bawalah padaku.’ Mereka melaksanakannya, dan ia [Muttalib] pergi menghadap Hubal dalam Ka’aba. Hubal adalah berhala terbesar kaum Quraysh di Mekah.” Ibn Ishaq, pengumpul awal Tradisi Islam, mengatakan pada kita bahwa dewa tertinggi Ka’abah adalah Hubal – bukan Allah. Bukankah ini membuat Allah (yang juga tuhan kedua dlm Qur’an setelah Ar-Rahman) menjadi sosok ilahi di peringkat kedua?

Papa Muttalib mulai memikirkan ide lain. Lantas ia keluar dan berkonsultasi dengan seorang peramal, berharap mendapat petunjuk yang ‘benar.’ Tabari VI:2 “Demi Allah! Tidak seharusnya kau mengorbankan dia [Abd-Allah], tapi untuk itu kau harus punya alasan.” Ini terdengar cukup polos, sampai kau sadari bahwa orang yang bersumpah atas nama Allah itu adalah seorang penyembah IBLIS. “Ada seorang dukun sihir [perempuan] yang memiliki roh pembantu; bertanyalah padanya, dan kau akan tahu apa yang harus dilakukan. Jika dia memerintahkanmu untuk mengorbankannya [Abd-Allah], kau akan mengorbankannya, dan jika ia memerintahkanmu melakukan suatu keringanan untukmu dan anakmu, kau boleh menerimanya.” Dukun sihir adalah medium/perantara okultisme. Roh-roh yg membantu pekerjaan mereka adalah roh setan/jin.

Jerat di sekeliling leher Islam bertambah ketat. Ada banyak dewa/tuhan di Ka’abah dan seorang penyihir memutuskan nasib ayah Muhammad, “Kemudian mereka pergi ke Medinah, tapi dukun sihir yg mereka cari sudah pindah ke Khaybar. Mereka menempuh perjalanan untuk menemuinya. Dukun sihir perempuan ini berkata, “Menjauhlan dariku sampai roh yg membantuku datang dan saya dapat menanyakan padanya. Abdul Muttalib berdiri dan berdoa pada Allah.” Inilah gambarannya: seorang pemuja berhala berdoa kepada Allah dengan cara Islam di hadapan seorang pemuja Iblis. Jadi, menurutmu apa yg akan harus dikatakan si wakil Iblis? Akankah ia mengampuni papanya Muhammad dan dengan demikian mengizinkan lahirnya Islam?

Iblis pastilah menyukai Islam karena… ,“Di hari berikutnya saat mereka menghadap. Si dukun sihir berkata, ‘Ya! Telah diberitakan padaku. Berapa banyak uang darah yg kau punyai?’ Mereka menjawab, ’10 ekor unta.’ Ia berkata, ‘Bawalah si anak muda dan kesepuluh unta tsb, dan lemparkan panah. Jika panah2 tsb jatuh mengarah si anak, tambahkan jumlah unta sampai tuhanmu [mungkinkah itu Iblis, Hubal atau Allah?] ,puas.”

Kita lanjutkan cerita Ishaq: Tabari VI:5 “Saat kesepakatan tercapai, merekapun kembali ke Mekah. Abdul Muttalib berdiri dan berdoa pada Allah di dalam Ka’abah di samping Hubal. Panah-panah jatuh lagi menghadap Abdullah, jadi mereka tambahkan jumlah unta, menjadi 20. Sembari Muttalib berdiri dan berdoa pada Allah, mereka ulangi cara ini sebanyak 10 kali. Setiap kali anak-anak panah jatuh mengarah pada Abdullah.”

Tabari menjelaskan saat yg paling mengerikan: “Abdul Muttalib
berdiri di sisi Hubal di dalam Ka’abah, berseru kepada Allah. Si penjaga anak panah mengambil dan melemparnya dan jatuh lagi mengarah pada Abdullah. Kemudian Muttalib meraih tangan Abdullah. Menjangkau sebuah pisau besar. Lantas pergi ke depan patung Isaf dan Nailah [dua patung berzina] yang digunakan kaum Quraysh sbg tempat menyembelih kurban, untuk mempersembahkan Abdullah.”

Namun, bukannya memotong leher putranya, Muttalib malah mengambil kesempatan sekali lagi untuk melempar panah2 takdir. Panah2 itu akhirnya mendukung posisi Abdullah. Jadi, Abdullah, batu, berhala, peramal, dan dukun sihir akhirnya mencapai kesepakatan. Abdullah selamat. “Akhirnya tuhanmu puas. Unta-unta disembelih dan ditinggal disana. Tak ada manusia atau hewan yg tak mengindahkannya.”

“Abdul Muttalib menggandeng Abdullah dan melintas di depan Umm Qattal bt. Abd al-Uzza [pelayan dewi al-Uzza], saudara perempuan Waraqa [yang Hanif], yang berada di Ka’abah. Saat melihat wajah Abdullah, ia berkata, ‘Kau hendak kemana Abdullah? Kulihat banyak unta dikorbankan untukmu, tidurlah denganku.’” WOHOOOWWW … enak banget nih papa-nya Muhammad. Setelah selamat ga jadi korban, ia dapat bonus ditawarkan tidur pula dgn pelayan dewi al-Uzza! :partyman:

Sang opa yg kini raja Mekah, juru kunci Ka’abah dan pemilik bisnis The Ka’aba inc, kini membawa putranya ke orang terkaya dan terkuat dari klan Bani Zurah dan mengatur pernikahan antara Abdullah dan putri kepala klan, Aminah. Nenek Aminah adalah Abd al-Uzza, sehingga menurut Ishaq, sempurna secara ‘garis keturunan dan status.’ (Selain juga, Abdullah dan Aminah saudara sepupu dari garis keturunan ayah!—ali5196)

Amat mengherankan memang mengapa Bukhari, Tabari dan Ishaq mencatat kisah2 mesum ini. Muhammad dan pendahulunya memuliakan batu. Namun, ia memilih untuk mengabaikan masa lalunya yg memalukan ini dengan mengalihkan perhatian pada merevisi sejarah Yahudi agar pengorbanan di belakang kuil Ka’abah terlihat monoteistik. Ia bilang, bapak kaum Ibrani, Abraham sendiri hampir mengorbankan Ishmael di rumah Allah. Jadi kita (Muslim dan Yahudi)
sama kok! Gile! Muhammad lupa bahwa Yahudi sendiri tidak menganggap Abraham dan keturunannya sbg insanul karim dan rahmatul alamin yang setiap kelakuannya harus di-copas dari jaman ke jaman.

OKAY kita lanjut! :prayer:

Tarik nafas panjang dulu. Hadis berikut dimulai dengan kalimat panjang. Tabari VI:6 “Dikatakan bahwa ia (Abdullah) bermalam sbg suami istri dengan Aminah segera setelah menikah, dan Aminah mengandung Muhammad; lantas Abdullah pergi dari hadapan Aminah dan mendatangi perempuan yg telah menawarkan diri padanya, dan berkata, ‘Mengapa kau tidak memberikan penawaran hari ini sebagaimana kemarin?” Dan ia menjawab, “Cahaya yg ada padamu kemarin telah hilang, dan aku tak memerlukanmu hari ini.”

WOOOWWW .. ayahnya Muhammad tertarik berzinah!

Ingat, Hadis ini ditulis di Bagdad berabad2 setelah kematian Muhammad. Di saat itu, para ulama Islam yang menuliskannya punya agenda yg telah dirancang dengan baik. Secara khusus, mereka harus membuat tokoh mereka sebagus tokoh umat Kristiani (atau tokoh umat penganut kepercayaan Zoroastrian, penduduk asli Persia) atau mereka akan tersingkir. Injil menyatakan bahwa Kristus adalah Terang Dunia, jadi umat Islam membuat Hadis ini agar nabi mereka terlihat sama-sama membawa terang. Dengarlah baris dari Tabari berikut ini, “Ia (Umm Qattal–adiknya Waraqa yg menawarkan diri tidur dengan Abdullah, papanya Muhammad) telah mendengar hal ini dari saudara laki-lakinya, Waraqa bin Nawfal, orang Kristen (tadinya Hanif) yg telah mempelajari kitab suci; Ia (Waraqa) menemukan bahwa seorang nabi dari keturunan Ismael dikirim ke masyarakat ini; ini adalah salah satu hasil kajian Waraqa.”

Omong kosong. Kitab Ibrani tak mengatakan apapun ttg keturunan Ismael, kecuali bahwa mereka berlaku seperti keledai liar, yang tangannya akan menentang semua saudara-saudaranya dan bahwa mereka akan hidup dalam permusuhan dengan seluruh dunia. Nubuatan memang, tapi sama sekali bukan ttg seorang nabi.

Mengapa ulama Islam memilih untuk menipu kita? Karena mereka HARUS melakukannya. Tentu saja, dalam komunitas sesama umat Islam tipuan mereka bisa berhasil. Kebohongan yg dibuat nabi mereka agak mirip, tapi lemah/cacat. Dan orang-orang Arab terlalu bodoh. Mereka buta huruf, dan bahkan segelintir orang yg bisa membaca, tak dapat membaca Perjanjian Lama. Tak ada jejak sejarah adanya Perjanjian Lama dalam bahasa Arab sebelum Saadias Gaon, tahun 900M, satu dekade setelah khayalan ini dibuat. Perjanjian Baru dalam bahasa Arab diterbitkan oleh Erpenius tahun 1616 dari sebuah transkripsi gulungan Koptik, th. 1171.

Diwilayah2 yg dikuasai para panglima perang Islam, dari abad ke-7 hingga ke-10, kebenaran Quran tidak relevan. Islam tumbuh dengan pedang melalui
penaklukan, bukan lewat kata-kata atau otak/akal. Siapapun yg mengambil keuntungan dari tipu muslihat ini tahu bahwa saat kebohongan mereka akan di-ekspose; kemenangan telah diraih Muslim dan mereka bisa melanjutkan tipu daya mereka.

Pertimbangkan hal ini: Tabari VI:7 “Ketika Abdul Muttalib hendak membawa Abdullah u/ menikahi Aminah, mereka melewati seorang peramal perempuan bernama Fatimah, seorang pemeluk Yudaisme dari kaum Tabalah, yg telah membaca kitab suci dan melihat cahaya di wajah Abdullah. ‘Anak muda,’ katanya, ‘maukah kau tidur denganku sekarang, dan aku akan memberimu seratus ekor unta?” :tonqe: :tonqe: :rolleyes: ” /> [-X

Abdullah, dapat penawaran tidur, setelah dengan Umm Qattal (pemuja berhala) lalu dgn Fatimah (Yahudi yg monoteis)? :prayer:

Pengabsahan nabi Islam dari seorang Kristen gadungan (Waraqa) tidak cukup. Sekarang, seorang peramal Yahudi diminta memverifikasi cahaya tsb. Tapi mengapa seorang Yahudi bereaksi demikian? Kitab suci Yahudi-Kristen tak mengatakan apapun – NOL, nihil, bohong besar – ttg ayah seorang nabi yang punya cahaya di wajahnya. Terlebih, Yudaisme dan peramal sangat berbeda jauh. Penganut agama Yahudi berbakti pada Yahweh; peramal berbakti pada Iblis.

Pengakuan jenis ketiga berikut memperlihatkan keputusasaan memperbaiki kredibilitas Abdullah yang rendah. “Ayahnya membawanya u/ menikahi Aminah dan mereka tinggal bersama selama tiga hari. Kemudian ia (Abdullah) meninggalkannya (Aminah) dan sewaktu berpapasan dengan seorang perempuan Kahth’am, ia merasakan keinginan u/ menerima tawaran yang pernah diajukan perempuan tsb. Ia berkata, ‘Maukah kau memperoleh apa yg kau inginkan?’ ‘Anak muda,’ katanya, ‘Demi Tuhan aku bukanlah perempuan bermoral rendah. Aku melihat cahaya di wajahmu dan menginginkannya dalam diriku. Tapi Allah berkehendak menempatkannya di tempat lain.” Pemuja Iblis menginginkan anak Iblis. :prayer: :snakeman:

Kemudian si peramal, hamba Allah/Iblis ini, “mengutip ayat berikut: ‘Aku melihat suatu tanda yg bersinar di awan hitam. Aku memahami tanda itu sbg cahaya yang bersinar seperti bulan purnama. Aku berharap memilikinya sebagai sumber kebanggaan yg kan kubawa bersamaku….Demi Allah, tak ada perempuan lain yg telah merampas milikmu seperti Aminah…Tidak semua keberuntungan yg diwarisi pemuda datang dari ketetapan hati, juga tidak semua yang lepas dari dirinya dikarenakan kelalaian. Jadi, jika kau menginginkan sesuatu, kendalikanlah diri karena dua kakek disatukan untuk memastikan itu untukmu. Dengan tangan terkepal atau terulur ini akan dijamin untukmu. Ketika Aminah mengandung benih darinya, ia mengandung suatu kemuliaan yg tak tertandingi’”

Pasal ini dibuat berbelit-belit dengan kata-kata isyarat tipuan Muhammad, sampai pastilah sang pencatat tertawa terbahak2 saat pena-nya menyentuh kertas perkamen. Ia jelas semakin bingung hingga kronologinya dicampur aduk.
Sebuah cerita sederhana yg sekali lagi memperlihatkan kebohongan Islam.

Abdullah tak sampai menyaksikan kelahiran anaknya. Ayah sang nabi meninggal dalam perjalanan dagang ke Yathrib. 52 tahun kemudian, puteranya melakukan perjalanan dagang yg sama dan menjadi seorang pengeruk untung.

Dalam usaha menjadikan Muhammad tampak seperti ‘Messias,’ gambaran kelahirannya dibuat spektakuler. Ada kembang api (batu api), pengunjung agung (Abrahah), malaikat, dan sejumlah keajaiban. Salah satu yang paling menggelikan, adalah jiplakan dari Injil. Ishaq:69 “Dikatakan dalam kisah-kisah popular (dan hanya Allah yg tahu kebenarannya) bahwa Aminah, ibu dari Rasul Allah, saat hamil berkata, ‘Ada suara berkata padaku, “Kau mengandung Tuhan dari orang-orang ini, bila ia lahir katakanlah, Aku menyerahkannya ke dalam asuhan Yang Tunggal dari kejahatan orang-orang yang iri; dan berilah ia nama Muhammad.” Ia melihat sebuah cahaya keluar dari dirinya dan ia bisa melihat kastil-kastil di Syria.”

Rasa iri yg mendorong Muhammad untuk menciptakan Islam. Diasuh oleh Si Tunggal yg Jahat – atau Iblis – yang mungkin telah menginspirasinya.

Kebenaran yg memalukan. Ulama-ulama Islam hanya tahu sedikit ttg kelahiran Muhammad, terlebih masa kecilnya. Ada 18 tahun yg hilang, saat mereka mengklaim ia lahir di tahun gajah, 552 A.D. Hanya untuk mencocokkan dengan profil Qusayy, yg merebut Ka’abah di usia 40, maka sejarawan Islam mengklaim Muhammad lahir 570 A.D. – tepat 40 tahun sebelum ‘wahyu’ pertama.’ Hilangnya masa 18 tahun ini membuat semua kesaksian lisan Islam patut dipertanyakan. Sbg contoh, kejadian ini sebenarnya tidak ada, Ishaq:70 “Aku mendengar seorang Yahudi berseru dengan suara kencang dari Yathrib, ‘Oi, kaum Yahudi, malam ini telah terbit sebuah bintang di atas tempat kelahiran Muhammad.’”

Lahir tanpa ayah, ibu Muhammad-pun menelantarkannya, menyerahkannya untuk disusui seorang perempuan Badui. Tapi karena tak punya ayah dan ibu miskin, tak ada ibu susu yang menginginkannya karena bayarannya tak memadai. Membesarkan anak orang lain di gurun yg tak bersahabat, dilakukan demi uang semata, bukan karena cinta. Diceritakan, salah seorang ibu susu yg paling tak berkualifikasi, setelah gagal memperoleh anak asuh dari keluarga berada, dengan enggan mengambil satu-satunya yg tersisa, sang nabi masa depan, dan membawanya ke gurun. Ishaq:70 “Halima berangkat dengan bayinya, bersama para perempuan lain yang mencari anak susu untuk diasuh. Ia sangat miskin dan tak dapat tidur karena tangisan anaknya yg lapar. Ia tidak punya susu untuk diberikan.” Sebenarnya Halima tak layak untuk menyusui bayi lain.

Ishaq:71 “Ketika Halima mencapai Mekah, ia mulai mencari anak asuh: Rasul Allah ditawarkan pada kami semua, dan semua menolaknya saat dikatakan bahwa ia yatim, karena kami berharap mendapat bayaran dari ayah sang bayi. Kami berkata, ‘Anak yatim!’ Dan kami menolaknya. Semua perempuan yang datang bersamaku telah mendapat anak u/disusui kecuali aku. Dan saat kami hendak pulang, Aku berkata, ‘Aku tidak nyaman pulang bersama teman-temanku tanpa anak susu. Aku putuskan mengambil anak yatim itu.’ Aku mengambilnya semata-mata karena tidak ada pilihan lain.” Sangatlah berlebihan dibanding teori ‘cahaya.’ Dimana perempuan2 menawarkan diri pada ayah Muhammad karena menginginkan anak darinya, sementara tak seorangpun ingin mengasuh anak yg membawa cahaya itu. Benar-benar tak masuk akal.

Apa yang terjadi pada si bayi yang dibawa bersama tiupan pasir dan panas gurun, menjadi tanda tanya. Yang kita ketahui hanyalah bahwa sang bayi ditelantarkan ibunya dan diberikan pada perempuan yang tak cukup sehat untuk merawatnya. Satu-satunya kesaksian yang tercantum di Qur’an –- sebuah tema yg sudah sering diulang-ulang yg menyiratkan bahwa ia kemungkinan telah mengalami kekerasan fisik. Wahyu Allah jelas menyatakan seorang anak yg memiliki kerabat kaya ditelantarkan, diperlakukan buruk dan tersingkir dari bisnis keluarga – The Ka’aba Inc. Tema yg sudah terserap dalam buku Allah ini, memaksa kaum cendekia Islam memberi bumbu kenabian.

Ibn Ishaq menceritakan bahwa di usia 2 tahun, Halima membawa Muhammad kembali ke ibunya Aminah. Ishaq:72 “Tetapi ia (Aminah) mengirimnya balik. Beberapa bulan sepulangnya ke gurun pasir, dua pria berkulit putih menangkap anak itu, memaksanya berbaring dan membuka perutnya, dan melakukan sesuatu.” Dikatakan wajah Muhammad pucat pasi. “Halima berkata, ‘Aku khawatir anak ini mengalami serangan jantung, jadi aku ingin mengembalikannya sebelum terjadi sesuatu.’ Ia membawanya kembali pada Aminah dan berkata, ‘Aku takut ia jatuh sakit, jadi kupulangkan kembali padamu.’ Ia (Aminah) bertanya apa yang terjadi. Aku berkata, ‘ Aku khawatir Iblis telah merasukinya.’” Dia benar.

Muhammad memastikan kejadian ‘spiritual’ tsb. Ishaq:72 “Mereka menangkapku dan membuka perutku, mengambil dan membuka jantungku. Mereka mengeluarkan dan membuang darah kotor dari dalamnya. Mereka mencuci jantung dan perutku dengan salju hingga bersih.”
Muslim: B1N311 “Jibril datang pada Muhammad sewaktu ia sedang bermain dengan teman-temannya. Ia membaringkannya di tanah, membuka dadanya serta mengambil jantungnya. Lalu ia mengeluarkan gumpalan darah seraya berkata: ‘Itu adalah bagian Iblis yang ada di dirimu.’ Kemudian ia mencucinya dengan air Zamzan dalam baskom emas, menyatukan dan mengembalikannya ke tempat semula. Anak-anak berlarian ke ibunya dan berseru: ‘Muhammad dibunuh.’ Mereka bergegas ke arahnya. Aku sendiri menyaksikan bekas tanda jarum di dadanya.” Jika ini terjadi, pastilah perbuatan Iblis, bukan Jibril, dan ia meletakkan rohnya dalam diri Muhammad.

Pengambilan dan pencucian organ tubuh merupakan bagian ritual okultisme thp Iblis, jenis yang sama dimana ayah dan kakek Muhammad terlibat di dalamnya. Dan ironisnya, kalau ini terjadi, sebagai sebuah mukjizat, akan bertentangan dengan Qur’an yg menyatakan bahwa satu-satunya mukjizat yg berhubungan dengan Muhammad adalah Qur’an itu sendiri. Qur’an 21:5, adalah bantahan Muhammad thp kritik bahwa ia bukan nabi seperti nabi Yahudi-Kristen yg dapat melakukan mukjizat. Kenapa ia tidak membungkam pengritiknya dengan memberitahukan pengalaman masa kecilnya atau meminta pada tuhannya melakukan sesuatu.

Kesampingkan dulu masalah pembedahan abad ke-6, kaum cendekia Islam berkata bahwa sebelum tahun itu berlalu, Aminah meninggal dunia. Seorang gadis budak mengasuh pahlawan cilik ini sejenak sebelum kakeknya akhirnya menaruh perhatian. Walau berpotensi menimbulkan salah pengertian, kitab Islam menggambarkan kasih sayang Abdul Muttalib: Ishaq:73 “Ia akan mendudukkannya disampingnya di tempat tidur dan membelainya dengan tangannya. Ia sangat menyukainya dan terbiasa menimangnya.” “He would make him sit beside him on his bed and would stroke him with his hand. He was extremely fond of him and used to constantly pet him.”

Ini pernyataan langsung dari Iblis, Ishaq:79 “Ada seorang pelihat [nabi okultisme] yang datang ke Mekah untuk melihat Muhammad. Ia (perempuan) berkata, ‘Bawalah padaku anak itu, karena demi Allah, kulihat ia memiliki masa depan hebat.’” Selanjutnya, terjadi bencana lagi: Tabari VI:44 “Abdul Muttalib meninggal delapan tahun setelah Tahun Gajah. Ia percayakan pengasuhan Utusan masa depan kepada Abu Talib, pamannya, karena Abu Talib dan Abdullah saudara seibu.” Muhammad memiliki masa kecil yang sulit. Bisa dimengerti mengapa ia merasa sangat tidak aman atau mengapa ia berubah menjadi jahat.

Segala sesuatu yang berkaitan dengan Muhammad tidak menunjukkan ia seorang nabi. Kelahirannya tidak dinubuatkan. Situasi lingkungan dimana ia dibesarkan buruk. Ia tak dapat melakukan mukjizat. Tak pernah bernubuat yang kemudian terbukti. Kitab sucinya tak kepalang tanggung – tak ada konteks dan kronologi. Hanya berfokus pada kebencian, kekerasan, dan penghukuman. Agama ‘baru’nya hanyalah paganisme yang dikemas ulang, dicampur sejumlah besar plagiarisme dan cerita Alkitab yang diputarbalikkan. Ada sih sedikit kreatifitasnya, tapi tragis. Perang yang diangkat menjadi kewajiban agama yang terpenting. Penjarahan disetujui, juga pernikahan dengan anak-anak, pencurian, berbohong, pembunuhan, genosida, dan perkosaan, adalah beberapa diantara inovasi yang dibuat Islam. Surga menjadi tempat pesta birahi. Penggambaran neraka, lebih memberi tahu kita mengenai diri Muhammad sendiri, daripada mengenai suatu tempat. Kehidupannya lebih merupakan contoh apa yang seharusnya tidak dilakukan, daripada contoh bagaimana harus berkelakuan. Kemudian ada tuhannya—sosok penipu, pemarah dan sakit jiwa.

Menurut Qur’an, penduduk Mekah tahu bahwa sang nabi penuh dgn hal-hal spt itu. Mereka seringkali memperolokkannya di setiap kesempatan — ada banyak celaan orang dan jawaban sang nabi yg dikutip di kitab suci Islam. Tetapi, penduduk Mekah akhirnya ditaklukkan dan mengkritik sang nabi jadi permainan yang mematikan. Di kemudian hari, umat Islam juga dihadapkan pada kenyataan bahwa nabi mereka tidak memenuhi syarat saat mereka mengusungnya ke dunia beradab. Kaum terdidik tak dapat menemukan sifat kenabiannya, berdasarkan alasan2 yg telah kita kemukakan.

Hal-hal tsb menempatkan para panglima perang Islam di posisi yg sulit. Mereka telah menyerang semua pihak, dari India hingga ke Spanyol. Sekarang mereka perlu mengontrol wilayah taklukkannya. Dan mereka mengakui, tak ada cara yang lebih baik untuk menundukkan suatu kelompok masyarakat selain pemaksaan agama. Lantas, sekitar 150 tahun setelah kematian sang nabi, orang-orang Persia meluncurkan versi pertama ‘agama’ Islam. Kenyataan yg dihadapi sesuram kegagalan di Mekah. Kesimpulan mereka, “Orang ini bukan nabi dan benda ini bukan kitab suci.” Contohnya, Al Kindi, seorang polemicist (ahli debat tertulis) Kristiani, yg dipekerjakan di mahkamah Kalif, 830 A.D. menulis: “Akibat yg timbul dalam proses penyusunan Qur’an, yi, menjadi sangat jelas bagi mereka yg membaca tulisan-tulisan suci tsb, bahwa sejarah Islam campur baur dan tumpang tindih. Menjadi bukti bahwa banyak tangan yg terlibat di dalamnya, dan menyebabkan ketidaksesuaian, semaunya menambah atau memotong apa yg disukai atau tidak disukai. Sepertinya, lebih baik kalau wahyu baru diturunkan langsung dari langit.”

Lantas, kaum cendekia Islam menarik diri ke Baghdad, kembali ke meja kerja mereka. Selama seratus tahun tahun berikutnya, mereka memoles jagoan mereka dan bukunya, meluncurkan Islam baru yg sudah diperbaiki. Kali ini ada mukjizat serta ada tokoh Kristen dan Yahudi yg siap bersaksi atas nama sang nabi.

Mari dengarkan, tapi dengan telinga yg bijak, untuk melihat seberapa baik kaum cendekia memoles sang nabi Islam. Di bawah judul, “Rasul Allah Diakui oleh Rahib Bahira.” Tabari mengusung Hadist sejenis dengan Ishaq. Tabari VI:44/Ishaq:79 “Suatu ketika Abu Talib hendak mengadakan perjalanan dagang ke Syria bersama sekelompok orang Quraysh, tapi ketika mereka telah membuat persiapan dan hendak berangkat, sang Rasul, demikian menurut mereka, tak tahan bila berpisah dengan pamannya.”

Perhatikan! Tabari dan Ishaq berbagi satu set kode kata-kata. Waktu mereka mengatakan ‘so they allege,’ (demikian menurut mereka), ‘it is alleged,’ (diperkirakan), ‘it is said,’ (dikatakan), ‘some say,’ (banyak yg berkata), atau ‘Allah knows best,’ (Allah tahu yg terbaik), sesungguhnya mereka hanya melaporkan apa yang diperintahkan untuk mereka tulis. Mereka tidak percaya apapun lebih dari yg seharusnya.

“Talib jatuh kasihan padanya, ‘Demi Allah, dia akan kubawa serta, dan kami takkan terpisahkan,’ atau kata-kata spt itu. Kafilah berhenti di Busra [Bostra?] di Syria, dimana berdiam seorang rahib Kristen bernama Bahira di ruang sempit (biara?). Senantiasa ada seorang rahib di ruang sempit itu, dan pengetahuan mereka diteruskan, diperkirakan, lewat sebuah buku yang disampaikan dari generasi ke generasi.” Tak ada catatan sejarah mengenai rahib ini; ruang sempitnya, atau bukunya, selain yg dinyatakan Hadist ini. Tapi ini masalah kecil dibanding yg terjadi selanjutnya.

Tabari VI:44/Ishaq:79 “Bahira menyiapkan makanan untuk mereka karena sewaktu ia berada di ruangnya ia menyaksikan sang Rasul diteduhi oleh awan yg menandai dia diantara orang lain. Ketika mereka berhenti di bawah naungan pohon, ia melihat awan berada di atas pohon yg dahannya merunduk di atas Muhammad shg ia diteduhi. Buhairah keluar dari ruangnya dan mengirim pesan pada kafilah, mengundang mereka semua. Ketika melihat sang Rasul, ia mengamatinya dengan cermat, mencatat ciri-ciri orang yg gambarannya ada dalam kitab Kristen.”

Nabi-nabi Yahudi-Kristen tidak dijelaskan secara fisik di ‘buku’ apapun. Tapi untuk mendapatkan suatu pengesahan dari seorang rahib terpelajar, pihak Islam telah menciptakan tokoh rahib, kisahnya, dan buku.

“Setelah kafilah selesai makan dan berpencar, ia bertanya pada sang Rasul ttg hal-hal tertentu yang terjadi baik ia dalam keadaan sadar maupun tidur. Muhammad mengatakan hal-hal tsb padanya, dan ia menemukan bahwa hal-hal ini sesuai dengan penjelasan yg ada di bukunya. Akhirnya ia melihat punggungnya, dan melihat segel kenabian diantara bahunya, di tempat persis yg dikatakan dalam bukunya.”

Duhhh – kata per kata. Pertama, Injil sudah jelas. Tidak ada nabi besar yg dinubuatkan setelah Mesias. Kedua, tidak ada serangkaian kriteria saat ‘sadar dan tidur’ bagi panggilan ilahi, mungkin ini sebabnya Hadist tidak mau repot-repot membuat daftarnya. Ketiga, tidak ada ‘segel kenabian’ secara Alkitabiah. Konsep tsb berasal dari mitologi pagan Arab merujuk ke para pelaku okultisme yg berbicara pada setan-setan. Lagipula, ‘tanda’ yang dimaksud sebenarnya tidak lebih dari sebuah tahi lalat besar berbulu. (Tabari IX:159)

Selanjutnya, si rahib ‘Kristen’ bersumpah atas nama berhala Mekah. Tabari VI:45/Ishaq:80 “’Demi Al-Lat dan Al-Uzza,’ kata Bahira. ‘Bawa kembali ia ke negrimu, dan waspadalah thp kaum Yahudi, sebab, demi Allah, jika mereka melihatnya dan mengetahui apa yg kuketahui, mereka akan berusaha menyakitinya.’”

Kaum Yahudi menghabiskan waktu tahunan, bukan sejam dua jam, dengan sang ‘nabi.’ Mereka membiarkannya pindah ke kota mereka dan menjual kisah-kisah Talmud mereka padanya. Tak seujung kukupun mereka menyakitinya, walaupun ia melakukan tindak genosida untuk memusnahkan mereka.

Bagian tersulit bila berbohong adalah mengingat apa yang telah kau katakan. Jadi, dalam bentuk Islam yg benar, ada variasi kedua terkait kisah ‘tanda sang nabi.’ “Abu Talib berangkat ke Syria disertai sang Rasul dan sejumlah sheikh. Ketika tiba di tempat dimana si rahib berada, mereka turun dan membongkar muatan unta-unta. Si rahib berjalan diantara mereka, mendatangi dan mengambil tangan sang Rasul. Katanya, ‘Inilah Pemimpin Dunia-dunia (Worlds), sang Rasul. Orang ini telah dikirim oleh Allah sebagai rahmat bagi Dunia-dunia.’”

Kita sebut saja ini Omong Kosong, versi 2 (‘Holy Hogwash, Version Two’/ HH-2). Pertama, pemimpin (chief) adalah terminologi politis, bukan relijius. Kedua, kali ini tidak ada perrtanyaan diajukan, tak ada tanda, tak ada segel—hanya sebuah pengesahan berlebihan tanpa dasar. Ketiga, ada berapa banyak dunia (‘worlds’) yang ada? Dan keempat, bagaimana mungkin Muhammad menjadi ‘rahmat’ bagi umat Kristiani sementara ia dan tuhannya bilang ke umat Islam untuk memusnahkan mereka hingga tak bersisa lagi?

“Para sheikh Quraysh berkata padanya, ‘Apa yang kau ketahui?’ Ia menjawab, ‘Saat kau muncul di ujung jalan, tak ada satupun pohon atau batu yang tidak bersujud menyembah; dan mereka hanya bersujud pada seorang nabi.’”

Sulit dipercaya, tapi HH-2 ternyata lebih menyedihkan. Tidak ada umat Kristiani, batu-batu, atau pepohonan yg bersujud – bahkan tidak untuk wannabe prophets. Lagipula, bukan nabi yang harus disembah, melainkan Tuhan.

Benda mati yg memperlihatkan sebentuk pengabdian pada Muhammad bukan sekali saja kejadiannya. Tabari VI:63 “Sebelum Jibril muncul di hadapan Muhammad dan menganugerahkan misi sbg Rasul Allah, dikatakan bahwa ia sering melihat tanda-tanda dan bukti yang menunjukkan bahwa Allah hendak memuliakan dirinya. Dua malaikat mendatanginya, membuka dadanya, dan membuang kebencian dan kenajisan di dalamnya. [Aku akan tuntut mereka krn malpraktek –penulis]. Dikatakan [kata berkode Islami ini bermakna ‘ini sampah’] bahwa kapan saja ia melintas sebuah pohon atau batu, mereka akan memberi salam padanya.”

Tak mau kalah, dalam sebuah Hadist dari serangkaian perawi – atau isnads – termasuk di dalamnya tiga dari Muhammad, sepasang dari Ali dua dari Hamba Allah dan seorang Abd Ar-Rahman, kita belajar “Kapan saja Muhammad keluar menunaikan urusannya [menjawab panggilan alam] ia akan pergi ke tempat yg jauh, jauh dari rumah-rumah, ke jurang dan dasar wadi (sungai kering). Dan setiap batu dan pohon yang dilintasinya akan berkata Semoga diberikan keselamatan atasmu, wahai Rasul Allah.’” Bahkan saat ini, orang Islam tidak lebih pintar dari batu-batu tsb, perlu menambahkan kata-kata ‘semoga diberikan keselamatan atasnya’ setelah menyebut nama Muhammad.

Kembali ke rahib: Tabari VI:46 “Aku juga mengenalinya lewat segel kenabian yang berada di bawah tulang rawan bahunya dan seperti sebuah apel.” Hmm….lezatnya. Apel adalah simbol godaan. Pas, sempurna untuk Islam.

HH-2 belum selesai menghancurkan mandat kenabian Muhammad. Berlanjut dengan menambahkan Kekristenan Byzantium dalam daftar musuh selain kaum Yahudi. Kalau dipikir, usaha u/ mendapatkan pengesahan pihak Kristen dan Yahudi atas suatu agama yg nantinya justru berkembang dengan cara menjarah dan membunuh mereka, menjadi masuk akal juga pernyataan ttg Muhammad berikut “Bahira berdiri diantara mereka, memohon agar tidak membawa sang Rasul ke wilayah Byzantium, karena jika mereka melihatnya, mereka akan mengenali tanda-tanda yg ada padanya dan akan membunuhnya.”

Muhammad melarang orang Islam menggambar fisiknya. Jika memang fisiknya merupakan bukti/identitas kenabiannya, dan begitu mudah dikenali, mengapa ia melakukan hal tsb?

Patricia Crone, ilmuwan dan arkeolog ttg Islam berkata, “Ada 15 versi berbeda mengenai Muhammad diberkati oleh perwakilan non-Islam yg mengenalinya sbg nabi masa depan. Beberapa di masa bayinya, lainnya saat ia berusia 9 tahun; beberapa bilang saat ia berusia 25 tahun. Satu tradisi menyatakan ia dikenali oleh pemeluk Kristen Etiopia, beberapa bilang oleh rahib Syria, beberapa lagi mengklaim oleh Yahudi Yathrib, satu bilang oleh seorang Hanif lokal, sementara lainnya bilang oleh seorang dukun sihir. Bahkan beberapa bilang pengakuan tsb berasal dari perut seekor hewan mati. Jadi, yg kita miliki tak lebih dari 15 versi fiksi serupa dari suatu peristiwa yg tak pernah terjadi.”

Para cerdik cendekia Islam yg tak dapat mengingat apa yg nabi mereka katakan pada mereka di Mekah, herannya dapat menyusun suatu percakapan antara pihak-pihak yg beroposisi di Syria. Mari dengarkan, dan sambil mendengarkan, cobalah renungkan mengapa Hadist berikut berisi dialog: “Sang rahib berbalik dan tiba-tiba melihat 7 orang datang dari wilayah Byzantium. Ia menyambut mereka dan berkata, ‘Apa yang membawa kalian kemari?’ Mereka menjawab, ‘Kami datang karena nabi ini muncul di bulan ini. Orang-orang telah dikirim kemana-mana, dan kami adalah orang-orang yg terpilih dan dikirim ke tempatmu.’”

Tak pernah ada nubuatan di buku Kristen manapun ttg seorang nabi Arab. Tapi, kita diarahkan agar percaya seolah-olah umat Kristen tidak hanya tahu persis kapan, tapi tepatnya dimana mereka akan menemukan orang yg tidak pernah dinubuatkan spt itu. Ini suatu usaha mati-matian yang menyedihkan. Kalau Islam merasa perlu merancang kebohongan yg tak masuk akal spt itu agar Muhammad kelihatan spt nabi, sudah tentu ia bukan nabi!

Namun mereka terus bersandar pada dasar yg rapuh ini: Tabari VI:64. “Zayd bin Amr [penyair Hanif yang kata-katanya dijadikan Muhammad surah-surah awal Qur’an) berkata, ‘Aku mengharapkan seorang nabi dari keturunan Ishmael, khususnya dari keturunan Abd al-Muttalib.”

Pada kenyataannya, konfirmasi tertulis pertama prediksi yang akurat ini, ada 300 tahun setelah kelahiran Muhammad. Sebagai perbandingan, nubuatan terakhir mengenai kedatangan Mesias, yg berusaha disaingi Islam, dituliskan 400 tahun sebelum kelahiran Kristus. Dan tidak seperti Islam, umat Kristiani memiliki jejak sejarah tertulis. Septuaginta, terjemahan Yunani dari Alkitab Ibrani yg disusun di Alexandria 275 B.C. masih ada hingga kini.

Kita lanjutkan Hadist kadaluarsa Zayd, orang yg menolak Islam dan Muhammad, “Aku akan memberitahumu gambaran ttg dia (Muhammad) sehingga ia dapat kau kenali. Ia tidak pendek ataupun tinggi, rambutnya tidak lebat ataupun jarang, matanya selalu merah, dan ia memiliki segel kenabian diantara kedua bahunya. Namanya Ahmad [variasi dari Muhammad], dan kota ini [Mekah] adalah tempat kelahirannya dimana ia akan memulai misinya. Kemudian kaumnya akan mengusirnya dan membenci pesan-pesan yg ia bawa, dan ia akan pindah ke Yathrib dan meraih kemenangan.”

Para cendekiawan Islam yg menempatkan kata-kata tsb di mulut seorang Hanif 300 tahun setelah kematiannya, ingin memperlihatkan bahwa tiap kepercayaan – Yahudi-Kristen sampai pemuja Iblis—sepakat, “Aku telah berkelana mencari agama Abraham. [Satu-satunya sumber yg menyebutkan Abraham pra-Islam adalah Injil. Terlepas dari Taurat, tak ada yg tahu ttg dia – bahkan namanya. Dan Taurat sudah jelas: Abraham tidak memiliki suatu agama; ia memiliki suatu hubungan.] Setiap orang yang kutanya, baik itu Yahudi, Kristen atau Magian, mengatakan, ‘Agama ini berada di tempat asalmu,’ dan mereka menggambarkan dia sebagaimana telah kugambarkan padamu. Mereka berkata tak ada nabi lain lagi selain dia. Amir berkata, ‘Ketika aku memeluk Islam, kukatakan pada Rasulullah apa yang Zaid katakan, dan aku menyampaikan salamnya. Ia (Muhammad) berkata, ‘Aku melihatnya di surga mengenakan jubah yg indah.’”

Walau karya Zayd mengisi sebagian besar surah-surah awal Qur’an, ia menolak Muhammad, dengan demikian juga menolak Islam. Berdasar pengakuannya sendiri, ia tak mungkin berada di surga Islam.

Berbagai usaha ‘pengesahan’ ini sangat tak masuk akal sehingga memunculkan pertanyaan: apa yang dipikirkan penganut Islam berpendidikan sewaktu mereka membaca omong kosong spt itu? Kau tak perlu menjadi ulama untuk mengetahui bahwa Mesias kaum Yahudi tak mungkin orang Arab atau bahwa umat Kristiani percaya kalau Mesias adalah nabi terakhir. Lantas, sewaktu penipuan ini dikemukakan satu-satunya utusan Islam untuk mendapat pengesahan dan ia yg mengesahkan kebohongan tsb, apa yg mereka pikirkan? Apakah mereka berpikir? Mengapa mempercayai orang yg harus berbohong untuk mengesahkan per‘utusan’nya.

Ishaq:90 “Rabbi2 Yahudi, rahib2 Kristen, dan peramal2 Arab telah berbicara ttg Utusan Allah sebelum misinya, saat waktunya sudah dekat. Para rabbi dan rahib menemukan gambaran mengenainya di kitab2 mereka. Para okultis Arab telah dikunjungi oleh setan-setan dari para jin yg melaporkan bahwa mereka scr diam-diam sempat mendengar sebelum diusir dengan dilempari bintang-bintang.” Ishaq:91 “Sang Nabi menjelaskan ttg bintang jatuh. ‘Allah mengusir setan-setan dengan melempari mereka dengan bintang-bintang ini. Setan-setan mencoba mencuri informasi, menguping, mencampur apa yg mereka dengar dengan dugaan dan intelijen palsu. Mereka menyampaikannya pada para peramal.” Setiap kata-kata merupakan tuduhan.

Ishaq:92 “Umar bin al-Khattab [Kalif masa depan] sedang duduk dengan yang lain di mesjid Rasul ketika seorang Badui datang mencarinya. Umar berkata, ‘Orang ini adalah peramal dari masa Jahilliyah.’” Penyembah Iblis yang beralih profesi jadi pengacara Allah, berkata, “Selama masa Jahilliyah, kami biasa melakukan hal-hal yg lebih buruk dari kalian. Kami menyembah berhala dan memuja patung2 berukir sampai Allah mengaruniakan Islam pada kami.”

Sewaktu penganut okultis menyatakan kehebatan Islam, kita tahu bahwa kita sdg berurusan dengan suatu agama yg busuk. “Kami biasa melakukan hal-hal yang lebih buruk dari kalian.” Mengisyaratkan bahwa kelakuan Muhammad di Yathrib – pedofil, incest, perkosaan, perampokan, terror, genosida, dan perdagangan budak – lebih baik dari mengabdi setan.

“’Wahai manusia,’ kata si peramal, ‘Allah telah memberikan kehormatan dan memilih Muhammad, menyucikan jantung dan isi perutnya.’” Kemudian Umar, di hadapan Muhammad, menanyainya apa yang telah ia pelajari dari roh-roh jahat: Ishaq:93 “’Katakan padaku,’ kata Umar, ‘perkataan apa yang paling hebat yang roh pembantumu [jin atau setan] sampaikan padamu?’ ‘Ia datang padaku sebulan sebelum Islam dan berkata: “Sudahkah kau mempertimbangkan kaum Jin [sejenis setan di bawah Iblis] dan ketiadaan harapan serta kesia-siaan dalam agama mereka [okultisme—sihir, kartu tarot, ilmu hitam, astrologi, séances (perkumpulan spiritual yg berbicara dgn orang yg sdh mati), dsb.]?’” Bakal pemimpin/Kalif Islam tertarik pada apa yg dikatakan Iblis. Hmm…roh yang sama, tampaknya.

Tabari VI:66 “Selanjutnya Umar berkata, ‘Demi Allah, Aku salah satu penyembah berhala di masa Jahiliyah. Seorang Arab mengorbankan anak sapi, dan kami menunggunya dipotong agar mendapat bagian. Aku mendengar suatu suara dari perut anak sapi itu yg terdengar jelas dari suara apapun – ini terjadi setahun sebelum Islam. Perut sapi mati itu berkata, ‘Tidak ada tuhan selain Allah.’”

Hadist berikut berikut berasal dari isnad sahih Muhammad dan Kalif masa depan (Umar). “Kami sedang duduk-duduk di samping berhala setelah menyembelih unta-unta, sebulan sebelum Rasul memulai misinya. Tiba-tiba kami mendengar suatu suara dari perut salah satu unta: ‘Dengarlah kabar ajaib ini; takkan bisa lagi menguping untuk mendapat inspirasi ini; Kami melempar bintang jatuh bagi seorang nabi di Mekah; Namanya Ahmad. Tempat hijrahnya di Yathrib’ Kami tertegun kagum; selanjutnya Rasul memulai misinya.”

Moral kisah ini: lain kali, kalau salah seorang Kristen atau Yahudi sialan itu berkata bahwa Muhammad bukan nabi karena tak ada nubuatan ttg dia, bilang saja ‘nggak juga tuh!’ Seekor unta dan sapi mati bersaksi kalau ia orang pilihan Allah.

Bagaimana kalau satu Hadist lagi, biar adil. “Seorang pria mendatangi Nabi dan berkata, ‘Perlihatkan padaku segel yang berada diantara bahumu, dan jika kau berbohong di bawah mantra sihir apapun, aku akan mengutukmu, karena aku adalah penyihir terbaik di Arab.’ ‘Kau ingin kuperlihatkan sebuah tanda?’ tanya Nabi. ‘Ya. Perintahlah untaian itu.’ Kemudian Nabi melihat ke untaian buah korma bergantung di pohon palem dan memerintahnya, dan mulai menjentikkan jarinya hingga untaian itu berada di hadapannya. Lalu orang itu berkata, ‘Perintahkan untuk kembali,’ dan untaian itu kembali. Si Penyihir berkata, ‘Aku belum pernah melihat penyihir yang lebih hebat dari yg kusaksikan hari ini.’” Sesama penyihir pastilah saling kenal.

Ψ † с ბ

Beranjak dari kekonyolan ke keluhuran, agama yg berdasarkan praktek berhala tsb punya bab berjudul: “Rasullullah Dilindungi Allah dari Praktek Pagan.” Hadist pertama dari Ali, anak angkat dan menantu Muhammad, bapak kaum Syiah, salah satu Kalif yg dibunuh. Ia berkata, “Kudengar Rasullullah berkata, ‘Aku hanya tergoda untuk ambil bagian dalam praktek pagan sebanyak dua kali, dan di dua kesempatan itu Allah mencegahku melakukan yg kuinginkan. Setelah itu aku tak pernah tergoda akan kejahatan, sampai saat Allah mengangkatku menjadi RasulNya.” Sekali lagi sang nabi berbohong, karena setiap pilar dalam 5 pilar Islam didirikan oleh seorang pagan/penyembah berhala.

Tinggalkan godaan, kini ttg dosa paling lazim saat ini: seks di tempat kerja. Muhammad menikahi atasannya. Ishaq:82 “Khadija adalah seorang pedagang kaya dan dihormati. Seorang pengambil keputusan dan cerdas, memiliki banyak harta. Wanita keturunan terbaik dari kaum Quraysh, dan juga terkaya.” Tabari VI:48 “Ia sering mempekerjakan pria-pria dalam bisnisnya dan memberi mereka bagian dari keuntungan, karena kaum Quraysh adalah pedagang. Sewaktu ia mendengar ttg karakter Muhammad yang jujur dan luhur, ia mempekerjakannya dan mengusulkan agar ia pergi ke Syria dan terlibat dalam bisnisnya. Dia akan memberinya pembagian keuntungan yg lebih besar dari yg dia berikan pada pria lain yg berbisnis untuknya….”

Kalimat yg bertele-tele, hanya untuk bilang kalau ibu direktur mengirim salah satu pekerjanya untuk mengawasi kejujuran para pedagang pemula.

“Waktu mereka mencapai Syria ia beristirahat di bawah bayangan sebuah pohon dekat ruang sempit seorang rahib. Sang rahib menghampiri Maysarah [budak Khadija], dan berkata, ‘Siapa pria yg beristirahat di bawah pohon?’ Maysarah menjawab, ‘Ia orang Quraysh, salah seorang dari wilayah suci Haram.’ ‘Tak seorangpun pernah beristirahat di bawah pohon ini kecuali seorang nabi,’ kata si rahib.’”

Seorang rahib abad ke-6 mana mungkin pernah melihat seorang nabi. Lagipula, tak ada bukti nabi Kristen atau Yahudi pernah menginjakkan kaki di Syria.

Baris berikutnya seperti posisi di ujung tanduk, tidak tahu siapa yang berbohong. Jika Tradisi Islam benar, pernyataan Qur’an bahwa tak ada keajaiban yg berhubungan dengan Muhammad salah. “Mereka menyatakan bahwa Maysarah melihat dua malaikat melindungi dia dari panas matahari saat ia mengendarai untanya.”

“Setibanya di Mekah, ia menyerahkan dagangan Khadija, yg dijualnya dua kali lipat….Ia meminta Rasul datang dan, dilaporkan, berkata padanya, ‘Sepupu, hubungan kekerabatanmu denganku, keutamaanmu diantara kaummu….menjadikanmu pasangan yang sesuai.’ Dia menawarkan diri untuk menikahinya.”

Salah satu ironi besar sejarah, wanita paling independen, sukses, dan bebas di jamannya, memainkan peranan penting dalam memastikan bahwa satu milyar perempuan setelah dirinya akan kehilangan hal-hal ini.

Muhammad menikahi uang – seorang wanita yang cukup tua untuk menjadi ibunya. Terlebih lagi, bakal nabi menikahi atasannya. Walau dipertanyakan, bukan hal yg dilarang. Juga yang terjadi berikutnya. Tabari VI:49 “Khadija mengirim pesan pada Muhammad mengundang dia untuk membawanya….Khadijah meminta ayahnya ke rumahnya, menghujaninya dengan anggur hingga mabuk, menyembelih seekor sapi, memberinya minyak wangi, dan mengenakan jubah mandi padanya; lalu Khadija meminta Muhammad dan pamannya datang. Ketika mereka datang, ayah Khadija menikahkan mereka. Sewaktu ayahnya sadar dari mabuk, ia berkata, ‘Apa arti daging, parfum, dan pakaian ini?’ Khadija menjawab, ‘Kau telah menikahkan aku dengan Muhammad bin Abdullah.’ ‘Aku tidak melakukannya,’ katanya. ‘Akankah kulakukan itu, padahal pria-pria hebat di Mekah yang meminangmu saja belum kusetujui?’”

Sementara terjadinya pernikahan kenabian lewat mabuk alkohol aja bukan suatu hal yg relijius, baris terakhir membuat kita tertegun. Umat Islam telah membuat sejumlah hadist pra-Islam untuk mengangkat derajat Muhammad diantara kaumnya. Namun, menurut ayah Khadija, ia bukanlah siapa-siapa. Terlebih lagi, ia sama sekali bukan specimen yg layak: Tabari IX:157 “Rasul Allah tidak tinggi ataupun pendek. Ia memiliki kepala besar dan cambang dengan mata hitam besar. Telapak tangan dan kakinya kapalan; dia memiliki sendi-sendi yang besar, wajahnya putih dengan semburat kemerahan, bulu dadanya panjang, dan saat ia berjalan, ia membungkuk ke depan seolah menuruni lereng.”

10 tahun berlalu tanpa ada sepatah katapun dari Tabari. Walaupun umat Islam mengklaim mereka tahu apa yg dikatakan rahib di Syria, sedikitpun tak ada tanda-tanda bahwa mereka tahu apa yang terjadi di Mekah. Ishaq punya, tapi cuma sebaris: Ishaq:83 “Khadija adalah ibu dari semua anak-anak Rasul kecuali Ibrahim [yang dilahirkan budak seks Muhammad], yaitu al-Qasim, al-Tayyib, dan al-Tahir. Mereka semua meninggal dalam kekafiran.” Implikasinya, semua anak laki-laki nabi masuk neraka.

Kisah penipuan terbesar (Ka’aba Inc.) , pernah dinyatakan sbb: Tabari VI:50“Kami telah menyebutkan laporan yg bertentangan ttg pernikahan Nabi dengan Khadija. 10 tahun kemudian, kaum Quraysh meruntuhkan Ka’aba dan membangunnya lagi. Menurut Ibn Ishaq, Rasullullah berusia 35 tahun. Alasan diruntuhkan, karena material bangunan Ka’aba berupa susunan batu-batu lepas kira-kira setinggi pria dewasa, dan mereka ingin meninggikan serta memberi atap di atasnya, sebab beberapa orang telah mencuri harta yg berada di dalamnya.

Sebelumnya telah pernah ku beritahu bahwa Ka’aba cuma berupa setumpukan batu-batu. Hadist Islam ini menegaskan kondisi ‘Rumah’ Allah yg tak berkualitas/menyedihkan (sehingga Abrahah perlu pasukan gajah u/ menghancurkannya—anne). Hal ini penting. Tak mungkin tumpukan batu-batu lepas tak beratap setinggi enam kaki, mampu bertahan thp derasnya arus banjir bandang selama dua ribu tahun dan badai gurun yg membakar. Bukan hanya tak ada bukti tertulis yg menghubungkan Muhammad, Mekah dan Ka’aba dengan Abraham, bukti fisik juga tidak ada. Pusat agama Islam, Rumah Allah, arah sujud seluruh umat Islam sedunia, adalah tumpukan bebatuan untuk dewa-dewa batu.

Tabari, yg pernah menulis Hadist bahwa Allah memelihara Ka’aba thp banjir, sekarang berkata: “Ka’aba telah hancur ketika umat Nuh tenggelam, dan Allah memerintahkan Abraham dan Ishmael membangun kembali bangunan aslinya. Mereka melakukannya sebagaimana dinyatakan di Q2:127. ‘Saat Abraham dan Ishmael membangun kembali Rumah tsb [mereka berkata], ‘Tuhan! Terimalah [ini] dari kami.’”

Dialog Qur’an tsb bukan hanya basa-basi kosong, seperti biasa, situasinya juga tak masuk akal, kebodohan yg menegaskan bahwa Rumah Allah adalah tumpukan batu-batu lepas. Umat Islam tak punya konsep waktu. Rentang 2600 tahun dan jarak ribuan mil yg memisahkan Abraham dari Ka’aba Muhammad tak dapat dihapus begitu saja.

Tabari VI:52 “Ka’aba tidak punya juru kunci sejak hancur di jaman Nuh. Kemudian Allah memerintahkan Abraham untuk menempatkan putranya di Ka’aba, dengan harapan menjadi tanda kemuliaan bagi seseorang yg di kemudian hari akan memuliakannya yi, nabi Muhammad.” Allah memuliakan Ishmael yg hidup di abad 20 B.C dengan pertolongan Muhammad yg hidup di abad 7 A.D. “Abraham dan anaknya Ishmael adalah juru kunci Ka’aba setelah jaman Nuh. Saat itu Mekah tak berpenghuni….” Hadist Islam tidak cukup berani menyatakan Abraham pindah dari Kanaan ke Mekah, bagaimana bisa ia jadi juru kunci? Dan jika tempat itu tak berpenghuni dari 2000 B.C. hingga 500 A.D., mengapa harus tumpukan batu di Mekah? Bagaimana bisa menjadi pusat ibadah jika tak ada satupun yg beribadah. Apa maksudnya?

Tabari mengatakan bahwa klan Jurhum menjadi juru kunci Ka,aba. Dengan enteng ia melompati selang waktu 2500 tahun antara yang ia anggap pendirinya dengan keberadaan klan Jurhum. Kalau kau ingat kembali, klan Jurhum diusir suku Khuza dari perkemahan mereka di sekitar Mekah sekitar 500 A.D. Menurut Tradisi mereka bersikap buruk, “menyalahgunakan persembahan di Ka’aba dan menindas orang-orang yg datang ke Mekah. Perilaku mereka menjadi tak terkendali sehingga bila seseorang diantara mereka tidak menemukan tempat berzina, ia akan pergi ke Ka’aba dan melakukannya disana. Dikatakan bahwa Isaf berzina dengan Na’ilah di dalam Ka’abah dan mereka diubah menjadi dua patung batu. Selama masa Jahilliyah, setiap orang yg berbuat salah atau bersikap tiran di Mekah, dibunuh saat itu juga.” Lingkungan pagan yg fantastis ini membentuk dasar-dasar Islam. “Allah mengirim pendarahan hidung dan wabah semut pada kaum Jurhum dan memusnahkan mereka, Khuza mengusir mereka yg selamat….Pemimpin klan merasa akan dikalahkan, lantas ia membawa keluar dua rusa Ka’aba dan Batu Hitam suci.”

Campuran semaunyanya sejarah Yahudi dan mitologi Arab berlanjut: Tabari VI:55 “Ka’aba diambil alih klan Khuza’a kecuali tiga fungsi yg berada di tangan klan Mudar. Pertama, ijazah, yi, izin bagi para peziarah untuk meninggalkan Arafat…. Kedua, ifadah, yi, izin bagi para peziarah untuk menyebar ke Mina pagi-pagi di hari kurban.” Dua lagi ritual Islam terkait dengan ibadah haji punya hubungan dengan ritual pagan masa lampau.

Ishaq:88 “Keadaan ini berlangsung hingga Allah mengirim Muhammad, mewahyukan padanya dan memberinya hukum-hukum agama dan tata cara ibadah haji.” Setelah seratus Hadist berusaha keras menghubungkan berbagai ritual Islam dengan leluhur Yahudi, dan seratus lagi menyatakan bahwa ritual-ritual tsb berasal dari praktek pagan Qusayy, ternyata ada satu Hadist yg bertentangan dengan semuanya.

Tapi ada juga kebiasaan pagan pra-Islam yang disingkirkan Muhammad, padahal justru itu yg seharusnya ia pertahankan. “Fungsi ketiga adalah nasi, yi, penundaan atau pembatalan bulan suci karena ada interkalasi (penambahan hari/bulan dalam satu tahun). Ketika Islam datang, bulan-bulan suci kembali ke waktu biasa, dan Allah menyatakannya dengan tegas serta menghapus nasi.”, Tidak seperti masyarakat beradab di sekitarnya, masyarakat Arab pra-Islam masih belum beralih dari kalender lunar. Baiknya, mereka setidaknya menjalani interkalasi agar musim-musim mereka tetap utuh. Muhammad sebaliknya menghilangkan interkalasi, menyeret umat Islam menjalani 354 hari dalam setahun. Tak hanya mengembalikan bulan-bulan suci pagan ke waktu biasa, ia memastikan bahwa bulan-bulan tsb mengambang di sekitar kalender solar. Walau bodoh, perilaku konyol (lunacy) tsb mengukuhkan warisan (legacy) dewa bulannya.

Salah satu legenda Islam yg paling dihormati berasal dari periode ini. Serangkaian Hadist berfokus pada “Pembangunan kembali Ka’aba” dimulai dengan Tabari VI:56 “Kerabat Abd Mahaf [Pelayan Dewa Matahari] telah mencuri harta Ka’aba. Mereka membawanya ke seorang peramal perempuan Arab, yg menggunakan kemampuan okultismenya, mengucapkan dalam prosa berirama bahwa ia (si pencuri) tidak boleh masuk Mekah selama 10 tahun karena pelanggarannya atas kesucian Ka’aba.”
Tradisi Islam ini semakin menguatkan bahwa si peramal adalah pengabdi Iblis; perantara okultisme. Terlebih, ia berkata-kata dalam prosa berirama, sama seperti Qur’an. Dan yang lebih memberatkan, penyembah Iblis dipakai untuk menyatakan kesucian Ka’aba.

Pembangunan kembali Rumah Allah diperlukan karena dindingnya begitu rendah dan terbuka atasnya shg pencuri bisa dengan mudah mencuri dewa-dewa. Lantas, sewaktu penduduk Mekah menemukan: Ishaq:84 “Sebuah kapal milik pedagang Yunani terdampar oleh gelombang keras di Jeddah dan pecah, mereka mengambil kayu-kayu kapal dan mempersiapkannya untuk jadi atao Ka’aba. Ada seorang Kristen Koptik di Mekah, seorang tukang kayu, dan dengan demikian mereka punya baik bahan maupun pengrajin.”
Hal ini mengkonfirmasikan betapa primitifnya Ka’aba dan Mekah itu sendiri. Tak punya sumber kayu, dan tanpa kayu tentu tak ada tukang-tukang. Tanpa kayu dan tukang, semua bangunan terbuka thp cuaca yg keras. Mekah di jaman Muhammad adalah sekumpulan bermacam-macam pondok lumpur terbuka. Ini penting, karena Islam yg dikatakan bangkit disebabkan penduduk Mekah yang memamerkan kekayaannya, benar-benar tak masuk akal.

Transisi selanjutnya, melompat-lompat, sama seperti Qur’an. “Ada seekor ular yang biasa keluar dari sumur di Ka’aba, tempat dimana barang-barang persembahan u/ nazar dilemparkan. Ular tsb akan berbaring di atas dinding Ka’aba setiap hari u/ berjemur. Hal tsb menakutkan.”
Ada begitu banyak simbol Iblis yg dikaitkan dengan Muhammad dan Allah. Abraham dibawa dari Israel ke Mekah oleh kehadiran tuhan dalam rupa ular. Ular yg sama melingkarkan diri, menunjukkan pada Abraham dimana harus membangun Ka’aba. Sekarang seekor ular tinggal di dalam Rumah Allah. Ular dan tanda spt buah apel di punggung Muhammad, adalah simbol Iblis yg paling abadi.

Ishaq:84 “Orang-orang takut ular karena setiap ada orang mendekat, ular itu akan tegak, mengeluarkan suara gemerisik, dan membuka mulutnya. Suatu hari, sewaktu ular tsb berbaring di atas Ka’abah seperti biasa, Allah mengirim seekor burung yang mencengkeram dan membawanya pergi. [Siapa bilang Allah enggak bisa melakukan mukjizat]. Melihat ini, kaum Quraysh berkata, ‘Kita berharap Allah menyukai niat kita. Kita punya tukang, dan juga kayu, sementara Allah berurusan dengan ular.”

Tabari VI:56 “Sudah 15 tahun sejak Perang Asusila (Sacrilegious War). Muhammad berumur 35 tahun. Ketika mereka memutuskan u/ meruntuhkan dan membangun kembali Ka’aba, Abu mengambil sebuah batu dari Ka’aba, yg melompat dari tangannya dan kembali ke tempat semula.”

Hadist ini, dalam konteks keterlibatan Muhammad secara dekat dalam konstruksi Ka’aba dan Batu Hitamnya, secara kuat menyiratkan bahwa penduduk Mekah beranggapan Batu Hitam tsb adalah Allah yang benar-benar berdiam di dalam Ka’aba. Ishaq:85 “Orang-orang takut meruntuhkan kuil tsb dan mundur ketakutan. Al-Walid berkata, ‘Aku akan memulai pembongkaran. ‘Ia mengambil beliungnya dan berjalan ke arah kuil itu seraya berkata, ‘Wahai Ka’aba, jangan takut. Ya, Allah kami bermaksud baik.’ Kemudian ia meruntuhkan bagian dekat dua sudut.” Salah seorang yang hidup sejaman dengan Muhammad berkata pada tumpukan batu supaya jangan takut. Sambil mendekati Allah dengan beliung, ia berkata bahwa ia tak bermaksud menyakitinya. Bagaimana bisa sebuah beliung mengancam Tuhan? Dan jika ia Tuhan, saat kau mendekati ‘Rumah’nya dengan sebuah beliung, seorang tukang, dan sejumlah kayu, apa mungkin ia tak mengerti maksudnya?

Dalam Tradisi akhir yg mendahului wahyu pertama Qur’an ini, diperlihatkan Muhammad secara pribadi berpartisipasi dalam tahyul pemujaan thp batu di lingkungan masy. Mekah. Tabari VI:58 “Seorang pria Quraysh yang turut dalam pembongkaran, mendorong linggis diantara dua batu untuk membongkar salah satunya. Ketika batu tsb bergerak, seluruh Mekah berguncang. Mereka tahu telah mencapai pondasi. Semua klan kemudian mengumpulkan batu-batu untuk membangun kembali Ka’aba. Tiap klan mengumpulkan dan membangun secara terpisah. Ketika mereka sampai di tempat dimana Batu Hitam harus diletakkan, mereka mulai berselisih, setiap klan ingin merekalah yang meletakkan Batu Hitam ke tempatnya.”

Sekali lagi kita dihadapkan dengan kenyataan pahit. Rumah Allah, pusat agama Islam, adalah setumpuk batu yang dibangun sesuai kebiasaan. Batu-batu tsb tidak dipahat, dipotong atau dihaluskan. Tak ada rencana. Semua batu cuma dikumpul dan ditumpuk. Dan sekali lagi kita dipaksa menyaksikan apa sebenarnya Batu Hitam Suci itu—Allah.

Keterangan menarik berikut ini sangat memberatkan. Ishaq:85 “Kaum Quraysh menemukan di sudut sebuah tulisan dalam bahasa Syria. Mereka tidak mengerti sampai seorang Yahudi membacakannya untuk mereka. Tertulis: ‘Aku Allah, Tuhan Mekah. Aku menciptakannya di hari kuciptakan langit dan bumi dan membentuk matahari dan bulan.’”
Tuhan menulis dalam bahasa Syria, bukan Arab, bertentangan dengan klaim Qur’an bahwa bahasa Arab adalah bahasa Qur’an. Lebih jauh lagi, karena bahasa Arab berkembang dari bahasa Syria yg bermigrasi ke Mekah, jelas bahwa bahasa tertulis Qur’an tidak dikenal penduduk Mekah di masa Muhammad mengklaim surah-surah telah diwahyukan padanya. Oops!

“Kaum Quraysh tetap dalam keadaan spt ini selama 5 hari, dan kemudian mereka berkumpul di mesjid u/ berembuk dan mencapai kesepakatan.” Kita diingatkan bahwa mesjid mendahului Islam dan gerakan sembahyang Islam, bersujud, adalah bagian pemujaan berhala. Kelihatannya relatif sedikit ajaran Islam yg bermula dari Muhammad.

Pertimbangkan Hadist berikut. Tabari VI:59 “Orang-orang Quraysh berkata, ‘Biarlah orang pertama yg muncul di pinti mesjid ini menjadi penengah perselisihan kita, biar ia yang memutuskan.’ Orang itu adalah Muhammad, dan ketika mereka melihatnya, mereka berkat, ‘Inilah orang yg terpercaya itu yg akan memuaskan semua pihak. Inilah Muhammad.’ Ia menghampiri mereka, dan mereka menjelaskan masalahnya, dan ia berkata, ‘Bawakan aku sebuah jubah.’ Mereka membawa sebuah, dan Ia mengambil Batu Hitam serta meletakkannya di atasnya dengan tangannya sendiri. Kemudian ia berkata, ‘ Biarlah setiap klan memegang satu sisi jubah, dan mengangkatnya bersama-sama. ‘Merekapun melaksanakannya, dan saat mereka telah membawa batu tsb ke tempatnya, Ia (Muhammad) meletakkan batu tsb dengan tangannya sendiri.”

Aku tak tahu apakah Muhammad benar-benar mengemukaan solusi ini. Tapi yang pasti, seorang pria yang menghormati sebuah batu tak lebih bijak dari batu yang ia hormati.

Advertisements
This entry was posted in BAB 6 and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Bab 6 JANTUNG KEGELAPAN

  1. Sari says:

    Heh..
    OrNg geLO..
    KLo maU jeLekaN isLam.
    Pke bahasa yg bener dONk..
    Yg msUk di akaL..
    Masa patUNg isap dan nailah kau blang dua patung berzina..
    Dasar Lo ooN.
    MN bsa patUNg berzina..
    BegOk Lho,beNda matI kOk Lo bLaNg berzina.
    Nampak x kLo patUNg yg sLaLu kaU sembah sebagai tUhaN itU..
    Bisa berzina yha..
    Wkkwkwkwkkwkwk
    umat yahudi bahlul lho..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s