Bab 7 Dengan siapa saya bicara?

http://prophetofdoom.net/Prophet_of_Doom_07_With_Whom_Am_I_Speaking.Islam

“Aku khawatir sesuatu yang buruk telah terjadi padaku.”

Asal mula Qur’an tidak lebih baik dari Muhammad sendiri. Wahyu pertama nabi adalah sebuah kegagalan yg memalukan. Tapi agar tidak berprasangka thp sejarah awal Islam, biar umat Islam sendiri yang melakukannya.

Kita mulai dengan pernyataan pembuka Allah di awal pengukuhan turunnya wahyu Qur’an. Malangnya, harta karun ini tidak ditempatkan di surah pertama. Bahkan tidak tercantum di posisi ke-51. Tapi terkubur dekat bagian akhir buku, yi. Qur’an 96:1 “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah beku. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (“Read in the name of your Lord who created man out of clots of congealed blood. Read, for your Lord is the most generous. He who taught the use of the pen that man might be taught that which he did not know.”)

Itulah peristiwa dari segala peristiwa: kelahiran Islam. Roh tak bernama yg mewakili entitas tak dikenal, menyatakan diri pada Muhammad.

Mengapa sebentuk keilahian yg maha tahu meminta seorang yg jelas buta huruf untuk membaca? Mengapa roh tsb mengatakan bahwa manusia diciptakan dari gumpalan darah, padahal itu tidak benar? Kalau roh ini ‘mengajar dengan perantaraan kalam/pena apa yg tidak diketahui manusia,’ dimanakah tertulis kata-katanya? Dan mengapa melantur ke hafalan oral/lisan sementara kesaksian tertulis lebih unggul? Mengapa menyombongkan diri bermurah hati – dengan cara apa dan kepada siapa? Tapi, pertanyaan sesungguhnya adalah: Jika roh ini ‘mengajar dengan perantaraan kalam/pena apa yg tidak diketahui manusia,’ dimana tertulis kata-katanya?

Ini bukan awal yang baik bagi suatu agama yg mampu menjerat satu milyar jiwa. Harus ada penjelasan yg meyakinkan. Namun Qur’an tidak akan mampu menjelaskan sifat pertemuan atau makna pesan tsb.

Tapi ada setumpuk kesaksian ‘sahih’ ttg kejadian malam itu. Mari ke Bukhari terlebih dulu. Dalam ‘Book of Revelation’ kita temukan sebuah Hadist yg dikisahkan Aisha, istri kanak-kanak Muhammad. Putri Abu Bakr, pria yg kemudian menjadi Kalif pertama. Aisha sendiri bahkan belum ada dalam kandungan saat peristiwa ini terjadi.

Bukhari: V1B1N3-V6B60N478 “Permulaan inspirasi ilahi kpd Rasul Allah adalah dalam bentuk mimpi yg nyata seperti sebuah cahaya terang. Nabi senang mengasingkan diri di sebuah gua di Hira. Seorang malaikat datang padanya dan memerintahkannya untuk membaca. Nabi menjawab, ‘Aku tidak tahu bagaimana membaca.’ Nabi menambahkan, ‘Lalu malaikat tsb memegangku dengan paksa dan menindihku begitu keras sampai aku tak tahan lagi. Ia melepaskanku dan menyuruhku membaca. Kujawab, ‘Aku tak tahu bagaimana membaca.’ Lalu ia menangkapku lagi dan menekanku sampai aku tak tahan lagi. Ia menyuruhku membaca tapi kujawab, ‘Aku tak tahu bagaimana membaca atau apa yang harus kubaca?’ Ia menangkapku untuk ketiga kalinya dan menekanku, ‘Bacalah dalam nama Tuhanmu yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Baca! Tuhanmu yang paling pemurah.’ Kemudian Rasul tersadar dari kejadian itu; otot-otot antara leher dan bahunya gemetaran, dan jantungnya berdebar-debar. Ia pergi ke Khadijah sambil berseru, ‘Selimuti aku! Selimuti aku.’ Khadija menyelimutinya sampai rasa takutnya reda. Ia berkata, ‘Ada apa denganku? Aku khawatir sesuatu yg buruk telah terjadi padaku.’ Khadija menjawab, ‘Tidak! Demi Allah, Allah tidak akan mempermalukanmu….’” (–> versi 1 — anne)

Nama Allah tidak disebutkan di surah pertama Qur’an. Yang jelas, tuhannya Muhammad tetap ‘Tuhan’ (‘Lord’) yang tak bernama di sepanjang 17 wahyu pertama Qur’an. Ketika Tuhan (Lord) akhirnya teridentifikasi, namanya adalah Ar-Rahman. Aneh, bahwa Hadist Islam yg amat penting ini dipilih untuk bertentangan dengan Qur’an dan menyebut nama tuhan ‘Allah’. Sama anehnya, mengapa istri Muhammad, Khadija, si kafir, bersumpah atas nama Allah sementara tuhan/dewa yang menyandang nama itu adalah salah satu diantara sekian berhala batu?

Jawabannya simpel, tak diduga, tapi jelas, yakni, Aisha, sumber hadist ini, mengungkapkannya setelah kematian sang nabi – jauh setelah nama Ar-Rahman digabung ke dalam karakter Allah. Sementara bagi Khadija (si otak bisnis—anne) , nama Allah merupakan kunci pada sesuatu yg ia dan suaminya dambakan.

Gambaran ttg asal mula wahyu Qur’an tsb benar-benar tidak konsisten. Hal ini sangat buruk/tercela, mengingat isinya dikaitkan dengan masalah penciptaan dan tokoh-tokoh, yg berasal dari berbagai peristiwa, waktu, tempat, masyarakat dan kepercayaan lain. Saat ini, umat Islam tak punya alasan. Islam mulai di pertengahan waktu, masih berada dalam jangkauan pengawasan mereka, dan disampaikan melalui klan/para kerabat mereka. Kita tak berurusan dengan peristiwa yg terjadi 2 atau 4 ribu tahun B.C. tapi ini kejadian di tahun 610 A.D. Adanya kontradiksi sangat tercela, karena kotradiksi memaksa kita mengakui kalau semua isi kitab Islam hanya diabadikan menurut kebiasaan – lisan, dari mulut ke mulut. Jika ingatan periwayatan ini tidak dapat diandalkan, tidak ada lagi yg dapat dipercaya.

Versi kedua dari wahyu pertama, terdapat dalam Tabari dan Muslim: Tabari VI:67 “Aisha melaporkan: ‘Kesendirian menjadi kesukaan Muhammad dan ia biasa mengasingkan diri di gua Hira dimana ia melakukan ibadah Tahannuth [ritual agama pagan yg dilaksanakan di bulan Ramadhan termasuk di dalamnya berpuasa] selama beberapa malam, sebelum kembali lagi ke Khadija dan mengambil perbekalan untuk periode berikutnya, sampai kebenaran datang padanya selagi ia berada di gua. Bentuk wahyu pertama berupa sebuah mimpi dalam tidur. Ia tidak melihat mimpi apapun tapi mimpi itu datang seperti fajar menyingsing.” Muslim C74B1N301, “Kebenaran itu datang tiba-tiba dan berkata ‘Bacalah,’ yang kujawab: ‘Aku buta huruf.’ Rasul berkata, ‘Ia memegangku, dan menekanku, sampai nafasku sesak. Ia melepasku dan berkata: ‘Bacalah.’ Aku berkata, ‘Aku buta huruf.’” Hal itu berlangsung seperti sebelumnya, sampai hadist Tabari menyatakan mimpi buruk tsb dalam satu baris berikut: Tabari VI:67 , “Muhammad, kau adalah Rasul.”

Pernyataan selanjutnya berbelit, tak beraturan dan bertentangan. “Sang nabi berkata, ‘Aku sedang berdiri, lalu jatuh berlutut; dan merangkak pergi, bahuku gemetaran. Aku pergi ke Khadija dan berkata, ‘Selimuti/peluk aku! Ketika rasa takut telah sirna, Jibril datang padaku dan berkata, ‘Muhammad, kau adalah Rasul Allah.’ ” (–> masuk versi 3 — anne) Muhammad berkata, ‘Saat aku sedang berpikir untuk terjun dari tebing gunung, ia muncul dan berkata, ‘Akulah Jibril dan kau adalah Rasul.’ Lalu ia berkata, Bacalah.’ Aku berkata ‘Apa yg harus kubaca.’ Ia memegangku dan menekanku tiga kali. ‘Aku sangat ketakutan.’ ” (–> masuk ke versi 2 — anne) Khadija berkata, Bersukacitalah, karena Allah tidak akan mempermalukanmu.”

Walaupun ada perbedaan yg signifikan, dan layak diperiksa lebih lanjut, ada rincian memberatkan yg menjadi fokus. Di versi pertama, malaikat tak bernama hampir menekan/mengambil hidup Muhammad. Versi kedua, Jibril mencegah Muhammad bunuh diri dengan melompat dari tebing. Di versi ketiga, Jibril disebut lagi, tapi tidak muncul sampai Muhammad merasa nyaman di tempat tidur Khadija. Padahal Qur’an tidak mengatakan apapun ttg Jibril sepanjang 12 tahun Muhammad menjalani kerasulannya. Jibril tidak diperkenalkan sampai saat munculnya surah pertama di Yathrib/Medinah, yang secara kronologis berada di urutan ke-91. Karena Muhammad menyatakan bahwa Jibril adalah sumber penyampai wahyu tuhannya, ketidakkonsistenan ini menghancurkan kredibilitasnya.

Berikut adalah versi turunnya wahyu awal Islam yg paling ‘terhormat.’ Sedikit bernuansa, dan dari biografi yg dikompilasi Ishaq, seratus tahun sebelum muncul sumber-sumber lain. Ishaq:105 “Aisha berkata bahwa Allah hendak memuliakan Muhammad, tanda pertama kenabian adalah suatu mimpi yg seterang siang hari, yg diperlihatkan dalam tidurnya. [saat ia sedang mimpi]. Tak ada yg lebih disukainya selain menyendiri. Ketika ia meninggalkan Mekah dan rumah-rumah tak terlihat lagi dalam jangkauan mata, setiap batu dan pohon yg ia lewati berkata ‘Semoga diberikan keselamatan atasmu, wahai Rasul Allah. Muhammad akan berbalik, tak melihat apapun kecuali pepohonan dan bebatuan [halusinasi atau ada yg melempar kerikil]. Ia berdiam melihat dan mendengar segala sesuatu selama itu menyenangkan Allah. Kemudian Jibril datang padanya dengan karunia kasih Allah [lewat pemukulan spiritual] sewaktu ia berada di Hira di bulan Ramadhan. Rasul akan berdoa dalam pengasingan di Hira selama sebulan setiap tahun, menjalankan Tahannuth, salah satu adat kebiasaan kaum Quraysh di masa-masa kekafiran [dengan kata lain, Muhammad seorang kafir, dan Pilar Islam yg mensyaratkan puasa Ramadhan, adalah Ibadah pagan.] Tahannuth adalah ibadah agama [pada berhala pagan]. Setelah berdoa di pengasingan, ia akan mengelilingi Ka’aba sebanyak tujuh kali [Inti ibadah Haji ternyata juga kebiasaan pagan.]”

Ishaq:106 “Nabi berangkat ke Hira bersama keluarganya. Ketika malam tiba, Jibril membawakannya perintah Allah. ‘Dia datang padaku,’ Nabi berkata, ‘ketika aku sedang tidur, berselimut kain brokat ada yg menulis diatasnya, dan berkata, ‘Baca.’ Aku berkata, ‘Apa yg harus kubaca.’ Ia menekanku begitu kuat sehingga aku hampir mati. Kemudian ia melepasku dan berkata, ‘Baca!’ Hal ini berlangsung lebih dari dua kali, sampai….’Ketika kupikir aku sudah hampir mati, aku berkata, ‘Apa yang harus kubaca?’; hanya untuk melepaskan diri darinya, takut kalau ia melakukan hal sama lagi padaku. Ia berkata, ‘Bacalah dalam nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Baca! Tuhanmu yang pemurah mengajar dengan kalam/pena.” Lantas, orang yg buta huruf ini berkata, “Lalu saya membacanya, dan ia pergi dariku. Saya terbangun dari tidur. Kata-kata ini tertulis di hatiku.” (–> masuk versi 1 — anne)

Ishaq pernah melaporkan perkataan Muhammad, “Tak ada satupun ciptaan Allah yang lebih kubenci daripada seorang penyair yg bersemangat atau orang yg kerasukan. Aku pikir, ‘Celakalah aku, aku seorang penyair yg kerasukan.” Hal terburuk yg dapat menimpa seorang pria atau wanita adalah kerasukan setan. Ia akan akan mengabaikan semua nilai kesopanan. Beri aplaus untuk Muhammad karena ia menyadari yang dialaminya. Tapi yang amat memalukan, ia menyeret tiga milyar jiwa bersamanya.

Ishaq:106 “Aku akan pergi ke puncak gunung dan terjun ke bawah agar aku dapat bunuh diri dan mendapat ketenangan.” Tak ada keraguan di benaknya. Sepanjang pertemuan yg berisi kekerasan dengan roh di kegelapan gua tsb, Muhammad telah dirasuki Iblis. Ia ingin bunuh diri – sesuatu yang takkan diizinkan Iblis. Iblis punya rencana besar thp nabinya. Ishaq:106 “Lalu aku memanjat gunung untuk bunuh diri, dan kudengar suatu suara berkata, ‘Muhammad, kau adalah Rasul Allah.’ Kutegakkan kepala untuk melihat siapa yang berbicara dan sesungguhnya, Aku melihat Jibril dalam bentuk seorang pria dengan kaki terbuka di langit.” (–> masuk versi 2 — anne)

Bagaimana penyair kita yg ketakutan dan kerasukan bisa membedakan antara Gabriel (Islam:Jibril) dengan Iblis? Wahyu pertama saja diturunkan dengan ancaman, itulah masalahnya. Bukhari:V9B87N113 “Nabi berkata, ‘Mimpi baik berasal dari Allah, dan mimpi buruk dari Iblis.” Dan sesuai pernyataannya sendiri, wahyu pertama adalah mimpi buruk baginya.
Ishaq:106 “Aku berdiri menatapnya, mengalihkan perhatianku dari bunuh diri. Aku tak bisa bergerak. Khadija mengirim utusan untuk mencariku dan menemukanku di ketinggian di atas Mekah. Demikianlah aku datang pada Khadija dan duduk di pahanya. Ia berkata, ‘O Abu’l-Qasim, (Bapaknya al-Qasim, nama putra mereka –anne) dari mana saja kau.’ Aku berkata, ‘Celakalah aku. Aku kerasukan.’ Dia berkata, ‘Aku berlindung pada Allah dari hal itu Abu’l-Qasim. Allah takkan memperlakukanmu seperti itu. Tak bisa, sayangku. Mungkin kau telah melihat sesuatu,” kata Khadija. Otak bisnisnya mulai bekerja. “’Ya, benar’ kataku,” berpura-pura. “Kukatakan padanya apa yang telah kulihat [saat aku tidur]. Dia berkata, ‘Bersukacitalah, anak pamanku, dan gembiralah. Sesungguhnya, oleh Dia yang menggenggam jiwa Khadija, Aku berharap kau menjadi nabi atas orang-orang ini.’” Demikianlah, ‘Rencana Nabi yang Menghasilkan Keuntungan’ pun lahir. “Khadija mengemas pakaiannya dan pergi ke tempat sepupunya Waraqa bin Naufal [seorang Hanif] yang menjadi Kristen. Ia membaca kitab-kitab dan belajar dari para pengikut Taurat dan Injil.”

Tabari memberi informasi tambahan, Tabari VI:70, “Muhammad pergi ke Khadija dan berkata, ‘Kupikir aku telah gila.’ ‘Tidak, demi Allah.’ kata Khadija. ‘Tuhanmu takkan melakukannya padamu. Kau tak pernah berbuat jahat. Khadija pergi ke Waraqa dan menceritakan apa yg terjadi. Waraqa berkata, ‘Jika yg kau katakan itu benar, suamimu adalah seorang nabi….Setelah itu Jibril tak datang padanya untuk sementara waktu dan Khadija berkata, ‘Kupikir Tuhanmu pasti membencimu.’”

Riwayat ini diikuti satu versi tambahan lagi: Tabari VI:70 “Di masa awal misi kenabian Rasul, ia sering menghabiskan waktu satu bulan setiap tahun untuk bermeditasi di gua Hira. Ini adalah bagian dari Tahannuth yang dijalani kaum Quraysh selama masa Jahilliyah. Tahannuth bermakna pembenaran/menahan diri.’” Menarik. Muhammad mempraktekkan ritual keagamaan Jahilliyah, bagian dari penyembahan berhala pra-Islam. Terlebih, definisi mendalam Tahannuth –pembenaran/menahan diri – menjadi identik dengan agenda pribadi sang nabi.

Begitu banyak klaim Muhammad ttg Allah yg mencegah melakukan setiap tindakan pagan. Islam sendiri ternyata bermula di tengah-tengah ritual pagan.

Semakin dalam kita menggali asal mula Islam, semakin bertambah buruk. Jadi tahan sejenak, waktunya melihat-lihat. Kita tahu bahwa Muhammad seorang pertapa – wannabe prophet yang suka menyendiri. Fakta bahwa ia menghabiskan banyak waktu sendirian di gua-gua daripada di rumah sebagai orang tua dan ayah, ataupun giat/produktif di tempat kerja, sangat mengganggu. Benar, ia sedang dalam proses menjadi relijius, tapi hal ini juga bermasalah. Ia menjalani proses sebagai penyembah berhala, dengan mempraktekkan ritual kafir Tahannuth – puasa, pembenaran/menahan diri, dan meditasi – sepanjang bulan suci Ramadhan. Ia menghilang di gua-gua untuk pencarian rohani, berseru pada sebuah Batu Hitam bernama Allah. Dan memang akhirnya ia dirasuki roh kegelapan.

Sementara itu, debat mengenai “membaca” vs “menghafal” punya daya tarik tersendiri. Pengikut Islam modern, dalam usaha mereka memecahkan masalah mengapa roh yang maha tahu meminta seorang buta huruf untuk membaca, berkata bahwa makna sebenarnya kata itu adalah menghafal. Tapi akibatnya semakin memburuk. Mengapa Muhammad mengatakan ia tidak bisa menghafal, padahal disitulah kelebihannya. Dan mengapa roh Islam menyuruh menghafal jika ia sendiri berkata bahwa ia mengajar dengan kalam/pena?

Bahkan kata “menghafal-membaca” sendiri cukup ruwet. Kata aslinya adalah ‘qara’ darimana kata ‘Qur’an’ berasal. Dipakai pertama kali oleh umat Kristiani Syria u/ menyatakan ‘mengajarkan/khotbah’ bukan membaca. Bahkan dalam bahasa Arab, ‘ma aqrau’ dapat berarti ‘Saya tidak bisa membaca,’ atau ‘Apa yang harus saya baca.’ Tapi ini juga masih menjadi masalah karena Muhammad tidak diberi gulungan untuk dibaca.

Mengingat cacat cela pernyataan pengukuhan Allah di awal turunnya wahyu Qur’an, kita coba turunkan pandangan thp sang nabi dari sosok heroik. Menurut berbagai riwayat, ia seorang yang penakut. Bayangkan saja, menghabiskan bulan Ramadhan dengan bergentayangan di gua-gua dengan tujuan berkomunikasi dengan dunia roh dan kedatangan salah satunya membuatnya takut setengah mati. Di versi-versi lebih awal dikatakan bahwa Muhammad begitu putus asa sehingga ingin bunuh diri. Keseluruhan pertemuan bukan hanya bernuansa roh kegelapan/Iblis, tapi sang wannabe prophet malah bilang kalau ia telah dirasuki.

Pewahyuan selesai, utusan yang baru saja dicetak, meluncur menuruni lereng barat Mekah yg tandus, bergegas melintasi gundukan pasir sejauh dua mil, dan masuk ke kota di lembah yg sempit, dimana ia langsung meringkuk di pelukan mama (jangan salah, istrinya lebih dekat padanya sebagai ibu yang tak pernah dikenalnya). Panik dan tersiksa, Muhammad yg berusia 40 tahun berseru pada istrinya yg berusia 60 tahun, “Selimuti aku,” meringkuk seperti bayi di pangkuan Khadija. Muhammad pikir ia telah dianiaya oleh jin, dirasuki roh setan, di kegelapan malam. Ia berkata, “Aku tak tahu apa yang telah terjadi padaku. Aku takut pada diriku sendiri.” “Ia mencurahkan kebingungan jiwanya,” dan menurut Ibn Ishaq, ia berkata, “Aku takut menjadi gila dan dirasuki roh setan.” Satu lagi petunjuk bahwa Islam adalah Iblis.

Apa yang Khadija lakukan selanjutnya adalah memulai/meletakkan dasar bagi kekuatan yang pada akhirnya mengutuk tiga milyar jiwa, memperbudak lebih dari satu milyar wanita, dan mencemplungkan dunia dalam kekacauan. Ia mendirikan Islam. Yah, Khadija adalah pendiri Islam. Muhammad adalah pengikut pertamanya. Sebuah simpul ironi sadis, seorang wanita paling mandiri dan kaya dalam literatur Islam membangun kurungan dimana semua muslimah terjebak di dalamnya.

Sambil menenangkan suami sekaligus karyawannya, ia berkata, “Bersukacitalah, sepupu, dan bergembiralah. Kau akan menjadi Nabi. Allah takkan mempermalukanmu….” Muhammad pikir ia sekedar dipindahtangankan dalam pertandingan gulat dengan setan dan Khadija berkata tidak. “Tidak mungkin. Gembiralah. Aku bersumpah demi Allah bahwa Ia tak akan mempermalukanmu. “Kuharap kau menjadi nabi bagi masyarakat ini.”

Allah hanya salah satu dari 360 batu berdebu di Ka’aba. Bersama-sama dengan Hubal, Manaf and the gang, mereka seperti mustard di sepotong hotdog Mekah. Tak ada Ka’aba tak ada haji. Tak ada haji tak ada perayaan. Tak ada perayaan tak ada uang. Khadija adalah businesswoman – yang sedang berbisnis menghasilkan uang dengan menjual barang-barang ke para peziarah, yang datang ke Mekah setiap tahun mengunjungi dewa-dewa mereka. Dia takkan membiarkan apapun mengacaukan/mencemarkan bisnisnya. Dia tidak hanya mengatakan pada suami/karyawannya bahwa ia salah, dan itu bukan setan, dia bahkan berkata bahwa itu adalah tuhan/dewanya, dewa bulan pagan, batu terhitam di Ka’aba yg takkan membiarkan ia dianiaya roh yg marah – nggak akan!

Lantas, mengantisipasi kejadian selanjutnya, Khadija memulai kampanye publik. Dia katakan ke suami pertapanya bahwa ia adalah seorang pria yg hebat, murah hati, ramah dan dapat dipercaya. Ia adalah calon sempurna untuk posisi Ketua Kelompok Persaudaraan Sosial.

Cerdas dan sukses, Khadija mengemban misi. Dia merencanakan seorang nabi yang menguntungkan. Dia sudah menjadi kaya di ranah kaum pria, tapi tidak punya kekuatan nyata. Malah sebenarnya ia malu, karena selain sudah bercerai dua kali, ia juga yang mengusulkan pernikahan dengan Muhammad, pegawai yg berusia setengah darinya. Ini sebuah skandal.

Untuk mendapatkan izin menikah saja ia harus membuat mabuk ayahnya di pesta pertunangan. Saat ayahnya sedang mabuk berat, Khadija berhasil memaksakan persetujuan yg ia kehendaki. Pasangan aneh ini menikah, tapi tak semua berjalan mulus. Putra mereka meninggal saat masih bayi. Ini seperti sebuah noda buruk dalam budaya saat itu, sama seperti Islam, mengaitkan ketidakberuntungan dengan tindakan yg dianggap tidak saleh.

Suami Khadija adalah orangtua yg sering tidak ada di tempat untuk putri-putri mereka yg masih hidup, dan lebih suka menghindari pekerjaan dalam bisnis keluarga. Ia seorang pertapa buta huruf dengan kecenderungan untuk berjaga-jaga sendirian di gua-gua yg suram, tandus dan berdebu. Hal yang menjadi bahan gossip di kota kecil yg dihuni sekitar 5000 jiwa. Muhammad sama sekali tidak membuat Khadija tampak baik. Khadija menyadari para perempuan bergosip di belakangnya.

Jadi, untuk membalik posisi mereka, Khadija berkata pada suaminya bahwa ia adalah nabi kaumnya – jagoannya Allah. Sebagai ‘Rasul Tuhan,’ ia punya posisi penting, demikian pula Khadija. Khadija mengisyaratkan bahwa posisi juru kunci Ka’aba yg menguntungkan, bahkan urusan administratif haji yg lebih menguntungkan, dan pajak relijius, adalah hak waris Muhammad, tapi takdir telah menyingkirkannya dengan kejam. Sekarang, Khadija tahu, kesempatan mengetuk di pintu. Ia dan Muhammad dapat memiliki semuanya, semua yang mereka dambakan – prestise, uang, kekuasaan. Yang harus mereka lakukan hanyalah meyakinkan penduduk Mekah bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Karena Allah hanya berupa batu, takkan ada yang akan mempermasalahkan klaim mereka. Apa yang akan Allah lakukan? Berguling, remuk, benar-benar bicara? Nggak akan. “Tidak mungkin. Gembiralah. Aku bersumpah demi Allah bahwa Ia tak akan mempermalukanmu.” Khadija bahkan memberitahu suami tersayang bahwa ia sempurna untuk pekerjaan itu: jujur, murah hati (dengan uang Khadija), dan untuk seorang penyendiri, dia perhatian dan menghibur. Tapi itu pasti tidak cukup. Sang Nabi hanya berbaring disana, gemetaran.

Advertisements
This entry was posted in BAB 7 and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s