Bab 8 Penganiaya yang Teraniaya

“Tangkap dia, belenggu, rantai dan lemparkan ke api neraka yang menyala-nyala.”

Situasi di Mekah pastilah sedang panas. Emosi gampang naik. Menjelang musim haji, Muhammad menjadi ancaman. Para pedagang tahu jika ia mulai mengoceh segala omong kosong pada para peziarah, akan punya dampak yang sangat mengganggu terhadap arus pemasukan Ka’aba, Inc. dan dompet uang mereka. Lantas, di sebuah pertemuan, Muhammad dipanggil untuk menyampaikan klaimnya. Abu Lahab, paman sang nabi, berkata: Ishaq:118“’Muhammad sedang berusaha menyihirmu.’ Lalu kaum Quraysh bangkit dan pergi sebelum sang Rasul mengucap sepatah kata. Hari berikutnya mereka berkumpul lagi. Kali ini Rasul berkata, ‘Saudaraku, aku tahu tidak ada orang Arab yang telah datang pada kaumnya dengan pesan yang lebih mulai daripadaku. Aku telah membawakanmu yang terbaik di dunia ini dan nanti.”

Seperti yang dia akui sebelumnya, tujuan agamanya adalah untuk merampas harta karun Persia dan Roma. Pesan Islam, katanya, terbaik di kedua dunia. Jika selamat, kau mendapat harta jarahan; jika tidak, kau mendapat perawan surga. Bukhari V4B52N46 “Aku mendengar Rasul berkata, ‘Allah menjamin Ia akan menerima pejuang muslim masuk dalam surga jika ia terbunuh, jika sebaliknya Ia akan memulangkannya ke rumah dengan selamat dengan hadiah dan harta jarahan.’ Simpel. Islam, ya kejahatan.

Ishaq:118 “Jadi, siapa diantara kalian yang akan bekerjasama denganku dalam hal ini, saudaraku, pelaksanaku dan penerusku ada diantaramu.’ Orang-orang tetap diam. Aku [Ali], meskipun paling muda, paling berair mata, paling bertubuh tambun dan berkaki paling kurus, berkata, ‘Aku akan menjadi penolongmu.’ Muhammad meletakkan tangan di punggungku dan berkata, ‘Ia penerusku. Dengarkan dan patuhi dia.’ Penduduk Mekah tertawa. Mereka berkata pada Abu Talib, ‘Ia menyuruhmu untuk mendengar dan mematuhi anakmu yang berusia 10 tahun.’” Oke. Pertemuan tidak berjalan lancar.

Selanjutnya, walau tadinya berani, si bajak laut wannabe kemudian melipat ekor. Ishaq:118 “Ketika para sahabat Rasul sembahyang mereka pergi ke lembah agar tidak dilihat orang. Tapi suatu hari mereka diganggu dengan kasar. Protes berubah jadi pemukulan. Mereka memukul seorang penyembah berhala dengan tulang rahang unta dan melukainya. Darah pertama yang tertumpah bagi Islam.” Hadist Islam menyematkan ‘darah pertama’ pada muslim, bukan kafir.

Abu Jahl dan para pemimpin Mekah lainnya menemui Abu Talib. Ishaq:119 “ Keponakanmu telah mengutuk dewa-dewa kami [disaat itu ia mengutuk semua berhala termasuk Allah], menghina agama kami [lebih tepatnya, menghina kami dengan mencoba mencuri agama kami], mengejek cara hidup kami dan menuduh leluhur kami melakukan kesalahan.” Itulah sesungguhnya keluhan utama mereka. Muhammad berkata bahwa ayah dan kakek mereka terbakar di neraka. “’Kau yang akan menghentikannya atau kami yang melakukannya. Kau, sama seperti kami, di posisi yang berlawanan dengannya.’ Abu Talib memberikan jawaban damai pada mereka. Kedua kali, mereka datang dan berkata, ‘Kami telah memintamu menghentikan perbuatan ponakanmu tapi kau tidak melakukannya. Demi Allah, kami tidak tahan lagi nenek moyang kami dicerca dan adat istiadat kami diejek.’” Ishaq:119 “Muhammad mengira pamannya hendak meninggalkan dan menghianatinya, sehingga ia akan kehilangan dukungan.” Walaupun penduduk Mekah muak dengan Muhammad dan pesannya, mereka sangat menghormati Abu Talib. Tanpa dukungan paman Abu Talib, sang nabi akan diusir dari kota. ”Rasul menangis,”

Ishaq memberitahu kita, “Situasi memburuk; pertengkaran kian memanas dan penduduk Mekah terpecah.” Ishaq:120 “Tiap suku [sebenarnya klan]menyalahkan umat Islam, membujuk keluar dari agama mereka. Tapi Allah melindungi Rasulnya lewat pamannya.”

Musim haji semakin mendekat, pimpinan Quraysh mengadakan konfrensi dan meluncurkan apa yang disebut umat Islam kampanye propaganda menyerang Muhammad. Ishaq:121 “Jika kita mengatakan hal yang saling bertentangan ttg Muhammad, kita mungkin akan kehilangan kredibilitas [sekaligus keuntungan financial sbg pewaris penipuan agama Qusayy]. Sebab itu, mari kita ajukan satu kritik yang disepakati bersama. Ada yang bilang kita harusnya menyebut Muhammad peramal gila. Tapi apa perkataannya menunjukkan kata2 orang gila? [Ya] Ada yang bilang ia dirasuki. Tapi tidak ada kejang-kejang, bergerak tak beraturan, atau bisik-bisik.’ [Sebenarnya, inilah yg dialami Muhammad tatkala menerima wahyu.] Yang lain berkata, ‘Kita bilang saja dia seorang penyair.’ Tidak, yg dia katakan bukan syair. Kita paham bentuk-bentuk syair.’ [Puisi dalam Qur’an Muhammad jiplakan puisi Zayd, seorang Hanif]. Lalu mereka berkata, ‘Dia seorang penyihir.’ ‘Tidak, kami pernah melihat penyihir dengan sihir mereka. Dia tidak meludah atau meniup.[Ada lusinan hadist menggambarkan Muhammad meludah dan meniup untuk mengusir penyakit dan mantra jahat.] ‘Lantas apa yg harus kita katakan karena, demi Allah, bicaranya manis, akarnya dalam dan cabangnya berbuah.” Tidak ada sejarah pendukung ttg ini. Justru kritik utama thp Muhammad adalah yg sebaliknya.

Kerabat dan tetangga Muhammad, pria maupun wanita yg jauh lebih mengenal Muhammad ketimbang orang Islam jaman sekarang, berkata: “’Yang paling mendekati kebenaran, ia adalah seorang penyihir yang ajarannya merengut seorang pria dari ayah, saudara, istri, anak-anak dan keluarganya.’ Mereka sepakat. Kemudian, sesuai rencana, kaum Quraysh meniupkan kabar ‘ini hanyalah sebuah sihir kuno,’ diantara para peziarah di musim haji. Mereka memperingatkan setiap orang yg mereka jumpai kalau Muhammad seorang penyihir kerasukan, yang memecah belah keluarga.”

Saat aku berpikir begitu pintarnya Iblis yg telah menginspirasikan Qur’an, kaum Quraysh memang benar. Muhammad ingin menghancurkan keutuhan keluarga. Ia, sama seperti Komunis, bertujuan menggantikan ikatan sosial/kekeluargaan dengan kepatuhan total pada pemimpin dan doktrin agama. Dan seperti yg akan kita lihat, ia berhasil – membuat saudara melawan saudara dan anak melawan ayah.

Dalam komentar Qur’annya yg pro-Islam, Maududi berkata, “Orang akan tahu bahwa Qur’an tidak diwahyukan untuk mendakwahkan toleransi beragama sebagaimana yg dikira banyak orang, tapi Qur’an diwahyukan untuk memisahkan orang Islam dari agama kafir, ritual ibadah mereka, tuhan-tuhan mereka, dan untuk mengekspresikan kebencian total.” Aminnn…

Sebuah puisi yg diduga berasal dari Abu Talib mendominasi 5 halaman berikutnya Sira Ishaq. Seorang kafir pagan yg berbicara dengan hormat ttg ritual-ritual Islam. Ishaq:123 “Demi Batu Hitam, saat mereka menyentuhnya, mengelilinginya siang dan malam. Demi tempat berdiri Ibrahim, yg jejak kakinya masih segar. Demi perjalanan antara Safa dan Marwa. Setiap peziarah menuju rumah Allah.” “Demi pemberhentian Mina.” “Demi tumpukan batu agung hingga bagian atas yg berkerikil….” Puisi terus berlanjut membicarakan ttg pertempuran, dan para pengecam Muhammad berakhir dalam genangan darah mereka sendiri. “Karena bila kita laki-laki kita akan membalas dendam. Dan kalian akan menderita akibat perang.”

Umat Islam seharusnya terganggu, ternyata seorang penyembah berhala yg menyokong ritual2 mereka. Ia bahkan lebih berbicara selayaknya seorang nabi daripada nabi mereka sendiri. Namun itu masih belum seberapa dibanding apa yg dikatakannnya selanjutnya. Ishaq:126 “Katakan pada Qusayy, ajaran kita akan menerobos keluar negri. Berikan kabar baik pada Qusayy musuh-musuh akan jatuh di hadapan kita.” Ia benar memberikan sanjungan pada Qusayy sebagai pendiri ajaran yang akan menerobos keluar Arab dengan pedang: Islam.

Hadist Ishaq selanjutnya memberikan peralihan yg sangat bagus kembali ke Qur’an. Ishaq:130 “Saat kaum Quraysh tertekan oleh masalah yg ditimbulkan Rasul, mereka menjulukinya pembohong, menghinanya, dan menuduhnya penyair, penyihir, peramal dan orang yg kerasukan. Tapi Rasul terus menyampaikan apa yg sudah diperintahkan Allah. Ia membuat mereka gusar dengan mengutuk agama mereka, mengecam berhala mereka dan mengatakan mereka kafir.”

Dalam surah berjudul ‘Kaum yg tak Percaya/Orang-orang Kafir,’ roh si Muhammad berkata padanya Qur’an 109:1 “Katakanlah,’Hai orang-orang kafir, Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku”. “Say: O unbelievers! I worship not that which you worship, nor will you worship that which I worship. And I will not worship that which you have been wont to worship, nor will you worship that which I worship. To you your Way, and to me my way.” Sebuah pengakuan jujur. ‘Caraku/Jalanku’ (‘My Way’) Itulah Islam selamanya. Agamanya, jarahannya, perempuan-perempuannya, kekuasaannya, milik sah dia. “Kau dengan agamamu dan aku dengan agamaku.”

Di Mekah, Abu Lahab dapat dianggap raja. Sebagai pemimpin klan Hashim, ia mewarisi penipuan berkedok agama, The Ka’aba, Inc. Ia juga tetangga sekaligus paman Muhammad. Pondok lumpur mereka berbatas dinding yg sama. “Kadangkala, ketika Muhammad sedang melakukan sembahyang, Abu Lahab menempatkan isi perut kambing di atasnya. Kadang-kadang, waktu masakan sedang dimasak di halaman, ia dan istrinya melemparkan kotoran ke panci masakan. Nabi berkata: ‘Tetangga macam apa ini.’ Istri Lahab juga menaruh duri-duri di pintu masuk rumahnya di malam hari sehingga waktu Muhammad keluar, duri-duri tsb akan menusuk kakinya.”

Di surah 110, berjudul ‘Pertolongan,’ adalah satu-satunya surah di Qur’an yg menyebutkan nama salah satu musuh nabi yg dikutuk (Lahab). Maududi menjelaskan, “Paman Muhammad, Abu Lahab, memiliki sifat karakter yg menjadi dasar kutukan ini. Untuk memahaminya, perlu dipahami masyarakat Arab pada saat itu.” Guru Islam kita ini terus mengklaim, “Di masa lampau, kekacauan dan kebingungan yg menguasai; pertumpahan darah dan penjarahan terjadi di seluruh tanah Arab.” Sebenarnya justru sebaliknya yg terjadi. Kekacauan, pertumpahan darah, dan penjarahan terjadi dimana-mana sejak Islam, bukan sebelumnya. Saat kebenaran menyakitkan, umat Islam berbohong – bahkan jika mereka harus mengutuk Arab.

Terjebak bermuka dua, Maududi berkontradiksi dengan dirinya sendiri: “Anggota klan melindungi harta benda bersama. Disebut silah rehmi: berbuat baik thp sesama keluarga (ga sekacau yg dibilang -–anne). Ini nilai moral tertinggi masy Arab. Barangsiapa melanggar dianggap dosa besar.” Jika ini benar, Muhammad adalah pendosa yg amat parah karena doktrin dan serangan terorisnya mengadu Arab lawan Arab. Pertengkaran mengenai uang berujung pada perang saudara yg kejam.

“Dalam permusuhannya thp Islam, Abu Lahab, melanggar perdamaian.” Bagaimana ejekan Lahab dibalas kutukan dalam kebencian yg menyala-nyala merupakan sebuah teka-teki.

Sebenarnya, motivasi Muhammad meyerang Lahab, pamannya, disebabkan Lahab memiliki apa yg ia dambakan. Keduanya keturunan Abdul Muttalib, warisan melewati Muhammad, diberikan pada Lahab. Penghinaan ditambahkan pada luka, yakni saat ayahnya meninggal, sang nabi yatim ini benci kenyataan ia tidak diadopsi atau didukung pamannya Abu yang kaya. Maududi berkata, “Paman Lahab diharapkan mejaga si ponakan seperti anaknya sendiri. Tapi dalam permusuhannya thp Islam dan kecintaannya pada kekafiran, ia menginjak-injak semua tradisi Arab (ini juga berarti ga kacau tuh –anne).” Nah…nah…Tuan ulama, kau telah melakukan kesalahan. Dengan mengatakan itu, kau telah mengaburkan seluruh tujuan Islam.

Mari saya terangkan. Abu Lahab tidak menginjak-injak tradisi Arab dalam pandangan Islam sebagaimana Muhammad dan ulama terhormat kita ingin agar kita percaya. Belum ada Islam waktu sang anak yatim perlu pertolongan. Lagipula, Muhammad telah menikahi uang 25 tahun sebelum perselisihan ini. Kalau bukan keuntungan melimpah dari penipuan agama (Ka’aba), sang wannabe prophet sama sekali tidak butuh diadopsi sekarang. ‘Sekarang’ adalah kata kuncinya. Kembali saat Muhammad seorang anak yatim, tak seorangpun menginginkannya – ‘tak seorangpun’ termasuk orang yg mewarisi segalanya, pamannya. Karena Lahab telah menolak dan mengabaikannya, Muhammad dibawa ke padang gurun. Jeritannya menggema hingga ke kita sekarang, berteriak pada kita ia telah dianiaya. Api dan air mendidih adalah instrument siksaan, bersama dengan kelaparan yg memaksanya mengais-ngais sampah mencari makanan. Qur’an adalah saksi kita akan masa-masa mengerikan tsb. Islam adalah akibatnya.

Ketika sang nabi yang sedang ‘menjalani pelatihan’ ini kembali ke Mekah di usia 6 tahun, ibunya meninggal – ibu yg tak pernah melihat atau berusaha mencarinya, ibu yg gagal melindunginya, ibu yang mengabaikannya. Tak mengherankan Muhammad mendambakan perhatian perempuan; tak mengherankan ia menikahi perempuan seusia ibunya, perempuan yg dapat mengurusnya. Dan tak mengherankan Muhammad memperlakukan perempuan setengah manusia. Nasib muslimah saat ini adalah gaung siksaannya di masa lalu yang masih menghantui.

Kemarahan terpendam dapat menjadi kekuatan luarbiasa dengan akibat yg kronis. Demikianlah yang terjadi. Ketika Muhammad berusia 50-an, ia menikahi anak perempuan sahabatnya yg berusia 6 tahun. Dikemudian hari ia katakan pada anak itu, “Yang paling kusukai adalah bau-bau yg harum dan wanita-wanita cantik.” Ia melakukan inses, dengan mengambil istri anak angkatnya. Qur’an menyatakan bahwa istri-istrinya bukanlah sesuatu yg penting —Allah akan memberi ganti perawan-perawan baru jika mereka tidak patuh. Ketika Muhammad memarahi istri kanak-kanaknya yg memprotes jumlah selir yang terus bertambah, turunlah ayat lain yang sesuai, sehingga Aisha berkata, “Tuhanmu kelihatannya segera memenuhi keinginanmu.”

Setelah ibu Muhammad meninggal, Abu Lahab lagi-lagi menolak anak yang peka ini. Muhammad yg berusia 6 tahun terpaksa diasuh seorang budak. Dapatkah kau bayangkan rasa sakit, rasa cemburu, dan rasa marahnya? Saudara ayahnya mewarisi penipuan agama, hajj, perayaan Ramadhan, dan pajaknya. Ia juru kunci Ka’aba, rumah Allah. Muhammad tak memiliki apa-apa. Hatinya berteriak pada pamannya, mengemis perlindungannya, mengasuhnya, memberinya makan. Tapi tidak ada.

Dua tahun kesengsaraan berlalu sebelum akhirnya kakek Muhammad, Abdul Muttalib, akhirnya mengakui anak miskin tsb. Tapi walau demikian, hal ini sangat mengganggu, mengingat yang dikatakan Ishaq bahwa Abdul Muttalib “akan mendudukkannya di sampingnya di tempat tidur dan membelainya dengan tangannya. Ia sangat menyukainya dan biasa menimang/mengelusnya.” “would make him sit beside him on his bed and would stroke him with his hand. He was extremely fond of him and used to constantly pet him.”

Si kakek meninggal beberapa tahun kemudian, dan sang bakal nabi beralih diasuh Abu Talib, paman yg lain. Sama dengan Abu Lahab, ia adalah saudara ayah Muhammad. Muhammad belum menginjak 10 tahun, dan baik itu karena kematian atau pilihan, yang jelas ia telah diabaikan atau ditolak: dua kali oleh ibunya, ayahnya, Halimah si perempuan Badui, seorang budak, dua kali oleh Abu Lahab, dan terakhir oleh kakek Muttalib. Hanya karena curiga paman Abu Talib akan menolaknya saja membuat Muhammad saat berusia 45 tahun menangis. Muhammad mengalami masa kecil yang mengerikan dan tersiksa. Tak sulit melihat mengapa dia merasa tidak aman, penuh dengan kemarahan, mengapa Qur’annya merefleksikan rasa permusuhan, dan mengapa paman Abu Lahab menjadi fokus kemarahannya – satu-satunya orang yg namanya tercantum dari sekian banyak yg dikutuk. Saat penipuan dipromosikan Khadija, sebagian besar motivasi kelahiran Islam disebabkan oleh paman Abu Lahab.

Dalam Tabari, ttg saat Muhammad di Mekah, kutemukan sebuah hadist yg kupasangkan dengan hadist serupa dari Ibn Ishaq:Tabari VI:89 “Suatu hari Rasulullah menunggang al-Safa [unta perempuan favoritnya] dan berseru, ‘Jika kukatakan pada kalian bahwa di balik bukit ada sejumlah besar musuh yg hendak menyerang malam ini, apa kalian akan percaya.’ ‘Tentu saja,’ jawab penduduk Mekah. Ia berkata, ‘Aku seorang yg memberi peringatan thp azab yg mengerikan.’ Abu Lahab menjawab, ‘Jika aku menerima agamamu, apa yg kudapatkan?’ Nabi berkata, ‘Kau akan mendapatkan apa yg didapat orang lain [yg patuh padaku].’ Abu Lahab berkata, ‘Apa tidak ada keistimewaan bagiku?’ Nabi menjawab, ‘Apa yang kau inginkan.’ Lahab berkata, ‘Semoga agama ini musnah, bila aku dan orang-orang lain harus setara.’ Nabi berkata, ‘Kuperingatkan padamu, kau sedang menuju siksaan.’ Kemudian Allah mewahyukan, ‘Kekuasaan Abu Lahab akan musnah’ mengutip akhir ayat.” Tidak ada tempat bagi raja kedua dalam Islam. Muhammad tak akan berhenti sampai ia memerintah sendirian.

Sebelum pernyataan kenabian Muhammad, ia menikahkan dua dari tiga putrinya dengan 2 putra Abu Lahab, Utbah dan Utaibah. Aneh, seorang nabi begitu berpikiran sempit menikahkan darah dagingnya sendiri dengan anak pria yg menjijikkan baginya. Tapi Muhammad lebih ke seorang pengambil untung daripada seorang nabi. Ada satu alasan mengapa ia memberikan anak perempuannya kepada orang yg ia benci. Abu Lahab, seperti Khadija, memiliki uang, kekuasaan, dan prestise. Hal-hal yg bisa diperoleh melalui ikatan perkawinan.

Setelah Muhammad mulai ‘mengundang’ penduduk Mekah memandangnya sebagai Nabi Allah, pewaris sah ritual hajj, perayaan Ramadhan, pajak agama, dan juru kunci Ka’aba, Abu Lahab berkata pada kedua anaknya ‘Aku bersumpah tak akan melihat dan menemui kalian sampai kalian menceraikan anak-anak Muhammad.” Muhammad sedang berhasrat pada bisnis sang ayah. Lantas diceraikanlah kedua istri mereka.

Tabari VI:89 “Utaibah menjadi begitu jahat, ia mendatangi Nabi dan berkata, ‘Aku menolak Islam.’ Lalu ia meludahinya, tapi tidak kena. Nabi berdoa: ‘Ya, Allah jadikan dia korban seekor anjing dari anjing-anjingMu.’” Jika Tuhan benar-benar maha pemaaf seperti yg diklaim Muhammad, ia tidak akan mengutuk sepupu nabinya dimakan anjing disebabkan sedikit cipratan ludah yg tidak kena. Tapi jika ia Allah yg dikenali Muhammad, Iblis yg disimbolkan Batu Hitam Ka’aba, ia sesuatu yg tindakannya harus diperhitungkan orang yg menghalangi kehendaknya. Hadist ini adalah bagian dari tindakannya tsb.

Menurut Abdul Barr: “Setelah kejadian itu, Utaibah ikut dengan ayahnya (Abu Lahab) dalam perjalanan ke Syria. Dalam perjalanan, kafilah mereka berhenti di sebuah tempat, yg menurut penduduk setempat, didatangi hewan buas di malam hari. Lahab berkata pada para sahabatnya, orang-orang Quraysh, ‘Aturlah dengan sebaik-baiknya perlindungan bagi putraku, karena aku khawatir akan kutukan Muhammad padanya.’ Orang-orang mengatur unta-unta mereka duduk mengelilingi Utaibah, kemudian pergi tidur. Malam itu seekor harimau datang. Menerobos lingkaran unta, melahap Utaibah dan mencabik-cabiknya.” Inilah bukti, salah satu dari sekian hal yg akan dikatakan umat Islam demi membuat Allah tampak benar-benar Tuhan.

Maududi dalam komentar Qur’annya menerangkan, “Kejahatan Abu Lahab dapat dinilai oleh fakta setelah kematian putra pertama Nabi, Hadrat Qasim, dan putra kedua, Hadrat Abdullah, paman Abu Lahab bukannya menghibur ponakannya yg sedang berduka, malah bergegas menemui pimpinan kaum Quraysh, dan dengan kegirangan memberi kabar Muhammad sudah tak punya putra lagi.” Yang tak disadarinya adalah karakter Muhammad. Lebih dari satu dekade setelah kematian putra-putranya, ia mengatur perkawinan putrid-putrinya dengan putra-putra pria jahat ini. Mengapa, kalau tidak ada sesuatu milik Abu Lahab yg diinginkan Muhammad?

“Kemanapun Muhammad pergi berdakwah ttg Islam. Abu Lahab mengikutinya dan melarang orang-orang mendengar. ‘Aku masih kecil saat menemani ayahku ke hadapan Dhul-Majaz (berhala -– anne). Kulihat Rasulullah berkata, ‘Wahai umat, katakanlah: tidak ada tuhan melainkan Allah (katakan demikian dan) kalian akan mencapai sukses. “Ikut di belakangnya kulihat seorang pria yg berkata pada orang-orang “Orang ini pendusta. Ia telah sesat dari iman para leluhurnya.’”

Hadrat Rabiah berkata, “Nabi berkunjung ke tempat berkumpul masing-masing suku dan berkata ‘Wahai anak-anak ini dan itu, Aku telah ditunjuk sebagai Utusan Allah untukmu. Aku memperingatkan kalian untuk menyembah Allah semata. Berimanlah padaku dan bergabunglah denganku agar aku dapat menunaikan misiku.’ Ikut di belakangnya, seorang pria yg berkata, ‘Wahai anak-anak ini dan itu, ia hendak menyesatkanmu dari Lat dan Uzza serta mengajakmu ke agama yg salah, agama ciptaannya. Jangan dengarkan yg dia katakan dan jangan mengikutinya.’ Abu Lahab melempari batu hingga tumitnya berdarah. Ia berkata, ‘Jangan dengarkan dia, dia pembohong.’” Muhammad memang ‘memimpin [umat Islam] pada kesesatan …..mengundang [mereka] ke agama yg salah.’ Namun, referensi hadist ini pada kata Allah menunjukkan Tradisi oral ini berasal dari Yathrib/Medina bukan Mekah. Kata ‘Allah’ masih bertahun lagi mulai dipakai dalam Qur’an.

Jika orang-orang yg dekat dengan Muhammad, tetangga dan pamannya, misalnya, tidak cukup yakin, nabi berkata pada dirinya sendiri: “Aku telah ditunjuk sebagai Rasul Allah bagimu. Aku memperingatkanmu hanya menyembah Allah. Berimanlah padaku dan bergabunglah denganku agar aku dapat menunaikan misiku.” Sebagai sebuah janji iman tentu ini sangat kurang. Namun bila dilihat dari kacamata seorang anak teraniaya yg sedang mencari pembalasan dan mendambakan kekuasaan, jadi masuk akal. Sbg sebuah tipuan agama segala sesuatu punya sebab akibat.

Akhirnya klan-klan Quraysh memboikot kelompok kecil Muhammad yg terdiri dari sekelompok orang yg rendah secara sosial dan ekonomi. “Abu Lahab,”menurut Ibn Hisham, “satu-satunya orang yg memihak klan-klan kafir Quraysh, menentang klannya sendiri. Boikot ini berlangsung selama tiga tahun. Para pengikut Muhammad yg paling miskin mulai kelaparan. Tapi Abu Lahab tidak tergerak hatinya.” Ishaq:161, “Lahab dan istrinya Umm mengejek dan mentertawakannya hingga turun wahyu Qur’an ttg kejahatan mereka. Umm menaruh duri-duri di jalan Rasul.” Menurut Maududi: “Saat pamannya dikutuk dengan menyebutkan namanya, orang-orang belajar bahwa Rasul dapat memperlakukan kerabatnya dengan keras dalam hal agama. Saat pamannya sendiri diadili di depan umum, orang-orang paham tidak ada tempat bagi ikatan darah dalam agama ini.” Dengan kata lain Muhammad bersalah telah merusak unit keluarga.

Wahyu “Gejolak Api (Al Lahab)” menunjukkan jatidiri Muhammad, seperti jendela ke dalam jiwanya. Kusiapkan 5 terjemahan:

Qur’an 111:1
Yusuf Ali : “Binasalah tangan Ayah dari Api! Binasalah ia!”
Noble : “Binasalah kedua tangan Abu Lahab (paman Nabi), dan binasalah ia!”
Pickthal : “Kekuasaan Abu Lahab akan binasa, dan ia akan binasa.”
Syakir : “Kebinasaan atas kedua tangan Abu Lahab, dan ia akan binasa.”
Ahmed Ali : “Akan dihancurkan tangan Abu Lahab, dan ia sendiri akan binasa.”

Qur’an 111:2
Yusuf Ali : “Tak ada guna baginya semua kekayaannya, dan semua keuntungannya!”
Noble : “Kekayaan dan anak-anaknya tak akan berguna baginya!”
Pickthall : “Kekayaan dan keuntungannya tidak akan membebaskan dia.”
Syakir : “Kekayaan dan apa yang ia hasilkan tidak akan berguna baginya.”
Ahmed Ali : “Tidak ada guna kekayaannya, juga apa yang telah diperolehnya.”

Qur’an 111:3
Yusuf Ali : “Akan terbakar segera Ia dalam Api Neraka yg Menyala-nyala!”
Noble : “Ia akan dibakar dalam Api Neraka yg Menyala-nyala!”
Pickthall : “Ia akan diceburkan dalam Api yg menyala-nyala,”
Shakir : “Ia akan segera terbakar dalam api yang menyala,”
Ahmed Ali : “Ia akan dipanggang dalam api,”

Qur’an 111:4
Yusuf Ali : “Istrinya akan membawa kayu (api) – Sebagai bahan bakar!”
Noble : “Dan istrinya juga, yg membawa kayu (dr duri2 yg diletakkannya di jalan Nabi).
Pickthall : “Dan istrinya, pembawa kayu,”
Shakir : “Dan istrinya, pembawa bahan bakar,”
Ahmed Ali : “Dan istrinya, penjaga pintu kayu api,”

Qur’an 111:5
Yusuf Ali : “Sebuah jalinan temali dari ijuk melingkari lehernya (sendiri)!”
Noble : “Di lehernya sebuah jalinan temali dari Masad (Ijuk).”
Pickthall : “Akan terpasang di lehernya tali kekang dari ijuk.”
Shakir : “Di lehernya tali kekang dari jalinan temali yg kuat.”
Ahmed Ali : “Akan terpasang tali pengikat dari sabut di sekeliling lehernya.”

Abu Lahab berbicara keras dan melempar batu, lantas Muhammad menyuruh tuhannya menyerang pamannya dan mengutuki sepupunya. Dan lewat pengakuannya, nabi memberitahu kita bahwa kekayaan warisan maupun keuntungan yg pamannya peroleh tidak akan membebaskannya dari siksaan. Adanya pembedaan antara kekayaan (warisan) dan keuntungan (penghasilan sendiri) disebabkan Muhammad mendambakan apa yg diwarisi Lahab – penipuan berkedok agama Qusayy. Nabi ingin agar kita tahu bahwa jabatan jurukunci Ka’aba tak akan menyelamatkan Lahab karena ia telah meyerahkan haknya. The Ka’aba Inc. milik Muhammad. Allah yg menyatakannya.

Kadangkala rincian terkecil memberi tahu banyak hal pada kita. Coba pikir, tuhan berkontradiksi dengan dirinya sendiri dengan memberitahu kita bahwa istri Abu Lahab akan membawa kayu api neraka sementara di ayat lain dikatakan tubuh-tubuh manusia-lah yang dijadikan bahan bakar neraka. Ini petunjuknya: Kebakaran di Arab seringkali dipicu oleh semak belukar kering seperti yg durinya disebar istri Abu Lahab di pintu Muhammad. Ya, pikiran Muhammad berbelit-belit seperti halnya tali yg melingkari leher Umm. Bukhari:V6N356 “Melingkar di lehernya, belitan ijuk, jalinan serupa dalam Api Neraka.”

Sampai sekian saja sudah terlihat buruknya, padahal ini baru permulaan. Ajaran keluarga ttg hoax/kebohongan dalam agama memicu hoax lain. Maududi menjelaskan “Di masa-masa awal kenabian, Muhammad melalui kondisi yg paling sulit. Seluruh kaum berubah memusuhi; ada perlawanan di segala arah. Nabi dan para Sahabat tidak melihat sedikitpun celah keberhasilan. Lalu Allah, untuk menghiburnya, menurunkan beberapa ayat. Allah berkata [alasan utama terciptanya Islam]: ‘Segera Tuhanmu akan memberimu begitu banyak sehingga kau akan senang.’ Dan Allah berkata [alasan kedua terciptanya Islam]: ‘Kami akan memasyhurkannu. Walau musuh berusaha mencemarkan nama baikmu di seluruh negri, Kami, sebaliknya, meninggikan nama dan ketenaranmu,”

Sebenarnya, Muhammad tidak punya musuh diluar kampung kecil Mekah –- terlihat betapa kerdilnya wawasan dunia Allah. Dan bahkan istilah ‘musuh’ terlalu dibesar-besarkan. Sukunya Muhammad mengejek wahyunya, mereka mencacinya, dan mentertawakan biaya yg dia keluarkan. Tidak seperti musuh yg sebenarnya, mereka tidak menyerangnya, memenjarakannya, atau menghancurkan rumahnya -– hal-hal yg justru dilakukan Muhammad di Medinah, dan juga dilakukan oleh pengikutnya dewasa ini.

Maududi berkata, “Demikianlah kondisi menyesakkan saat surah ke-108 [berjudul Ni’mat Yang Banyak/Al-Kautsar] diturunkan. Kaum Quraysh marah pada Nabi. Para Sahabat tak berdaya, orang-orang malang yg dianiaya dan dizalimi.” Ada sesuatu ttg Islam yg mengganggu pikiran. Perilaku Quraysh yg dicemooh Maududi justru warisan terdalam Islam. Setiap negara berlandaskan syariat Islam adalah tiran, masyarakat mereka miskin dan non-muslim dianiaya. Bahkan mereka menganiaya umat mereka sendiri, khususnya kaum perempuan. Menakjubkan seorang ulama Islam dapat menuliskan kata-kata ini tanpa melihat dirinya sendiri di cermin.

“Terlebih lagi,” lanjut Maududi, “ia berduka dengan kematian kedua putranya yg saling susul, sesudah itu kerabat terdekat, klan, dan tetangga bergembira dan mengucapkan kata-kata yg mengecewakan dan mengganggu bagi seorang mulia yg bahkan memperlakukan musuhnya dengan sangat baik.” Sangat baik? Tak pernah dalam rangkaian sejarah manusia memiliki ‘tokoh agama’ yg memperlakukan klannya, musuh-musuhnya, dan kerabatnya begitu penuh kebencian. Roh pembimbing Muhammad mencerca penduduk Mekah di Qur’an dan mengutuk mereka masuk neraka. Dan membawakan neraka pada mereka dengan menjarah harta benda mereka dan menaklukkan kota mereka. Selanjutnya, Ishaq mendata ada 3 putra, bukan dua yg meninggal saat bayi 20 tahun sebelumnya.

Di baris penutup, Maududi menegaskan sifat Iblis di Islam, “Tentang ini Allah dalam satu kalimat di surah pendek ini memberi kabar baik pada Muhammad, lebih baik dari kabar apapun yg pernah diberikan pada manusia, yakni, lawannya akan dihabisi/diputus dari akarnya, bukan dia.” Kabar baiknya, keluarga dan tetangga nabi akan ‘dihabisi.’ ‘Kabar Baik’ Islam bukan ttg keselamatan, melainkan ttg kutukan.

Dalam ayat ini, Muhammad mengklaim hadiahnya -– sumber kekayaan abadi – Kausar. Sayangnya, kekayaan ini mengalir dari sumber penipuan – Ka’aba-nya Allah. Qur’an 108:1 “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.”“To you have We granted Kausar, the fountain of abundance. Therefore to your Lord turn in Prayer and Sacrifice.” Sebelum kita meninggalkan ‘Bank of Kautsar’ perhatikanlah kata ‘oleh sebab itu.’ Sebuah tawar menawar disepakati. Doa dan pengorbanan adalah jasa/layanan thp pembayaran yg telah diberi Allah. Muhammad memberi tahu sesuatu yg seharusnya sudah kita pahami: ‘Aku melakukannya demi uang.”

Tradisi berikutnya tidak lain pengakuan dari pencatut agama paling terkenal di dunia: Tabari VI:95 “Abu Talib berkata pada Muhammad, ‘Ponakan, bagaimana ini, sukumu mengeluh ttgmu dan mengatakan bahwa kau menghina dewa-dewa mereka dan berbicara macam-macam.’ Rasulullah berkata, ‘Paman, aku ingin mereka mengucapkan satu kalimat [Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Nabinya.] Jika mereka mengatakan itu, orang-orang Arab akan tunduk pada mereka dan orang-orang bukan Arab akan membayar pajak jizyah.’” Jizyah adalah pajak yg sangat tinggi, dikenakan pada umat Kristiani dan Yahudi hingga masa sekarang. Disebut juga pajak perlindungan dan persis seperti pajak oleh mafia. Jika bayar, kau selamat, jika tidak kau tewas.

Andai kau pikir hadist tsb terlalu memberatkan sbg bagian cerita Islam, terlalu berorientasi ke materi daripada kenabian, pertimbangkan kata-kata dari tuhan Islam berikut. Setelah berkata pada umat Islam bahwa ‘Allah akan memberi kekayaan kepadamu dari karuniaNya,’ Qur’an 9:29 berkata: “Perangilah orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian, dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan RasulNya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al-Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” “Fight against those People of the Book [Christians and Jews] who do not follow what Allah and His Messenger (Muhammad) acknowledge as the true religion (Islam), nor accept Our law, until they pay the Jizyah tribute tax in submission, and feel themselves subdued, being brought low.” Translasi lain bilang: “bayar pajak di bawah kekuasaan kita dan dalam keadaan tunduk.” Islam adalah skema pembuatan uang — Rencana Nabi yang Menguntungkan.

Qur’an 108:3 “Sesungguhnya orang-orang yang menghina kamu dialah yang terputus.” “For he who insults you (Muhammad) will be cut off.” Bandingkan dengan Yesus yang diperlakukan secara tidak adil dan menerima siksaan fisik, bukan hanya diejek secara verbal, Yesus justru berdoa, “Ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Tetapi roh kegelapan Islam, ‘menghabisi’ para pengejek —mengirim mereka terbakar di neraka.

OK. Kita lanjut. Dari topik bisnis kita beranjak ke topik kiamat. Surah berikutnya, surah ke-75, agak aneh. Terjemahan bahasa indonesia tidak tepat dengan bhs Inggrisnya. Ini versi Indonesianya: Qur’an 75:1, “Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). Apakah manusia mengira, bahwa Kami tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya?”

Inggrisnya: “I swear by the Day of Resurrection; and I call to witness the self-reproaching spirit, the accusing soul. Does man think that We cannot assemble his bones?”
Lihat terj. inggris u/ ayat 2: http://quran.com/75:
Pickthall: Nay, I swear by the accusing soul (that this Scripture is true).
Yusuf Ali: And I do call to witness the self-reproaching spirit: (Eschew Evil).
Shakir: Nay! I swear by the self-accusing soul.

Seharusnya ayatnya dalam bahasa Indonesia harus berbunyi: Aku bersumpah demi hari kiamat, dan aku bersaksi PADA (atau ‘demi,’ tapi bukan ‘dengan’)jiwa/roh yang menuduh diri sendiri.

Siapa ‘jiwa/roh yang menuduh dirinya sendiri’? Dan siapa si ‘aku’ yang bersaksi pada jiwa yang menuduh dirinya sendiri?? Bisa jadi si Iblis, atau bisa juga Muhammad, karena ia memang sendiri memberatkan dirinya sendiri dengan setiap kalimat. ‘Mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya,’ bermakna Islam percaya akan kebangkitan tubuh, bukan keselamatan rohani. Mungkin karena pesta pora mabuk di Surga memerlukan tubuh jasmani, bukan roh, hati atau akal.

Membaca kelanjutan surah, kita paham bahwa Hari Kebangkitan dan Kiamat adalah satu paket. Kita juga dihadapkan pada bulan yg menggelap, mengungkap maksud jahat Iblis. Qur’an 75:3, “Bukan demikian, sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna. Bahkan manusia itu hendak membuat maksiat terus menerus. Ia berkata: “Bilakah hari kiamat itu?” Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan, pada hari itu manusia berkata: “Ke mana tempat berlari?” sekali-kali tidak! Tidak ada tempat berlindung!….. Bahkan manusia itu menjadi saksi atas dirinya sendiri meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya. [Hebat bukan transisinya: dr ‘kiamat’ tiba2 ke ‘pembacaan Qur’an :rolleyes: ‘]Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya maka ikutilah bacaannya itu. Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.”

Para ulama Islam mengatakan inti pertikaian antar Muhammad dan sukunya mengenai hari kebangkitan kembali (resureksi). Tapi itu tidak benar. Orang Arab percaya pada resureksi. Buktinya, salah seorang kerabatnya mengikat unta kesayangannya di makam agar dapat ikut dengan almarhum ke surga.
Jadi, resureksi bukan inti pertikaian. Masalah sebenarnya, Muhammad berkata bahwa leluhur mereka terbakar di neraka karena mereka meninggal di zaman Jahiliyah pra-Islam. Para penduduk Mekah yang menyayangi nenek moyang mereka tentu mangkel dan jelas saja banyak diantaranya menyerang pandangan Muhammad yang sempit dan tidak toleran ini. Mereka juga mungkin merasa kesal akan gambaran surga yang cabul dan neraka yang sadis versi Mamad.

‘Bulan bercahaya lalu yang menggelap dan lalu disatukan dengan matahari’ juga aneh. Bulan bukanlah sumber terang yang sebenarnya, hanya ilusi/sumber palsu, sebab itu merupakan simbol Iblis. Kegelapan diidentikkan dengan kejahatan dan kebohongan.

Perubahan topik mendadak (dari ‘neraka’ tiba2 ke p’embacaan Qur’an’) dalam surah ini terjadi pula pada sebagian besar ayat Qur’an. Kalimat “Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya,” muncul secara tiba-tiba. Tanpa peralihan atau konteks. Ini jadi tidak masuk akal. Tuhan itu abadi. Ide bahwa tuhan masih harus menjelaskan Qur’annya agar masuk akal sungguh memalukan (tuhan yg ga benar, wahyunya ga jelas –anne). Ini mengingatkan kita akan salah satu ayat utama dan paling bermasalah di Qur’an: Q5:101 (jurus ngeless—anne), “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qur’an itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah mema’afkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. Sesungguhnya telah ada segolongan manusia sebelum kamu menanyakan hal-hal yang serupa itu (kepada Nabi mereka), kemudian mereka tidak percaya kepadanya.”

Hadis mengkonfirmasikan Bukhari:V2B24N555 “Aku mendengar Nabi berkata, ‘Allah membencimu karena mengajukan terlalu banyak pertanyaan.”

Mengajukan banyak pertanyaan DILARANG karena Islam memang tidak bisa memberi penjelasan yg meyakinkan. Islam adalah kebodohan dan keberadaannya tergantung pada kebodohan umatnya. Semakin dalam digali, semakin terungkap penipuannya. Inilah sebabnya mengapa umat Islam melindungi doktrin mereka dengan menyerang siapapun yang mengkritik kitab suci mereka. Cara paling ampuh menyelamatkan Muslim dari Islam adalah dengan mengekspos ajarannya.

Surah mengenai ‘Hari Kiamat’ berlanjut. Q75:20 “Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat. Wajah-wajah (orang-orang mukmin) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat. Dan wajah-wajah (orang kafir) pada hari itu muram, mereka yakin bahwa akan ditimpakan kepadanya malapetaka yang amat dahsyat. Sekali-kali jangan. Apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan dan dikatakan (kepadanya): “Siapakah yang dapat menyembuhkan?” dan dia yakin bahwa sesungguhnya itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau.” Sulit membayangkan betapa agama yang penuh dengan nuansa Iblis dan terpaku pada penderitaan telah bertahan, apalagi berkembang. Jika bukan karena pedang, Islam sudah mati sejak kelahirannya.

Ya, ya, aku tahu, Alkitab juga bicara ttg neraka dan penghukuman, jadi mengapa menyerang Islam begitu keras? Jawab saya adalah: kepantasan, proporsi, keterlibatan pribadi dan kejelasan.

Pertama, Alkitab berbicara ttg neraka sebagai tempat bagi mereka yang telah menerima wahyu ilahi yang melimpah dan rasional, tapi lebih memilih untuk menolaknya. Alkitab menetapkan standar kelakuan yang patut untuk menghadapi hari pengadilan. Alkitab bahkan memberikan bukti nyata bahwa wahyuNya adalah demi kebaikan manusia melalui mukjizat dan nubuatan yang tak terhitung jumlahnya. Mereka yang berakhir di neraka mengabaikan semua ini dan memilih untuk tidak bersama Tuhan. Lagipula, neraka dalam Alkitab bukanlah diciptakan untuk manusia. Neraka dibuat untuk Iblis dan para malaikatnya yang telah jatuh, atau setan-setan, karena ketidaktaatan mereka. Tidak heran roh kegelapan Islam menghabiskan banyak waktu disana.

Qur’an gagal membuktikan otoritas ke-ilahiannya dengan meyakinkan! Qur’an juga gagal memberikan standar kelakuan yang patut. Qur’an tidak ada contoh panutan dengan standar kelakuan yang patut. Muhammad adalah nabi tunggal dan kelakuannya merupakan antitesis dari segala yang baik. Dengan kata lain, aneh bagi sosok tuhan untuk mengancam manusia dengan neraka, sebelum ia sendiri menjelaskan manusia atau kelakuan macam apa
yang bisa menghindarinya.

Kedua, frekuensi pernyataan Qur’an ttg neraka dan siksaannya berada diluar proporsi. Setiap surah awal menghadirkan nuansa tsb. Kegelapan menguasai kebaikan di dalam Qur’an; neraka begitu menonjol dibanding surga. Kehadiran para penyiksa Muhammad lebih lazim daripada instruksi keagamaan. Siksaan adalah tema utama Qur’an.

Ketiga, neraka dalam Alkitab adalah keadaan terpisah dari Tuhan. Dalam Qur’an, Allah adalah kekuatan penggerak neraka, pencipta sekaligus manajernya. Allah ingin ditinggal sendiri dengan manusia sehingga ia dapat mengawasi penyiksaannya. Ini adalah perbedaan mendasar antara Yahweh dan Allah, antara Kristen-Yahudi dan Islam. Dalam Alkitab, anugrah yang diperoleh di surga adalah kebersamaan dengan Tuhan. Sebaliknya, dalam Qur’an anugrah di surga berupa kebersamaan dengan 72 perawan; persekutuan dengan Tuhan tidak disebutkan.

Keempat, deskripsi Alkitab ttg neraka jauh lebih lembut. Ada kertakan gigi dan kita diberitahu neraka itu panas, sedikit lebih panas dari biasanya. Sementara, kejelasan penggambaran detil siksaan neraka Allah sangat meresahkan, bahkan cenderung gila.

Kelima, dalam Kristen-Yahudi, neraka adalah pilihan setiap orang. Tak ada yang dikirim ke neraka jika ia tidak menghendakinya. Kita semua diberi pilihan: mencintai Tuhan dan membangun hubungan pribadi denganNya, atau menolak Dia dan menghabiskan keabadian terpisah dariNya. Dalam Islam, sebagian besar umat Islam dan non-Islam ditakdirkan masuk neraka. Dengan kata lain tuhan mereka memilih untuk mengutuk mereka.

Roh kegelapan Muhammad memiliki pikiran satu jalur. Penduduk Mekah menyiksa nabinya, menjulukinya penyihir yg pendusta, plagiator buruk, penyair yg kerasukan. Ia bertekad membalas mereka. Tapi sebelum melakukan pembalasan, Muhammad harus ‘membuktikan’ bahwa roh gelapnya adalah ‘Tuhan.’Qur’an 75:32 tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). Kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu (hai orang kafir) dan kecelakaanlah bagimu. Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)? Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya,”

————————-MUNDUR lagi ke Surat 67————————-

Untuk memahami motivasi Muhammad, sifat tuhannya, dan tujuan Islam, kita harus mempertimbangkan dengan cermat setiap wahyu awal. Setiap wahyu awal menyediakan sesuatu yang dapat kita gunakan untuk membebaskan Muslim dari Islam dan pada gilirannya menyelamatkan diri kita sendiri dari teror Islam. Dengan pemahaman ini, mari kita kaji tulisan Maududi mengenai surah ke-67 “Karakteristik wahyu-wahyu awal adalah semuanya merepresentasikan keseluruhan pengajaran Islam dan tujuan misi sang Nabi, sehingga keduanya dapat diasimilasikan dengan mudah. Selama masa-masa ini, sebagian besar penduduk Mekah mengutuk Nabi dan berdoa untuk kehancuran dia dan pengikutnya/orang beriman.”

Mari kita menguak ‘keseluruhan/inti ajaran Islam dan tujuan misi sang Nabi.’

Qur’an 67:1 “Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,” Mengapa ditulis dalam bentuk orang ketiga tunggal, kalau Tuhan sendiri yg sedang berbicara? Mengapa tuhan memberkati dirinya sendiri?

Menurut Qur’an, kematian mendahului kehidupan dan keduanya adalah ujian. Hal ini menunjukkan kelalaian terbesar Islam. Apa bentuk ujiannya tidak dijelaskan – Qur’an pada tahap ini belum juga menetapkan aturan-aturan yg dapat dipakai untuk menilai umat Islam. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya…” TAPIII apa perbuatan ‘yang lebih baik amalnya’??? Muhammad tidak dapat memberi pengikutnya alasan untuk hidup tapi justru untuk mati — yakni, dengan menguji ‘amal’ mereka dengan cara mengorbankan jiwa sebagai martir. Dan karena tidak mampu meyakinkan manusia agar memilih Islam berdasarkan kebaikan ajarannya, Muhammad mengancam mereka dengan kutukan neraka. Semakin ia tak mampu membuat tanda, mukjizat, nubuatan, semakin ia keukeuh menggertak dan memproklamirkan diri sebagai Utusan.Ishaq:116, “Kudengar Rasulullah berkata, ‘Aku tak pernah mengundang siapapun masuk Islam, orang-orang yg tidak memperlihatkan tanda-tanda keengganan, curiga dan ragu-ragu.”

Dgn kata lain: ‘Aku selalu mengundang siapapun masuk Islam, biar orang enggan, curiga ataupun ragu2’! Maksa nih ye??? Mengundang ala nabi: dgn pedang! ali5196
\:D/ :prayer: :rolleyes:

Sekarang kita tahu motivasi Islam adalah kekuasaaan, waktunya bertemu tuhannya, dan menyaksikan ajarannya Qur’an 67:3 “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah (Ar-Rahman) sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar syaitan, dan Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Dan orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, memperoleh azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka: “Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?” Mereka menjawab: “Benar ada”, sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan: “Allah tidak menurunkan sesuatupun; kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.”

Naaahhh, paling tidak roh-nya Muhammad sekarang punya nama: Ar-Rahman – sosok ilahi-nya kaum Hanif dari Yaman. Rukun pertama Islam hancur sudah. Bukannya ‘TIADA tuhan selain Allah’ tapi ADA tuhan selain Allah. Qur’an sendiri kok yang menyatakannya. Pondasi religious dan monoteisnya Islam remuk sudah! Dan berhala Ar-Rahman ini juga tak kurang delusional atau gilanya dibanding Tuhannya Muhammad.

Mengatakan bintang-bintang yg berubah jadi misil pelempar setan benar-benar seperti cerita Harry Potter! Ar-Rahman mengatakan secara pribadi telah menyediakan siksa neraka yang menyala-nyala. Dan seperti sebelumnya, ia tampaknya menikmati detail siksaan. Azab jahanam, panas yg luarbiasa, tempat yang sangat mengerikan, dan korban dilempar ke dalamnya, nafas mereka tercekik, mereka meratap (disini terj. Indonesia berbeda –anne) dalam neraka yang menggelegak, meledak marah. Sekumpulan korban-korban baru, tanpa perasaan dijuluki kumpulan (daging) ‘segar’ (terj. Ind. tidak ada). Penghinaan ditambah dengan interogasi oleh penjaga neraka.

Pengetahuan si Ar-Rahman tentang penciptaan dan astronomio memang agak anjlog, tapiii, kalau soal sakit-menyakiti ia memang ahlinya. Sangat tak
layak menggambarkan sosok Tuhan suka mengoceh penuh dengan nada jahat seperti itu. Qur’an menimbulkan tanda tanya bagi kita. Jika bukan Tuhan yang menginspirasi kata-kata jahat itu, lantas siapa?

Ini teori saya: sudah banyak bukti yang menunjukkan keterlibatan Khadijah dalam konsep Bisnis Nabi yang Menguntungkan dengan mengedepankan Muhammad. Setelah dua tahun masa kebisuan, turunlah sejumlah wahyu yang berbicara ttg uang/kekayaan/kenikmatan (Khadijah) serta
memberdayakan dan memperkaya si anak yatim miskin (Muhammad) (lihat bab 7, ttg hadist harta Chusroes dan Caesar, dll—anne).

Lalu tiba2 kita dibawa ke penderitaan pedih bertubi-tubi di neraka yang disajikan dengan begitu jelas dan hiruk pikuk di surah-surah awal ini. Gambaran nafas yang tercekik, diikuti ratapan, api yang menyala-nyala, menggelegak marah, dikombinasikan dengan tuhan yang membelengu mencekik, dan menuangkan air mendidih pada manusia, benar-benar di luar imajinasi normal. Dan setiap kali luka siksaan baru ditimpakan, si penyiksa memberitahu korbannya bahwa itu kesalahan mereka. Mereka layak bernasib demikian. Kalau saja mereka tidak berlaku begitu buruk, ini tidak akan terjadi.

Ini semua adalah modus operandi khas seorang ‘child abuser’(penyiksa anak2). Ada cukup banyak bukti dalam Hadis dan Qur’an yang jeritannya sampai pada kita saat ini: Muhammad telah dianiaya (baik secara fisik maupun lisan). Tak seorangpun menginginkannya. Ia ditinggalkan ayahnya dan ditolak ibunya. Orang-orang yang ada hubungan keluarga, paman Abu Lahab dan kakek Muttalib memandangnya sebagai gangguan. Perempuan Badui, ke tangan siapa pengasuhan Muhammad ditempatkan, memandangnya tidak berharga, karena perempuan ini merasa tidak dibayar sepantasnya. Kesemua adegan kehidupan memperlihatkan secara lengkap unsur2 ‘child abuse.’

Di gurun pasir Arab dengan teknologi seadanya, api unggun, air panas, ter, duri dan belenggu mungkin merupakan alat-alat penyiksaan. Saat ia masih kecil, ia rupanya sering diperingatkan bahwa ia layak mendapat hukuman. Dan, sebagaimana yang sering terjadi, roda berputar. Pelecehan di sepanjang hidupnya mengubah Muhammad, dari korban menjadi pelaku – dari yang teraniaya menjadi penganiaya.

Selanjutnya, mari kembali ke surah ke-67 –- salah satu surah yg pertama ‘diwahyukan’ pada Muhammad. Sebuah surah yang berisikan “keseluruhan pengajaran Islam dan tujuan misi sang Nabi.” Qur’an 67:10, “Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. Mereka mengakui dosa mereka. Maka kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” Muhammad sedang membayangkan para pengritiknya dan menuduh mereka bersalah atas keadaan mereka di dalam neraka, sama seperti para korban pelecehan anak yang menginternalisasi rasa bersalah mereka. Para pelaku kejahatan keji, untuk meredakan rasa bersalah mereka, mengatakan pada korbannya bahwa mereka dihukum karena mereka tidak mau mendengar. Semakin sering dan keras ini dilakukan, korban mulai melihat diri mereka sendiri sbg pihak yang bertanggung jawab atas siksaan abadi mereka. Perasaan bersalah ini akan tetap tersimpan lama sampai si korban dewasa.

Sering pihak penyiksa memutar balik realitas: si Penganiaya menganggap diri sendiri sebagai penyayang, bahkan penuh kasih karunia dan pemaaf, sebagai penangguhan atas siksaan yang ditimbulkannya. Dan strategi ini memungkinkan pelaku untuk mengontrol mangsanya. Otoritas dan kekuasaan memuaskan keinginan mereka; mereka menyembunyikan kekurangan mereka. Bahan terakhir dalam resep kegilaan ini adalah ancaman bencana di masa depan. Korban penganiayaan diberitahu bahwa ia sedang diawasi oleh pemangsa yang amat berkuasa. Kalau mereka menjerit, ia akan membalasnya, ia akan menimpakan hukuman yang pedih.

Qur’an 67:12 “Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak nampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. Dan rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah; sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” Ini arti sebenarnya: Jika kau diam karena takut, kau akan mendapat hadiah penangguhan hukuman. Tapi berhati-hatilah dengan apa yang kau pikirkan atau katakan, karena aku mengawasimu.

Ayat-ayat berikut ini berusaha membangun semacam otoritas sah untuk si Penyiksa yg penuh Murka, dengan menggambarkannya sebagai maha “Pemurah.” Qur’an 67:15 “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. [Berlakulah manis, jadi kau tidak mau dirantai, dibakar, atau harus makan sampah. Tapi kalau kau menjerit…] Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu bergoncang?, atau apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan [ancaman] -Ku? Dan sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.” Ini cerita lama: penyiksaan semata-mata adalah kesalahan korban karena ia mengabaikan peringatan jelas dari si penyiksa.

Kau mungkin berpikir aku melangkah terlalu jauh dengan hanya sebuah surah, tapi surah ini tidak berdiri sendiri. Rasa sakit dan hukuman bagi orang-orang yang diam-diam tidak setuju dengan otoritas si pelaku, merupakan tema tunggal paling dominan dalam Qur’an dengan seribu pengulangan. Dibakar hidup-hidup adalah bentuk siksaan yang paling umum. Kita bahkan diberitahu bahwa tubuh manusia, daging mereka, menjadi bahan bakar api neraka.

Kami juga memiliki petunjuk lainnya dalam ayat ini; Allah menyebut diri sebagai ‘Dia,’ lalu bertransisi kepada ‘Aku’ sewaktu berkata “Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan [ancaman] Ku?….. Maka alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.” Dan semua ini dalam bentuk tunggal, tidak seperti sebagian besar isi Qur’an yg biasanya jamak, ‘Kami.’ Hal ini disebabkan masalah pribadi Muhammad. Kita sedang menjenguk langsung ke dalam hati si pendiri Islam.

Memanggang manusia hidup-hidup bukan satu-satunya metode penghukuman yg diterapkan dalam Qur’an. Namun setiap variasi konsisiten dengan apa yang mungkin telah dialami sang calon nabi di sekitar perkemahan Badui. Perlakuan menjijikan lainnya termasuk dipaksa minum air panas, yang dibuat untuk makan duri, dipaksa menelan ter mendidih. Pakaian yang dibakar. Pria yang dibelenggu dengan tali dan menyalakan panggangan. Walau tak ada pernyataan si anak yatim kita ini dianiaya waktu kecil, semua bukti mengarah kesitu.

Ini menjelaskan mengapa Qur’an begitu penuh dengan ancaman rasa sakit dan hukuman. Ini menjelaskan adanya siksaan, adanya alasan bagi ayat-ayat tsb. dan mengapa sang nabi begitu marah pada om Abu Lahab. Dengan tidak mengadopsi Muhammad, ia bertanggung jawab atas penderitaan yang dialaminya. Hal ini menjelaskan motivasi Islam. Juga, Lahab mengontrol bisnis penipuan agama yang didambakan Muhammad. Ia memiliki apa yang sangat diinginkan Muhammad – kekuasaan dan kekayaan, hal-hal yang membebaskan Muhammad dari penderitaannya.

Karena Qur’an ditulis begitu buruk, bodoh, berkontradiksi dan terlalu berbelit-belit sbg wahyu ilahi, sudah tentu ada motivasi tersembunyi dibalik kata-kata yang menghantui seperti itu. Kalau bukan penganiayaan, lantas apa?

Hingga sejauh ini, Islam setransparan langit padang pasir yang tak berawan. Mari kita inventaris secara cepat.
1) Atas desakan Khadijah, Muhammad merebut otoritas tuhan tak bernama untuk mendukung klaimnya atas kekayaan yang mengalir dari penipuan agama keluarganya.
2) Masa kecil yang seperti di neraka menciptakan agama yang juga bernuansa neraka, yg secara mencurigakan tampaknya mirip dengan pengalaman pribadi sang nabi. Surga yang tercipta dalam imajinasinya juga digambarkan sebagai alam penuh nafsu, yang sangat diinginkan oleh seorang anak yang terabaikan – tempat dimana para wanita yang telah menolaknya dipakai untuk memuaskan kesenangannya. Karakter serta kata-kata tuhannya (Allah) mencerminkan keinginan sang nabi.

Sisa surah ke-67 hanyalah kubangan lumpur kebodohan dan keputusasaan. Qur’an 67:19 “Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.” “Do they not observe the birds above them, spreading their wings and folding them in? Nothing holds them aloft except Ar-Rahman: Truly Ar-Rahman watches over all things.” Penerbangan terjadi karena Ar-Rahman memegang burung tinggi di awan. Jelas Muhammad tidak pernah ikut pelajaran fisika. Prinsip Bernoulli, hukum yg menjelaskan aerodinamis, terlalu kompleks. Dan jangan salah, ayat ini diberikan sebagai bukti Ar-Rahman itu eksis, bukan cuma metafora.

Setelah otoritas keilahian si Tuhan terpancang kuat, kita kembali ke “The Kingdom” surah Qur’an 67:20, “Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada Allah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu.””Who is he that will send an army to assist you besides Ar-Rahman? The unbelievers are lost in delusion.” Perhatikan: versi bhs Indonesia tidak mencakupkan Ar-Rahman sbg nama tapi sbg kata sifat! Motivasi lain, ajaran lain sedang terungkap. Ar-Rahman adalah sosok tuhan militer disertai pasukan. Jihad akan segera menjadi perlengkapan Islam paling lazim, alat yang akan dipakai sang utusan untuk menganiaya musuh-musuhnya.

Sebagaimana yg terungkap sebelumnya, Ar-Rahman adalah dewa batu pagan yg juga punya rumah sendiri, seperti Allah. Kedua tuhan ini bersaing untuk mendapatkan perhatian. Dan jelas bahwa Allah diremehkan di masa-masa awal. Bukan hanya tidak disebut hingga sejauh ini, tapi untuk sementara waktu ia tak akan menemukan jalan masuknya ke Islam. Ini bukanlah perlakuan manis bagi sang Tuan Rumah (Tuhannya Ka’aba – anne). Jadi kenapa kemudian memilih nama ini?

Para ulama Islam tidak mempunyai penjelasan yang layak mengapa Muhammad menamai tuhannya Ar-Rahman. Penjelasan terbaik mereka hanyalah bahwa tuhan mereka memiliki banyak nama dan Ar-Rahman adalah salah satu atributnya. Tapi ini omong kosong. Ar-Rahman adalah salah satu dewa pagan, sosok yang jauh lebih dikenal – setidaknya di luar kampung kecil Mekah – dibanding Allah. Ia adalah berhala – bukan atribut. Lagipula, semua hal berbau keagamaan di wahyu-wahyu awal merupakan pencerminan agama kaum Hanif – para pengikut Ar-Rahman.

Ada hal yang patut diperhatikan berkaitan dengan pemilihan nama Ar-Rahman oleh sang nabi. Ketika Muhammad akhirnya bermigrasi dari kolam doktrin kaum Hanif yang dangkal ke penampungan air (ajaran) kaum Yahudi yang tak terbayangkan dalamnya, ia terpaksa mengklaim bahwa tuhannya sama dengan Tuhan mereka — Tuhan Alkitab, Yahweh. Jika tidak, mengapa semua karakter dan cerita dlm Qur’an dibuat mirip? TApi itulah masalahnya.

Muhammad tidak tahu bahwa Tuhan Alkitab memiliki nama – Yahweh. Ia tidak tahu karena kaum Yahudi memang tidak pernah mengucapkan namaNya, karena ini dianggap penghujatan. Dan karena ia buta huruf, Muhammad tak dapat membaca satupun dari 6.868 kali penyebutan nama YHWH, atau Yahweh yang tertulis dalam Kitab Suci mereka. Sama halnya dengan terjemahan Alkitab kita sekarang, bila ada kata Ibrani “Yahweh,” nama pribadi Tuhan, kita membaca dan mengucap “LORD” (TUHAN, dalam huruf besar – anne). Tapi Joe bukanlah Jim. Musa bukanlah Muhammad. Dan Yahweh bukanlah Ar-Rahman maupun Allah. :prayer:

Para ulama Islam mencoba menyembunyikan nama dewa/tuhannya (Ar-Rahman) dalam Qur’an. Mengapa? Di berbagai terjemahan Qur’an (termasuk dlm bahasa Indonesia), kebanyakan menggantikan nama ‘Ar-Rahman’ dengan atribut/kata sifat seperti ‘Merciful’ (Maha Penyayang), gelar ‘Lord’ (Tuhan), panggilan umum ‘God’ (Tuhan), atau dengan nama ‘Allah.’

Lebih parah lagi adalah seruan yang ditambahkan belakangan pada setiap surah. Dalam hasratnya membuat Ar-Rahman menjadi Allah dan memberikan bentuk ke-ilahian, maka ditambahkan baris “Dengan nama Allah yang Maha Pengasih (Ar-Rahim) dan Maha Penyayang (Ar-Rahman). Baris ini diulang sebanyak 113 kali dalam Qur’an.

Begitu nekadnya para cendekiawan Islam menggambarkan sosok roh mereka yang penuh kebencian, suka menghukum dan suka perang, dengan gelar yang lebih menyenangkan. Bahkan salah seorang diantaranya menulis sebuah buku yang menyatakan bahwa “Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang adalah atribut yang paling banyak diulang di dalam Qur’an.” Dusta luarbiasa. Pernyataan tersebut bukan bagian dari wahyu Qur’an tapi ditambahkan belakangan.

[…]

So, mengapa dari semula Muhammad tidak memberi nama pada roh kegelapan-nya? Mengapa ia memulai dengan menggunakan gelar ‘Tuhan’ kaum Hanif? Mengapa di kemudian hari akhirnya ia menamai roh kegelapan itu dengan Ar-Rahman, saingannya Allah, si berhala Ka’abah? Semua pertanyaan bagus ini, tak dapat dijawab kaum bijak Islam dengan baik. Ku ajukan alasan yang mungkin agak spekulatif. Khadijah meng-Islamkan Muhammad dengan mengatakan padanya bahwa sepupunya yg sudah lanjut usia (Waraqah) menyatakan bahwa ia nabi dari garis Musa. Muhammad mendengar bahwa kaum Yahudi memanggil Tuhan mereka dengan ‘Lord’ (Tuhan). Tapi penduduk Mekah tidak puas dengan hanya gelar. Semua tuhan/dewa punya nama. Bahkan berhala-berhala batu-pun punya nama – mengapa tuhannya Muhammad tidak punya? Kalau ia begitu penting, ia pasti punya nama.

Hal ini menempatkan nabi dalam posisi sulit. Jika ia memanggil tuhannya dengan salah satu nama berhala yang sudah populer – Hubal, Allah, Al-Lat (bentuk feminin Al-Lah), Manat, atau Al-Uzza – nanti pengikut akan mengharapkan mukjizat2 dari dewa dewi ini. Karena kalau mereka ini bisa memberikan wahyu/kutipan-kutipan ayat Qur’an yang menakjubkan, bukankah mereka juga dapat membuat mukjizat? Apalagi berhala-berhala ini begitu ‘dekat’ secara fisik dengan si nabi, jadi sulit untuk mencari alasan kalau mereka tidak dapat menghasilkan mukjizat.

Dengan dekatnya kuil penduduk Mekah (Ka’abah) yang berpotensi ‘bahaya’, Muhammad melakukan apa yang sudah menjadi Modus Operandi-nya. Ia mencuri materi ajaran orang lain (ternyata ini cikal bakal umatnya suka menjiplak — anne). Kaum Hanif punya agama, dan mereka punya tuhan – sosok yang ‘tinggal’ dalam jarak yg aman. Muhammad menjiplak dan menyesuaikan materi ajaran dan tuhan/dewa mereka. Apalagi nama ‘Ar-Rahman’ nampak sempurna. Nama itu berarti ‘penyayang.’ Ini menjadi cara untuk menyamarkan sosok keji dalam Qur’an. Sama seperti menamakan kediktatoran komunis di China dengan nama ‘republik.’

Setiap surah awal Qur’an merefleksikan kepercayaan dan agama kaum Hanif, bukan Yahudi. Di kemudian hari, setelah sang nabi kehabisan bahan dari kepercayaan kaum Hanif dan perlu sesuatu yang baru lagi, turunlah ‘wahyu-wahyu ttg cerita-cerita Alkitab yang jungkir balik yang mencakup topik penciptaan hingga tokoh-tokoh Alkitab.

Jangan lupa pertimbangkan hal ini: saat Muhammad bermigrasi ke Medinah, ia memanfaatkan keuntungan jarak dengan tuhannya di Mekah. Di surah ke-2,
surah pertama yg diwahyukan setelah melarikan diri dari Mekah, baru dehhh Ar-Rahman menjadi Allah. Mengapa? Karena Allah berjarak jauh di Mekah, jauh di selatan, jadi sulit buat pengikut untuk menuntut macam2 dari Allah! Tuhannya berganti nama, sehingga Muhammad dapat mengklaim sesuatu yg selama ini ia dambakan: the Ka’abah Inc. Nama Ar-Rahman tak pernah terdengar lagi. Memudar dalam berbagai atribut tak berbentuk (99 asmaul h – anne).

Kembali ke Qur’an, kita temukan Muhammad terlibat dalam sebuah argumen -–salah satu ayat yang sangat cocok dengan teori abused (penganiayaan).Qur’an 67:21”Atau siapakah dia yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri? Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapatkan petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?” Kualitas penulisan ayat ini begitu menyedihkan (menggambarkan masa kecil yg pedih, lapar, tp tak bisa lepas dr penganiayanya -– anne)sehingga hampir membuat kita merasa kasihan pada Muhammad – hampir.

Qur’an 67:25 “Dan mereka berkata: ‘Kapankah datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar?” Katakanlah: “Sesungguhnya ilmu (tentang hari kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan’” Penduduk Mekah sedang meminta sedikit bukti, tapi si nabi tak dapat memberi sedikitpun. Ia cuma bisa bilang, “Tunggu saja. Suatu hari, saat kau tak menduganya, tuhanku akan membalasmu.” “Ketika mereka melihat azab (pada hari kiamat) sudah dekat, muka orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikatakan (kepada mereka) inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya. Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama dengan aku atau memberi rahmat kepada kami, (maka kami akan masuk surga), tetapi siapakah yang dapat melindungi orang-orang yang kafir dari siksa yang pedih?” Katakanlah: “Dialah Allah Yang Maha Penyayang kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nya-lah kami bertawakkal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah yang berada dalam kesesatan yang nyata”. ”But when they see the threat, the sorry faces of those who disbelieve will be distraught, and it will be said to them: ‘This is what you asked for.’ Say (Muhammad): ‘See? Whether God destroys me, and those with me, or not, no one can deliver the unbelievers from their grievous doom.’ Say: ‘He is Ar-Rahman; in Him we believed, and in Him we have placed our trust: Soon will you know which one of us is in manifest error.’”
Anda lihat sendiri bukan? Terjemahan bhs Indonesianya diatas memakai kata sifat/atribut, sementara bhs Inggrisnya menggunakan ‘Ar Rahman’! Dan ya, memang kita ‘kelak akan mengetahuinya.’ Dua milyar jiwa yg berharga sudah ‘mengetahui’nya dan akibatnya nyawa mereka hilang karena kebohongan mengerikan bernama Islam.

Dengan kata-kata sombong, Muhammad mencoba membuktikan bahwa Ar-Rahman nyata. Qur’an 67:30 “Katakanlah: ‘Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?” Penduduk Mekah tergantung pada sumur Zamzam yang airnya sedikit dan rasanya agak tidak enak. Muhammad berkata pada klan-nya sumber air yang mengalir lemah itu adalah mukjizat dari Ar-Rahman — sebuah tanda nyata kalau ia tuhan. Ia mengancam: “Berperkaralah denganku dan tuhanku akan membiarkanmu mati kehausan.” Menurut Muhammad, sumber air yang mengalir lemah itu adalah mukjizat. Jika mengering, itu juga keajaiban. Lucunya, justru yang ajaib itu kok ya banyak orang percaya sama dia. Kenapa bukan itu yang dia klaim sebagai suatu tanda, ya?

Dengan demikian, “keseluruhan pengajaran Islam dan tujuan misi sang Nabi” adalah: sang nabi sangat mendambakan kekuasaan dan akan mengancam siapapun yang menghalanginya. Tuhannya bernama Ar-Rahman, sosok penganiaya kejam dan sadis. Bintang-bintang menjadi misil untuk mengusir setan-setan. Para kerabat Muhammad mengatakan ia penipu. Karenanya mereka akan dibakar api neraka yang meraung marah. Terus menerus mereka akan diinterogasi. Tuhan harus ditakuti bukan dicintai, kalau tidak ia akan menelan ciptaannya, menghujani mereka dengan lemparan batu-batu. Hukumannya se-ngeri murkanya. Ar-Rahman memiliki pasukan yang selalu siap. Ia mengancam untuk mengepung orang-orang, menahan makanan dan air bagi orang-orang yang pura-pura patuh. Terlebih lagi, azab pedih tuhan Islam tidak dapat dihindari.

Surah ‘Hari Kiamat/Al-Ĥāqqah’ adalah salah satu wahyu paling awal. Surah ke-69 diturunkan di saat mulai timbul perlawanan thp Muhammad, tapi belum merebak. Maududi menerangkan sebuah tradisi dari Musnad Ahmad yang menjelaskan, “Sebelum memeluk Islam, aku keluar dari rumahku dengan gagasan hendak mengganggu sang Nabi, tapi dia telah masuk mesjid Ka’abah duluan. Ketika aku tiba kutemukan ia sedang mengucapkan surah Al-Haaqqah [69]. Aku berdiri di belakangnya, mendengarkan. Aku kagum akan keindahan dan pesona sastranya. Tiba-tiba muncul ide di kepalaku bahwa ia pasti seorang penyair seperti yang dituduhkan Quraysh. Di saat itu ia mengucap kata-kata: ‘Ini adalah Firman dari Utusanyang mulia [LOH! Lagi2 sebuah pengakuan: Muhammad baru saja bilang bahwa Qur’an adalah kata-kata seorang utusan – bukan tuhan.] ‘Ini bukanlah kata-kata seorang penyair,’ Aku berkata pada diriku sendiri: ‘Jika demikian ia pasti seorang peramal, bukan penyair.’ Kemudian dibacakan kata-kata: ‘Tak ada diantara kata-kata ini berasal dari seorang peramal.’”

Nah, sekarang silahkan menikmati keindahan dan pesona sastra surah ke-69 ‘Hari Kiamat’ : “Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? Dan tahukah kamu apakah hari kiamat itu? Kaum Tsamud dan ‘Aad telah mendustakan hari kiamat. Adapun kaum Tsamud, maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. Adapun kaum ‘Aad maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; maka kamu lihat kaum ‘Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka.” Kita kembali ke tuhan yang sedang menghajar ciptaannya. Kali ini kaum Aad dan Tsamud yang jadi korbannya. Salah satu suku ini, kaum Aad, hanya ada di mitologi, sementara kaum Tsamud diduga berasal dari sebuah desa cukup kecil yang kemungkinan berada di sekitar utara kota Mekah — desa yang sudah lama terkubur pasir. Namun terkubur tak berarti dilupakan. Hal ini menjadi bahan bagi Muhammad untuk penggambaran tuhannya yg mahakuasa: “Tuhan membenci manusia, terutama saat mereka mengejek nabinya. “Kaum Aad dan Thamud mengejek dan menolak, jadi Boss Besar menghancurkan mereka. Tak ada yang lebih indah dan mempesona dari ini.

Sebagai pemegang kendali, Muhammad menggunakan trik serupa, membelokkan kisah-kisah Alkitab agar sesuai dengan posisinya Qur’an 69:9, “Dan telah datang Fir’aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkir balikkan [Dia mau bilang Sodom dan Gomora, tapi belum tahu namanya] karena kesalahan yang besar. Maka (masing-masing) mereka mendurhakai rasul Tuhan mereka [Lagi-lagi ia belum tahu nama nabi Lot. Tim Islam ternyata bukan plagiator jitu, mungkin karena tidak sempat cross-check dengan bukunya kaum Yahudi. Usaha-usaha awal tersentak-sentak dan tak lengkap], lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras [Ini juga samar-samar karena Muhammad belum tahu ttg kesepuluh tulah/bencana penyakit yg menimpa rakyat Mesir dijaman Yosef]. Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu, ke dalam bahtera [sampai disini ia tidak tahu nama nabi Nuh], agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agardiperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.” Ini juga kocak! Kok telinga dan bukan mata yang dipakai untuk mengingat sebuah peristiwa? Lagipula untuk apa susah-susah mengingat? Khan ini semua sudah dicatat dalam Taurat/Alkitab selama 2000 tahun! Tinggal pinjam buku agama sebelah, beress… pakai susah2 mengingat pakai telinga?? \:D/

Satu-satunya orang di Mekah yang kelihatannya agak tahu ttg Alkitab, Waraqah, sudah lama meninggal. Jadi, yang diketahui Khadijah dan Muhammad hanyalah potongan-potongan remah cerita paling populer yang mereka kumpulkan dari para Hanif. Namun, dalam pikiran Muhammad yang penuh plintiran, entah bagaimana ia melihat eksodus Yahudi dari Mesir se-analog dengan penderitaannya di Mekah. Intinya, ia menganggap “Kaum mereka berlaku buruk. Umatku berlaku buruk. Kaum mereka mengabaikan nabi mereka. Umatku mengabaikan aku. Tuhan mereka memusnahkan orang-orang yang tak percaya, sama seperti tuhanku yang akan memusnahkan orang-orang Mekah.”

Mari kembali ke ‘Hari Kiamat’ untuk menemukan keindahan dan pesona sastra yang dijanjikan. Setelah memberitahu kita bahwa gunung-gunung akan hancur menjadi bubuk dan langit akan terbelah dan jatuh berkeping, sementara delapan malaikat mengangkat tahta Tuhan tinggi-tinggi, kita juga diberitahu bahwa orang yang menerima kitab dari sebelah kanan akan membaca buku besar tsb dan punya kesempatan makan dan minum, tapi tidak bagi yang menerima buku dari sebelah kiri. Mereka (seperti dalam ‘penyiksa Mekah-nya Muhammad’) akan berkata, “Wahai kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala sesuatu. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku [Karena Muhammad akan mencuri keduanya].(Allah berfirman): “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya. Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka tiada seorang temanpun baginya pada hari ini di sini. Dan tiada (pula) makanan sedikitpun (baginya) kecuali dari darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya kecuali orang-orang yang berdosa.” Roh kegelapan Islam, walau sudah punya nama Ar-Rahman, masih saja bernuansa Iblis daripada Tuhan. Sosok macam apa yang mampu mengatakan, “Tangkap ia, belenggu, bakar, belit dgn rantai, makan darah dan nanah ?” Ya..ya… kata-kata jahat kasar tidak lain hanya bisa datang dari[i] Ar-Rahman, si roh Maha Penyayang dan Ar-Rahim, yang Maha Pengasih. Tidak mungkin dari Muhammad, orang yang sakit jiwa karena dianiaya semasa kecilnya.

Masih banyak lagi pesona dan keindahan yang dikemas dalam satu surah: Q 69:38, “Maka Aku bersumpah dengan apa yang kamu lihat. Dan dengan apa yang tidak kamu lihat. Sesungguhnya Al Quran itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia, dan Al Quran itu bukanlah perkataan seorang penyair. Sedikit sekali kamu beriman kepadanya. Dan bukan pula perkataan tukang tenung.” Pengakuan lagi. Kata-kata ini, pesan ini berasal dari manusia, bukan Tuhan (kata-kata dalam kurung terj. Ind. ditambahkan kemudian – anne). Ayat ‘makan darah nanah’ ini tidak beres tapi Muhammad bahkan bersumpah atasnya. Ini memang gaya seorang megalomania
sejati, sang nabi yang tak menemukan seorangpun yg bersedia memujinya, lantas memuji diri, “Saya seorang rasul yang terkenal dan dihormati, bukan seorang penyair atau peramal.” :---)

Setiap penipuan besar meninggalkan petunjuk. Itu sudah ciri khas mereka. Tapi Muhammad begitu yakin dengan kemampuan menipu-nya, ia tidak lagi peduli dengan jejak yang ia tinggalkan karena ia pikir ia tidak mungkin akan tertangkap basah. Bahkan kita bisa mendengar tawa terbahak-bahak Muhammad saat ia menyangkal dirinya sbg seorang peramal.

Para penduduk Mekah yang mengenal penipu macam ini (apalagi mereka saudara dekat Muhammad) berkata bahwa mereka menginginkan bukti yang sudah tentu tak bisa diberikan Muhamad. Jadi dia bilang pada mereka: Q69:43 “Ia adalah wahyu yang diturunkan dari Tuhan semesta alam. Seandainya dia (Muhammad) mengadakan sebagian perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian benar-benarKami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu. Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar suatu pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. Dan sesungguhnya Kami benar-benar mengetahui bahwa di antara kamu ada orang yang mendustakan(nya). Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar menjadi penyesalan bagi orang-orang kafir (di akhirat). Dan sesungguhnya Al Quran itu benar-benar kebenaran yang diyakini.” Sungguh indahnya surah ini sampai dibumbui dengan pemotongan urat tali jantung (aorta). Jelas sebuah mukjizat mengapa Tuhan saat itu belum juga memotong aortanya, mengingat Muhammad begitu sering membual atas nama Tuhan. Ataukah surah ini sebuah bukti psikologis bahwa Muhammad di masa mudanya diikat dan dipaksa makan sampah darah dan nanah?

Berlanjut, materi yg terkandung di surah ke-70 membuktikan bahwa surah ini diturunkan dalam kondisi sangat mirip dengan surah ke-69 (Islam baru saja diciptakan, tuhannya sdh main ancam- –anne). Qur’an 70:1
“Seseorang telah meminta kedatangan azab yang akan menimpa orang-orang kafir, yang tidak seorangpun dapat menolaknya, (yang datang) dari Allah, Yang mempunyai tempat-tempat naik. Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Tuhan dalam sehari yang kadarnya limapuluh ribu tahun.”Tuhan dari Rumah (Ka’abah) bobrok yang dibangun dari tumpukan batu, sekarang berkata bahwa ia memiliki kapling yang memiliki ‘tempat-
tempat naik’/anak tangga yang begitu tinggi sampai memerlukan waktu 50.000 ribu tahun untuk mendakinya. Sungguh mengesankan.

Pertanyaannya, jika pada saat turunnya wahyu tsb, orang kafir (yang berarti semua orang di bumi selain Khadijah, Muhammad dan Ali) tidak dapat ‘menolak’ azab dari Tuhan untuk apa lagi perlu mengancam mereka? Untuk apa kalau begitu mereka diciptakan kalau cuma untuk jadi sasaran azab? Bukankah ini definisi sosok ‘sadis’ yang menyiksa orang yang tak dapat melarikan diri? Dengan definisi tsb, bukankah berarti tuhannya Islam itu sosok yang Maha Sadis?

Ini adalah surah ke-18 yang telah kita ulas secara keseluruhan. Masing-masing surah langsung buru-buru mencemplungkan diri ke kedalaman neraka. Tapi di ayat berikut, roh kegelapan Islam memerlukan bantuan penterjemah. Sejumlah kata sudah ditambahkan penterjemah agar kita memahami firman ‘Tuhan.’ Qur’an 70:5 “Maka bersabarlah kamu dengan sabar yang baik. Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh (mustahil). Sedangkan Kami memandangnya dekat (mungkin terjadi). Pada hari ketika langit menjadi seperti luluhan perak, dan gunung-gunung menjadi seperti bulu (yang berterbangan), dan tidak ada seorang teman akrabpun menanyakan temannya, sedang mereka saling memandang. Orang kafir ingin kalau sekiranya dia dapat menebus (dirinya) dari azab hari itu dengan anak-anaknya.” Muhammad pasti berpikir bahwa semua orang sama bejadnya dengan dia (kafir mengorbankan anaknya. Apa Muhammad mengorbankan semua anak lelakinya pd roh kegelapan ya? — anne). Dan seperti umumnya seorang korban siksaan, ia tak mampu memutus siklus penyiksaan. Sang korban penganiayaan menjadi sang penganiaya.

Qur’an 70:12 “dan isterinya dan saudaranya, dan kaum familinya yang melindunginya (di dunia). Dan orang-orang di atas bumi seluruhnya kemudian (mengharapkan) tebusan itu dapat menyelamatkannya. Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergolak, yang mengelupas kulit kepala, yang memanggil orang yang membelakang dan yang berpaling (dari agama) serta mengumpulkan (harta benda) lalu menyimpannya.” “He would sacrifice his wife and his brother, and his kin who sheltered him, and all that is on earth to deliver himself from the Doom. By no means! For them it is the Fire of Hell! Plucking apart his body right to the skull! (Yusuf Ali) Taking away the head skin (Muhsin Khan). Eager to roast (Pickthall); dragged by the head (Shakir), hell shall claim all who flee.” Azab Islam tak dapat dihindari atau ditolak. Ini adalah hukuman langsung dari tuhan, sosok ilahi jahat yang secara pribadi menciptakan suatu tempat dimana tubuh manusia dipisah dari kepalanya dan dikelupas kulit kepalanya. Dia bahkan digambarkan bersemangat memanggang ciptaannya. Sulit membayangkan seseorang yang cukup gila memikirkan hal semacam itu, apalagi menyebutnya kitabnya ini s u c i.

Setelah Muhammad dan gendruwo-nya menakut2i manusia, sekarang waktunya membahas segala hal baik yg biasanya ada dalam sebuah agama. Ini merupakan usaha pertama sang nabi mendirikan Islam, Qur’an 70:19 “Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” Sebagaimana biasa, dimulai dengan kutukan dulu, kemudian dilanjutkan,Qur’an 70:22 “kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat,” [Terjemahan lain ada yang bilang ‘kecuali orang-orang yang mengikut (kitab) –> dalam kurung ditambahkan kemudian. Ada juga yg bilang ‘kecuali orang-orang yang menyembah.’ Kupikir kalau dikatakan ‘kecuali orang-orang yang mengikut dan menyembah Muhammad’ akan terlalu akurat dan memberatkan] yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya [terjemahan lain ‘tetap patuh’ pada siapa?], dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu [klaim Muhammad atas Ka’abah], bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa [Muhammad lagi], dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan, dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya. Karena sesungguhnya azab Tuhan mereka tidak dapat orang merasa aman (dari kedatangannya). Dan orang-orang yang memelihara kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak-budak yang mereka miliki [Sex dengan budak diperbolehkan tuhan Islam. Karena perbudakan adalah ketaatan yg dipaksakan, dan perkosaan adalah seks yg dipaksakan, Qur’an memaafkan perkosaan], maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan orang-orang yang memberikan kesaksiannya. Dan orang-orang yang memelihara shalatnya [LUCUNYA, bagaimana ‘memelihara shalat,’ kalau Qur’an belum menjelaskannya?]. Mereka itu (kekal) di surga lagi dimuliakan. Terjun awal Muhammad dalam doktrim Islam tidak begitu memuaskan. Jalan lurus ke surga memberi tawaran terlalu berlebihan. Tapi ada kabar baik jika kau Muslim. Semua yang tercantum di daftar berkaitan dengan ‘barang siapa,’ yang berarti jika melakukan salah satu yang tercantum kau akan masuk surga. So, setiap pengikut diharapkan: shalat, terlibat seks dengan budak, mengetahui bagian harta milikmu, atau mengemis uang.

——————————————
Tak heran ada begitu banyak umat Islam. Bagaimana kau bisa melewatkan agama yg seperti ini? Tapi bila mengenal Muhammad lebih dalam, kuyakin tak semua manis dan menyenangkan. Sebisa mungkin ia mencerca segala hal. Qur’an 70:36 “Mengapakah orang-orang kafir itu bersegera datang ke arahmu, dari kanan dan dari kiri dengan berkelompok-kelompok. Adakah setiap orang dari orang-orang kafir itu ingin masuk ke dalam surga yang penuh kenikmatan?” “What is the matter with the disbelievers that they rush madly to listen to you (Muhammad in order to belie you and mock you and Allah’s Book)? Doesn’t every man long to enter the Garden of Delight? Maaf tak berminat. Aku tak berminat pada pesta pora seks dan minuman, para perawan, buah-buahan yg bergelantungan ataupun berbagai hal lain yang dijanjikan roh-nya Muhammad untuk teman-temannya. Namun, bagi mereka yang berminat, aku cuma bilang bahwa makhluk ini tak bisa dipercaya memberi segala hal itu. Qur’an 70:39, “sekali-kali tidak! Sesungguhnya Kami ciptakan mereka dari apa yang mereka ketahui [Kupikir Tuhan sebenarnya mau bilang, ‘Kami gak tahu idiot! Sebab ia membuat kita dari idiot juga’]. Maka aku bersumpah dengan Tuhan Yang memiliki timur dan barat, sesungguhnya Kami benar-benar Maha Kuasa. Untuk mengganti (mereka) dengan kaum yang lebih baik dari mereka [Roh batu Ka’aba – tuhannya orang Islam bilang manusia bisa ditukar begitu saja/tak berharga. Sungguh keterlaluan bagi sosok tuhan yang ‘Maha Pengasih’ lagi ‘Maha Penyayang’], dan Kami sekali-kali tidak dapat dikalahkan.” “By no means! For We have created them out of the base matter they know ! I am called to witness (swear by) the Lord of the (365) points of sunrise and sunset in the east and west that We can certainly replace them, substituting better men than they. And We are not to be defeated in Our Plan. And we are not to be outrun.”

Qur’an 70:42 “Maka biarkanlah mereka tenggelam (dalam kebatilan) dan bermain-main sampai mereka menjumpai hari yang diancamkan kepada mereka, (yaitu) pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala (sewaktu di dunia), dalam keadaan mereka menekurkan pandangannya (serta) diliputi kehinaan. Itulah hari yang dahulunya diancamkan kepada mereka.” “So let them chat vainly and play about, with their idle disputes until they encounter that Day of Doom which they have been threatened! They will rise from their sepulchers in sudden haste as if they were rushing to a goal, their eyes lowered in dejection and disgrace, aghast, abasement stupefying them – ignominy shall overtake them! Such is the Day that they are threatened with!”. Ar-Rahman yang Maha Penyayang kelihatannya sosok tuhan yang ramah bukan? Jika ia begini baiknya, rasanya aku tak sabar untuk segera berjumpa sosok tuhan bernama Allah.

Ψ † с ბ

Aku ingin berbagi sebuah puisi Hanif. Akan kau lihat darimana sang nabi memperoleh materi awal, gaya, dan pasokan tokoh-tokoh Alkitab. Zayd ibn Amr adalah Hanif Mekah yang paling terkenal – seorang penyair agama yg dianggap suci. Ia punya hubungan langsung dengan Muhammad. Semua wawasan pandangan Zayd dimasukkan dalam surah-surah awal Qur’an, kata per kata. Muhammad mencuri kisah-kisah, konsep dan gayanya – termasuk kata yang biasa dipakai di Qur’an: “Katakanlah.” Tak perlu dikatakan lagi, kaum Hanif menolak Islam dan menolak ide Muhammad seorang nabi.

Buku Ishaq ‘Life of Muhammad’ terjemahan Guillaume, menyertakan beberapa contoh bagus puisi Zayd. Yang perlu dilakukan Muhammad hanyalah menuliskan tambahan kenabian dirinya dan sedosis besar siksaan neraka ke dalam puisi Zayd, jadilah sebuah agama baru buatan Muhammad. Kuberi huruf ‘Q’ mewakili Qur’an setelah baris-baris pusi Zayd (bukan Allah) yang menginspirasi kitab suci Islam.

Puisi pertamanya didahului hadist ini: Ishaq:100, “Oh, Tuhan, jika saja aku tahu bagaimana Engkau ingin disembah, aku akan menyembahMu, tapi aku tak tahu.’ Lantas ia bersujud [dengan sujud gaya Islam] dengan kedua telapak tangannya seraya menghadap Ka’aba.”

Aku menyembah satu Tuhan. Aku meninggalkan Al-Lat dan Al-Uzza Q
Aku tidak akan menyembah Hubal, meskipun ia junjungan kita Q
Ilah telah memusnahkan banyak manusia yang berbuat kejahatan Q
Aku melayani Tuhanku Ar-Rahman agar Tuhan yang pemurah mengampuni dosaku Q
Tetaplah takut pada Ilah, Tuhanmu, dan kau akan melihat Surga Q
Sementara bagi kaum kafir, neraka yang menyala-nyala Q
Memalukan semasa hidup, ketika tiada dada mereka mengkerut dalam derita Q

Puisi kedua sama memohon, mengungkap darimana sumber contekan Qur’an berasal. Juga mengungkapkan Zayd seorang ahli bahasa dan penyair yang lebih baik daripada Allah. Hanya Tuhan yang tahu mengapa Ishaq mencantumkan bukti yang memberatkan ini dalam Siranya.

Untuk Raja surgawi – tiada Ilah kecuali Dia Q
Berhati-hatilah, Wahai manusia, akan apa yang menyusul kematian Q
Kau tak dapat menyembunyikan apapun dari Ilah Q
Jangan menyerupakan apapun dengan Ilah Q
Karena jalan yang lurus telah jelas Q
Aku memohon belas kasihan, orang lain percaya pada jin Q
Aku cukupkan denganmu, Ya Ilah, Tuhanku Q
Aku takkan menyembah yang lain selain Engkau Q
KemurahanMu mengirim malaikat pada Musa sebagai pembawa berita Q
Engkau katakan padanya, Pergilah, kau dan Harun Q
Dan perintahkan Firaun sang tiran untuk berbalik pada Ilah Q
Dan katakanlah padanya, ‘Adakah kau menghamparkan bumi tanpa sokongan’ Q
Katakanlah padanya, ‘Adakah kau menetapkan bulan di tengah-tengahnya, Q
Sebagai cahaya untuk memandu saat malam menutupinya’ Q
Katakanlah padanya, ‘Siapakah yang mengutus matahari di siang hari? Q
Katakanlah padanya, ‘Siapakah yang menanam benih di debu Q
Sehingga tanaman tumbuh dan menjadi besar, Q
sebagai Tanda-tanda untuk dipahami. Q
Engkau dalam kebaikanMu mengutus Yunus Q
Yang menghabiskan malam di dalam perut ikan Q
Namun kumuliakan NamaMu, senantiasa kuulangi: Q
Ya Tuhan, ampunilah dosaku. Q
Ya Tuhan segala ciptaan, limpahkan anugrah dan kasihMu padaku Q

Sebuah hadist yang menyertai puisi ini menyatakan, “Zayd bertekad meninggalkan Mekah, berkelana untuk mencari agama Hanif, agama Abraham.”Dilanjutkan dua puisi. Yang berisikan konsep-konsep yang juga menjadi materi Qur’an: konsep “kepatuhan/berserah,” menjadi nama agama tersebut;“ketakutan” adalah implemetasi kepatuhan; “penghinaan” jadi motivasi Islam; dan “pemutusan ikatan” adalah akibatnya. Selanjutnya, setelah mengarang isi Qur’an, Zayd, si kafir yang tak percaya ini merinci tata cara dan ritual yang akan diikuti Muhammad. Ishaq:102 “Zayd di dalam mesjid menghadap Ka’aba dan berkata, ‘Aku seorang penyembah yang tulus dalam kebenaran. Inilah aku mengabdi padaMu. Aku berlindung dari apa yang Abraham berlindung saat ia berdiri dan menghadap kiblat. Aku seorang hamba yang rendah. Kudekatkan wajahku dalam debu. Apapun yang diperintahkan, harus kulakukan.”

Istilah ‘Muslim bermakna ‘orang yang patuh/berserah.’ Setelah menamai agama tsb Islam/Kepatuhan, Zayd, orang yang menolak klaim Muhammad, berkata bahwa ia seorang Muslim. Ishaq:102 “Aku berserah diri.”

Sebuah hadist dari Ibn Sa’d menyatakan Zayd berkata: “Ka’aba adalah kiblat Abraham dan Ishmael. Aku tidak menyembah batu-batu dan dan berdoa pada mereka. Aku tidak berkorban pada mereka, juga tidak memakan korban persembahan pada mereka, dan tidak memutuskan nasib dengan anak panah. Aku tak akan berdoa menghadap apapun kecuali Rumah ini sampai aku mati.” Dengan hanya sesaat mengubah arah kiblat ke Yerusalem dalam rangka memikat orang-orang Yahudi ke Islam, Muhammad telah mengikuti ajaran Zayd secara harfiah. Sayang sekali Muhammad menyimpang dalam menyalin kata-kata Zayd secara harfiah. Setidaknya Zayd seorang yang berpikiran jernih.

Di awal, kita telah mengetahui bahwa Qusayy, bukan Abraham, yang menjadi Bapak umat Islam. Sekarang kita belajar bahwa Zayd, dan bukan Muhammad, yang menjadi nabi asli umat Islam —pengarang sesungguhnya surah-surah pertama Qur’an. Sebagai bukti tambahan, mari lihat hal. 270 dari tulisan M.J. Kister “Study of Early Hadith”. Ia menyajikan Tradisi Islam berikut: “Muhammad mengorbankan seekor domba betina untuk salah satu berhala [bertolak belakang dengan klaimnya ‘Aku tak pernah melakukan apapun terkait penyembahan berhala’]. Ia memanggang dan membawanya. Kemudian Zayd ibn Amr bertemu kami di bagian atas lembah. Saat itu adalah hari-hari yang panas di Mekah. Ketika bertemu kami saling memberi salam. Muhammad berkata: ‘Mengapa kulihat engkau, wahai putra Amr, dibenci oleh kaummu?’ Ia berkata, ‘Hal ini terjadi tanpa sadar aku menjadi penyebab kebencian mereka. Aku melihat mereka mempersekutukan alihah (dewa-dewa) dengan Ilah dan aku enggan melakukan hal serupa. Aku hendak menyembah Ilah sesuai agama Abraham.’ Si cikal bakal nabi, berkata, ‘Maukah kau sedikit makanan.’ Zayd berkata, ‘Ya.’ Lantas Muhammad meletakkan dihadapannya daging domba betina. Zayd berkata, ‘Pada siapa kau persembahkan, Muhammad?’ Ia menjawab, ‘Ke salah satu berhala.’ Zayd berkata, ‘Aku tidak menyantap apapun yang dikorbankan pada apapun selain Ilah.’”

Zayd mempraktekkan Islam, menulis apa yang kemudian menjadi kitab suci Qur’an, dan ia seorang monoteis sementara Muhammad sendiri masih seorang pagan. Ini menjadi bukti bahwa Muhammad mendapat inspirasi awalnya dari seorang manusia, bukan tuhan. Muhammad mencuri agama Zayd, sampai ke nuansa gaya puitisnya.

Sekarang kau tahu kebenarannya: Qusayy adalah Bapak umat Islam; Zayd adalah nabinya; skema oleh Qusayy, style oleh Zayd. Muihammad hanya mengambil untung, numpang nama.

http://prophetofdoom.net/Prophet_of_Doom_08_The_Abused_Abuser.Islam

Advertisements
This entry was posted in BAB 8 and tagged , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s